Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Februari 2025 | 21.16 WIB

Seandainya Pramoedya Ananta Toer Hadir di Masa Kini

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Bila Pramoedya Ananta Toer masih hidup di usia seratus tahun, ia akan menjadi saksi skeptis terhadap klaim kemajuan bangsa. Di tengah selebrasi nasionalisme yang penuh dengan kebanggaan atas pencapaian ekonomi, ia akan meminta kita berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang sebenarnya telah kita capai? Lebih penting lagi, apa yang telah kita abaikan?

INDONESIA hari ini menyebut dirinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Gedung pencakar langit, jalan tol, dan mal-mal besar sering dipamerkan sebagai bukti keberhasilan. Namun, semua itu menyisakan bayangan ketimpangan yang jarang dibicarakan. Siapa yang membayar harga untuk kemegahan ini? Mereka yang kehilangan tanahnya demi proyek pembangunan, yang bekerja tanpa jaminan di pabrik-pabrik, atau yang diabaikan oleh sistem yang lebih peduli pada angka pertumbuhan ekonomi daripada keadilan sosial.

Pramoedya akan mengingatkan kita bahwa masalah ini bukanlah hal baru. Struktur penindasan yang dulu ia lawan tetap hidup dalam bentuk lain. Kolonialisme fisik mungkin telah berlalu, tetapi kolonialisme ekonomi, sosial, dan epistemologis masih bertahan. Ketergantungan pada investasi asing, eksploitasi tenaga kerja murah, dan pengabaian terhadap hak-hak masyarakat adat adalah pola lama yang berulang dalam kemasan baru. Bangsa ini mungkin telah merdeka secara politik, tetapi ia tetap terjajah dalam pikiran dan struktur sosialnya.

Namun, ketidakadilan ini bukan sekadar masalah domestik. Dunia global tempat kita hidup telah dirancang untuk memperkuat ketimpangan. Negara-negara maju terus mendikte arah ekonomi global, sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia tetap terjebak sebagai pemasok bahan mentah dan tenaga kerja murah. Ketika istilah seperti perdagangan bebas dan investasi asing dilemparkan, kita sering lupa bahwa semua itu sering kali berarti memperbesar ketergantungan pada kekuatan-kekuatan global.

Persoalan ini tidak hanya terletak pada hubungan internasional. Elite domestik di Indonesia bukan sekadar membiarkan ketidakadilan bertahan, tetapi sering kali menjadi aktor utama yang memperkuatnya. Para pemimpin yang seharusnya melindungi rakyat justru berkompromi dengan kepentingan modal besar, mengorbankan masa depan bangsa demi keuntungan jangka pendek. Jika Pramoedya hidup di usia 100 tahun, ia akan menyebut ini sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan.

Namun, persoalan tidak berhenti pada siapa yang memegang kekuasaan, tetapi juga bagaimana kekuasaan itu diorganisasi. Demokrasi di Indonesia lebih sering menjadi ritual daripada realitas. Pemilu rutin digelar, tetapi manfaatnya lebih dirasakan oleh elite politik dan ekonomi daripada rakyat kecil. Suara rakyat, yang selama pemilu dianggap penting, kembali diabaikan setelah hari penghitungan suara. Stabilitas ekonomi terus dijadikan prioritas, sementara keadilan sosial dikesampingkan, membuat demokrasi kita kehilangan maknanya.

Pramoedya, bila hadir di tengah situasi ini, akan menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia tidak hanya dirusak oleh elite dari atas, tetapi juga oleh polarisasi di tingkat masyarakat. Media sosial memperparah keadaan, membuat orang-orang lebih sibuk saling menyerang daripada menantang struktur ketidakadilan yang nyata. Dalam era digital yang dikendalikan oleh algoritma, fokus kita bergeser dari persoalan fundamental ke skandal politik yang berumur pendek. Kekuasaan saat ini tidak hanya dijalankan melalui senjata dan uang, tetapi juga melalui manipulasi narasi dan informasi.

Namun, Pramoedya, seperti biasanya, tidak akan berhenti pada kritik. Ia akan mengajak kita menggali akar masalah, bukan sekadar menangani gejalanya. Sejarah, ia akan mengingatkan, bukan hanya cerita tentang masa lalu, tetapi arena konflik yang terus berlangsung. Narasi sejarah sering kali dirancang untuk menguntungkan kekuasaan. Kita mendengar cerita tentang kemenangan dan kebesaran, tetapi jarang tentang pengkhianatan, kekalahan, atau pengorbanan mereka yang tertindas. Pramoedya akan menegaskan bahwa sejarah tidak hanya tentang apa yang diingat, tetapi juga tentang apa yang dengan sengaja dilupakan.

Pramoedya, jika hidup hari ini, mungkin akan kecewa pada generasi yang lebih sibuk merayakan pencapaian simbolis daripada melakukan refleksi mendalam. Namun, ia juga akan melihat harapan. Ia akan menyaksikan generasi muda yang semakin sadar akan pentingnya keadilan sosial, menggunakan media digital untuk memperjuangkan isu lingkungan, hak asasi manusia, dan hak-hak buruh. Ia akan melihat solidaritas lintas bangsa yang, meski rapuh, tetap hidup dalam gerakan melawan eksploitasi global.

Namun, Pramoedya akan mengingatkan bahwa perjuangan sejati tidak bisa hanya berada di tingkat global. Perubahan selalu dimulai dari lokal –dari komunitas kecil, dari individu yang berani bicara meski diancam, dari mereka yang menulis ulang sejarah di tengah dominasi narasi kekuasaan. Ia akan menuntut lebih dari sekadar kritik: ia akan meminta kita untuk membangun, menciptakan, dan memberi ruang bagi narasi alternatif.

Bila Pramoedya hadir di usia ke-100, ia akan menjadi suara yang tidak nyaman –bagi pemerintah, elite, bahkan masyarakat yang nyaman dengan status quo. Tetapi, ia juga akan menjadi suara yang paling dibutuhkan: suara yang mengingatkan bahwa kebebasan tidak pernah diberikan secara cuma-cuma. Kebebasan harus diperjuangkan, dengan keberanian, pemahaman yang mendalam, komitmen tanpa kompromi, dan kemampuan untuk melihat di luar permukaan realitas. (*)

---

VIRDIKA RIZKY UTAMA, Direktur eksekutif PARA Syndicate dan dosen Hubungan Internasional President University

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore