
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Jika dulu Nabi Muhammad dan pengikutnya harus berpuasa dalam keterpaksaan akibat pemboikotan Quraisy, kini jutaan rakyat Indonesia mengalami hal serupa. Jika Gandhi menggunakan puasa sebagai bentuk protes damai melawan kolonialisme, kini rakyat Indonesia terpaksa ”berpuasa” untuk bertahan hidup di tengah kebijakan negara yang tidak adil.
Perlawanan terhadap ketidakadilan tidak harus dalam bentuk kekerasan, tetapi bisa melalui solidaritas dan kesadaran kolektif. Sejarah telah menunjukkan bahwa puasa –baik sebagai praktik spiritual maupun sebagai bentuk perlawanan– dapat menjadi simbol ketahanan moral dan perjuangan melawan penindasan.
Apakah kita, rakyat Indonesia, akan terus dipaksa ”berpuasa” dalam kemiskinan, ataukah kita akan menggunakan kesadaran ini untuk menuntut perubahan yang lebih adil? (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
