Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Agustus 2024 | 22.20 WIB

Pentingnya CT Scan Toraks Kuantitatif untuk Mendeteksi Risiko Awal Demensia pada Pasien PPOK

Ilustrasi dokter tengah mengamati hasil CT scan pasiennya. (Pixabay)

JawaPos.com – dr. Yopi Simargi, Sp.Rad., Subsp. TR (K), MARS resmi meraih gelar Doktor pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dengan desertasinya yang berjudul “Peran CT Scan Toraks Kuantitatif, HIF-1α, dan Faktor Klinis Terhadap Kejadian Hendaya Kognitif pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik”.

Penelitian ini menunjukkan pentingnya CT Scan Toraks Kuantitatif (CTK) sebagai pemeriksaan tambahan pasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), karena prosedur ini selain mampu mendeteksi lebih awal PPOK, juga dapat memperlihatkan risiko hendaya kognitif (HK) pada pasien PPOK.

Dr. dr. Yopi Simargi, Sp.Rad., Subsp. TR (K), MARS, dokter ahli radiologi subspesialis radiologi toraks menjelaskan dalam sidang terbukanya saat meraih gelar doktor bahwa, “HK merupakan kondisi di antara normal dan demensia, yang kemudian berpotensi berkembang menjadi demensia. PPOK dan demensia berbagi faktor risiko utama, yaitu polusi udara termasuk merokok yang dianggap sebagai polusi udara berat.”

Sebuah studi pada 534 pasien PPOK dengan HK, sebanyak 28,7% telah berkembang menjadi demensia. Hal ini kemudian berhubungan langsung dengan semakin menurunnya kemampuan kognitif mereka, termasuk semakin hilangnya kepatuhan pasien PPOK dengan HK ini untuk melakukan pengobatan rutin mereka. Bukan secara sengaja tidak patuh, melainkan kemampuan kognitifnya yang menurun mengakibatkan pasien sering lupa.”

Intinya, penelitian ini menunjukkan PPOK memiliki pengaruh terhadap kejadian HK. Sehingga, diperlukan CTK untuk menemukan potensi itu lebih awal. Namun di samping itu, yang perlu diperhatikan adalah dampak pada penurunan kemandirian dan kualitas hidup, serta peningkatan

Pasien PPOK dengan HK tentu mengalami penurunan fungsi kognitif, apalagi yang sudah sampai tingkat Demensia. Tantangan terbesarnya adalah mereka kurang patuh pengobatan akibat sering lupa. Maka, awareness dari support system seperti keluarga dan rekan-rekan terdekat sangat dibutuhkan sehingga bisa hadir untuk mengingatkan pasien dalam pengobatannya.

”Edukasi untuk meningkatkan kesadaran dokter, penyedia layananan kesehatan, pengambil kebijakan, dan keluarga pasien perlu dilakukan sehingga tantangan dalam tatalaksana dapat diatasi dengan tepat,” tutupnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore