Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 Januari 2025 | 16.29 WIB

Perlawanan Sang Presiden

ILUSTRASI. (JAWA POS)

Karya Hardi dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia pada 9 sampai 28 Januari 2025. Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuka pergelaran Jejak Perlawanan Sang Presiden 2001 dalam upacara besar.

DALAM buku Hardi, Membangun Jembatan Hati (Studio Hardi, 1998), Mikke Susanto menulis: ”Hardi beranggapan bahwa seni lukis itu memiliki arti yang luas. Pertama, sebagai wadah dari gejolak romantika. Kedua, sebagai penyuara hati nurani masyarakat. Ketiga, sebagai penyambung silaturahmi. Keempat, sebagai cerminan dari kehidupan pribadi pelukisnya sendiri” (halaman 23).

Untuk yang pertama, Hardi pernah melukis perempuan di balik jendela, di bawah sinar rembulan. Karya berjuluk Wanita Ayu (1998) itu memancarkan impuls manusiawi Hardi yang sedang terpana seorang gadis cantik berbusana Bali. ”Kelahiran lukisan juga didorong lagu Purnama Oma Irama, yang kebetulan aku suka.”

Untuk yang kedua, Hardi pernah melukis Penjual Koran Dikejar-kejar Polisi (1987). Selembar lukisan yang berisi rasa marahnya kepada aparat penertiban yang ”tanpa hati nurani” mengejar anak-anak miskin yang menjual koran di jalanan. ”Salah satu anak itu masih bertopi sekolah, berbaju putih, bercelana merah maroon. Ia mencari penghidupan demi meneruskan jenjang ajar. Mengapa harus dikejar-kejar?”

Yang ketiga tercontohkan dalam lukisan Pram – Pujangga Bangsa (1995). Lukisan ini menggambarkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang biasanya berwajah gusar sedang sedikit tersenyum sambil memainkan wayang. Hardi tahu bahwa Pram adalah penulis dari Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), institusi yang diberangus pada era Orde Baru. Hardi ingin melunakkan tindakan politis itu. ”Dengan lukisan ini mungkin buku-buku Pak Pram akan diperbolehkan dibaca masyarakat luas,” ujarnya.

Yang keempat tampak pada serial lukisan Hardi naik haji, seperti Ta’waf Qudhum dan Ta’waf Gembira (2016). Lukisan-lukisan itu adalah refleksi dari keluruhan hatinya ketika berada di Makkah, saat berhadapan dengan Kakbah. ”Setiap terharu aku melukis itu, sampai banyak jumlahnya. Dan astaga...lukisan itu laku pula,” katanya.

Sebagai pelukis yang dipenuhi berbagai hasrat, Hardi menyusuri banyak tema. Ia bahkan perupa yang mau dan bisa melintas-lintas ke mana-mana, jauh lebih banyak dari kategori yang ia ungkapkan itu.

Hardi, atau Haji Hardi, atau Kanjeng Pangeran Hardi Danuwidjojo, atau Raden Soehardi Adimaryono (1951–2023), adalah tokoh kesatria dan sekaligus tokoh ”goro-goro” dalam seni rupa Indonesia. Ia seperti Bima yang suka marah dalam cerita Pandawa Lima. Ia juga seperti Petruk dalam episode ”ger-geran kritis di tepi jurang” para punakawan di pertunjukan wayang kulit. Kehadirannya mengajak dunia seni rupa Indonesia untuk selalu bergerak dalam kehebohan dan kejutan.

Sejak berkiprah dalam dunia seni rupa tahun 1970, Hardi memang berusaha kocak, namun sangat serius, dan selalu ingin menonjol di depan. Sebagai lelaki yang merasa mewarisi semangat Bung Karno, Hardi mengharuskan diri untuk berani mati. Itu sebabnya ia membuat seni grafis cetak saring berjudul Presiden RI Tahun 2001: Suhardi. Ia mengaku, keberaniannya untuk menggubah karya itu diilhami oleh karya cetak saring Andy Warhol bertema Mao Tse Tung yang ia lihat di De Doom Gallery, Heerlen, Belanda.

Pada 1979 cetak saring Presiden RI 2001: Suhardi dipamerkan. Di belakang ruang pameran muncul bisik-bisik bahwa karya itu menyindir pemerintah Indonesia, yang tidak bosan-bosannya mempertahankan presiden yang itu-itu saja. Soeharto, maksudnya. Hardi pun ditangkap oleh aparat dan lantas dimasukkan bui.

Karya grafis ini juga dipamerkan dalam pergelaran yang sekarang, bahkan jadi fokus kurasi yang dikerjakan oleh Dio Pamola C. Jadi backdrop para pemidato saat pembukaan dan menjadi spot foto yang Instagrammable bagi ratusan pengunjung pameran yang datang.

Hardi memang figur seni rupa yang tak habis-habisnya mewarnai seni rupa Indonesia. Setelah sejenak bermukim di Bali dan Surabaya, pada 1971 ia masuk STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) ”Asri” di Jogjakarta. Pada periode ini ia melukis abstrak.

Pada 1973 ia punya kesadaran baru: kesenian tidak boleh lepas dari gelora poleksosbud (politik, ekonomi, sosial, budaya) masyarakat. Itu sebabnya pada 1974 ia memprotes keras Biennale Seni Lukis Jakarta di Taman Ismail Marzuki, yang memenangkan lukisan-lukisan yang bercorak sekadar dekoratif dan berkonten non-poleksosbud. Akibatnya, Hardi diskors oleh STSRI ”Asri”.

Hardi beruntung. Di tengah kegalauan skors, ia mendapat tawaran studi ke Jan Van Eijck Academie, Maastricht, Belanda, pada 1975. Sepulang ke Indonesia tahun 1977 ia mengadakan ”gerakan seni kartupos foto berlukis”. Gambar kartupos ini selalu menggambarkan keadaan sosial Indonesia yang ”tidak baik-baik saja”. Atas penerbitan itu ia berkata: ”Jauhkan seni rupa dari penyakit mati rasa. Bangunkan masyarakat yang mengkerut dengan seni yang menghasut!” Maka lukisannya yang dikerjakan di depan gedung DPR sebagai bentuk protes juga dipajang dalam pameran.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore