Ilustrasi: Menulis
JawaPos.com – Menulis menjadi sebuah cara mengungkapkan perasaan yang dirasakan. Dengan menulis, kita bisa bercerita berbagai hal tanpa takut dihakimi maupun disebarkan.
Hal tersebut sering disebut menulis diari. Dalam psikologi dikenal sebagai menulis ekspresif. Menulis ekspresif ialah kegiatan menulis dengan menceritakan atau menarasikan perasaan-perasaan yang dirasakan.
Menulis yang merupakan tindakan katarsis, yaitu suatu tindakan dapat mengekspresikan serta meluapkan emosi yang dirasakan secara bebas agar pikiran dan perasaan menjadi lebih nyaman.
Selain itu, kegiatan sederhana ini dapat menjadi kegiatan yang menyenangkan saat dilakukan dengan perasaan yang bahagia.
Menulis ekspresif ialah kegiatan atau sebuah proses yang memerlukan integrasi dari pikiran, afeksi, dan motorik seseorang.
Kegiatan menulis ekspresif dapat dilakukan dengan menuliskan yang menekankan kepada sesuatu yang sangat emosional secara bebas, tanpa memerhatikan jenis tulisan maupun tata bahasa.
Ketika seseorang menulis secara ekspresif mengenai perasaannya terhadap suatu kejadian, maka hal yang akan dirasakannya kembali adalah perasaan yang dirasakannya saat itu, penilaiannya terhadap kejadian itu, serta pikiran yang mengarahkannya pada persepsi baru.
Menulis ekspresif dapat menurunkan kecemasan. Dengan menulis pengalaman traumatik, stres, atau emosional dapat memperbaiki kesehatan fisik dan psikologis.
Baca Juga: Tentang Menulis Liyan
Selain itu, menulis dapat digunakan sebagai intervensi jangka pendek bagi orang dengan gejala stres, kecemasan, dan depresi.
Menuliskan kata-kata menjadi strategi membantu diri sendiri untuk melakukan penyesuaian dengan stres. Kekuatan kata membuat jiwa berdaya, hari-hari berwarna, sehingga hidup terasa lebih bermakna.
Menulis bukan sekadar cara mengungkapkan emosi tetapi juga bagaimana meningkatkan kesadaran diri. Perhatian ke dalam diri sendiri dapat lebih sadar akan sifat, perilaku, perasaan, keyakinan, nilai, dan motivasi yang dimiliki. Pada akhirnya, dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mendorong untuk lebih menerima orang lain.
Kegiatan sederhana ini dapat menyembuhkan seseorang yang memiliki luka emosional, seperti sedang sakit berat, korban dari pelaku kejahatan kekerasan, atau seseorang yang tengah beradaptasi di lingkungan baru.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
