
Pohon kopi di lahan Perum Perhutani, Kendal, Jateng. (Dok. Pribadi)
PADA abad lalu, nama secangkir kopi di Amsterdam diganti menjadi, “Cup of Java,” karena sangat terkenal. Dipetik di ladang- ladang rakyat sepanjang Jawa, Sumatera, dan pulau lain. Lalu, sejarah ekonomi kopi rakyat, lindap sudah. Hampir lenyap lalu perlahan bangkit. Bisakah Perhutani ambil bagian dalam peta ekonomi ke depan?
Lalu, Selasa (3/3/2026) di Kendal, Jateng, saya diberi beberapa bungkus kopi yang diproduksi Rimba Jaya. Mereknya, Kopi Janten Sari. Inilah hasil dari ladang kopi lahan Perhutani di sana.
Di bawah pokok-pokok Jati nan menjulang ke awang-awang ditanam berrmacam hal seperti kopi, jagung dan tanaman cepat panen lainnya. Para petani berhimpun dalam banyak Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMHD). Ini lembaga masyarakat tepi hutan dibentuk dengan prakarsa Perhutani. Mereka diminta untuk bisa memanfaatkan hamparan hutan agar ekonomi bergerak. Dan: mengamankan, dan memanfaatkan hutan secara lestari.
Pengembangan kopi dalam kawasan hutan Perum Perhutani memang dilakukan petani dengan pola agroforestri. Optimalisasi lahan hutan dengan tanaman non-pohon dan/atau hewan ini untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengubah fungsi utama pemanfaatan hasil hutan kayu.
Saya periksa kopi 100 gram dengan kemasan warna keemasan ini. “Excelsa, 100 persen terbuat dari biji kopi asli.” Diracik oleh petani sepenuh hati di Kedungsari, Singaraja, Kendal.
Perhutani menanam kopi arabica, robusta, dan liberica. Zaman Belanda Liberica merupakan kopi jenis “baru,” setelah ladang kopi di Afrika dan Sumatra Westkust diserang “kopi malam.”
Inilah hama kerat daun. Tahun-tahun medio 1800, hama itu terus menyerang, sedemikian ganasnya. Keindahan ladang kopi pun surut, suram dan membuat negara induk, Belanda, pusing tujuh keliling, karena pasokan kopi dari negeri koloni menurun tajam, sementara pasokan kopi dari negeri lain sudah lama disetop. Bukankah di Belanda, nama kopi sudah diubah menjadi Cup of Java?
Lalu Pada abad baru 1900, ada sebuah laporan menyebut, “kopi malam,” untuk melukiskan, jika sebelum ini biji kopi berwarna merah ceriah, sekarang kuning pucat.
Inilah penyakit yang menyebabkan daun kopi mengkerut, lalu buahnya kuning hambar tak berbentuk. Maka, dibawalah ke Indonesia bibit baru yang sekarang dikenal dengan nama Liberica. Dulu namanya Liberia. Pada 1903 misalnya, dalam statistik kopi, Semarang mengirim javakoffie 2.400 pikul dan iberia koffie 5.426 pikul. Pada 1904 dicatat 1.200 dan 6.524 pikul.
Kopi di Jawa terutama di Jawa Barat sekarang, merupakan kisah panjang. Komandan Pasukan VOC di Pantai Malabar, Adrian Van Ommen yang sedang berada di Cochin, tak jauh benar dari Kerala, sisi tanduk anak Benua India arah ke Laut Arab, tanpa berkedip mambaca surat dari Walikota Amsterdam, Nicholas Witsen.
Surat itu dibawa dari jantung termahal Belanda, disimpan dalam sebuah peti terkunci. Surat telah berlayar dari Amsterdam melewati Kanal Inggris, melintas di laut di depan tanduk kecil Spanyol, dan Portugal. Kemudian “hanyut” ke laut lepas Samudera Atlantik, untuk seterus menyisir lepas pantai Afrika hingga ke Tanjung Pengharapan. Dari sana, kapal seperti berbalik pulang, tapi melewati laut yang lain, Samudera Hindia, lalu menusuk tajam ke Malabar. Berhenti di negeri orang, negeri asing: India.
Lalu terus ke Batavia. Ditanam pertama kali di sana, sebuah kawasan yang kemudian diberi nama Pondok Kopi, Jakarta.
Perhutani penjaga hutan Jawa, profesionalitasnya dimulai dari zaman Belanda. Tak ada di pulau lain, hutan dan mata air yang dijaga sehebat di Jawa. Dan, itu oleh Perhutani.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
