Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Februari 2017 | 10.52 WIB

Jumlah Pengidap Kanker Payudara Terus Meningkat, Distribusi Dokter Onkologi Harus Merata

TIDAK PANDANG USIA: Suasana ruang rawat inap untuk anak-anak yang terus penuh dari berbagai daerah di Jatim dengan berbagai macam jenis kanker di RSUD Dr Soetomo Surabaya. - Image

TIDAK PANDANG USIA: Suasana ruang rawat inap untuk anak-anak yang terus penuh dari berbagai daerah di Jatim dengan berbagai macam jenis kanker di RSUD Dr Soetomo Surabaya.


JawaPos.com – Sejak Agustus tahun lalu, RSUD dr Soetomo ditunjuk sebagai pengampu registrasi untuk penderita kanker. Data yang terkumpul cukup mengejutkan. Selama 2012–2015, ada 76.743 pasien yang meminta layanan pengobatan. Mereka merupakan pengidap kanker payudara.



Data dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan jumlah kunjungan pengidap kanker payudara. Pada 2012 sebanyak 10.881 pasien datang ke RSUD dr Soetomo. Tahun berikutnya, jumlahnya melonjak tajam menjadi 16.056 orang. Selanjutnya, pada 2014, jumlah pasien membengkak menjadi 25.407 orang.



Jumlah pengidap kanker serviks juga mengentak. Selama 2012–2015, total kunjungan pasien mencapai 39.963 orang. Lonjakan paling pesat terjadi pada 2014, yakni 14.685 pasien.



Pergerakan jumlah penderita kanker kini makin diketahui di RSUD dr Soetomo. ”Jumlah pasien kanker makin banyak setelah sistem BPJS Kesehatan diterapkan,” tutur dr Heru Purwanto SpB-Onk, spesialis bedah onkologi RSUD dr Soetomo.



Pendataan tersebut dilakukan RSUD dr Soetomo lantaran Indonesia tidak memiliki jumlah pasti pasien kanker. ”Selama ini ketika ada pertemuan internasional, Indonesia selalu tidak memiliki data jumlah penderita kanker,” jelas Heru. Padahal, klasifikasi penderita kanker sangat dibutuhkan. Tujuannya, mengetahui langkah yang akan ditempuh pemerintah.



Heru mengungkapkan, registrasi tersebut dibagi menjadi dua. Yakni, registrasi berbasis rumah sakit dan registrasi berbasis masyarakat. Nah, rumah sakit yang berada di Jalan Karang Menjangan itu ditunjuk sebagai pengampu registrasi berbasis rumah sakit.



Setiap pasien yang masuk RS tersebut didata menurut jenis kanker yang diidapnya. Bahkan, juga menurut stadium. Hingga sekarang, pengumpulan data masih berlanjut. Heru tidak menargetkan hingga kapan registrasi itu berhenti. Sebab, selama ini rumah sakit masih menangani pasien kanker.



Dalam registrasi itu, dibutuhkan partisipasi masyarakat. Heru berharap para penderita rajin memeriksakan diri. Dengan begitu, kondisi mereka benar-benar terpantau.



Registrasi kanker berbasis rumah sakit tersebut dilakukan dengan mengumpulkan data dari center onkologi di setiap daerah. Kemudian, data itu dikumpulkan di RSUD dr Soetomo. Selanjutnya, data dikirim ke pusat. ”Nanti kementerian memiliki data secara nasional. Mereka juga melakukan pendataan berbasis masyarakat,” jelasnya.



Sementara itu, Wakil Direktur Penunjang Medik RSUD dr Soetomo dr Hendrian D. Soebagjo SpM(K) mengungkapkan bahwa untuk menunjang kesuksesan registrasi kanker, pendistribusian dokter onkologi harus merata. Distribusi yang baik itu akan mempermudah skrining di daerah. ”Di daerah jangkauannya akan semakin banyak,” tuturnya.



Dia mencontohkan, di beberapa literatur dinyatakan bahwa penderita kanker serviks di Indonesia 1:1.000. Namun, di Jawa Timur, sudah terdata penderita kanker serviks 1:100. (lyn/c7/git/sep/JPG)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore