
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Film Indonesia yang ke-India-India-an boleh dikata telah habis di awal ’90-an, ketika Rhoma membuat film terakhirnya, Tabir Biru (1993). Namun, secara bersamaan gelombang baru dari India menyapu televisi kita, yang berpuncak pada mania massa pada dongeng cinta Kuch Kuch Hota Hai (KKHH, 1998), dan lebih khusus lagi pada wajah memelas Shah Rukh Khan. KKHH mungkin tak berdaya menghadapi AADC (2002) dan karena itu tak memberi dampak di bioskop, tapi after taste-nya masih terus ngendon di televisi kita hingga hari ini (lebih jauh, silakan baca Bettina David, 2008).
***
Jadi, sekali lagi, apakah arus memang telah berbalik?
Perkembangan teknologi hiburan telah mengubah sinema, proses produksinya, persebarannya, dan cara orang menikmati dalam taraf yang sulit dijelaskan. Berubahnya percaturan dunia, secara ekonomi maupun politik, membuatnya lebih kompleks lagi. Hanya dalam dua dekade semua sudah sepenuhnya berbeda.
Hollywood mungkin masih akan terus menguasai pasar; bagaimanapun di sanalah uang berada. Tapi, kita tahu, mereka sudah kepayahan dengan film-film waralaba yang begitu-begitu saja. Yang lebih jelas, kini mereka bukan satu-satunya pusat dunia.
Perfilman Hongkong yang dulu begitu jagoan secara artistik maupun industri seperti amblas begitu negara-kota ini dikembalikan Inggris kepada Tiongkok pada 1997. Secara bersamaan, film Korea (Selatan) tiba-tiba muncul dari kekosongan sebagai raksasa baru. Tak hanya di kawasan, tapi secara global.
Dalam kondisi seperti inilah saya kira para sineas maupun penonton Bollywood tak bisa lagi mengurung diri dengan khazanah dan cita rasa lama mereka. Sembari terus mencari (lagi) formula yang sukses besar seperti KKHH, mereka dipaksa mengadopsi gaya dar-der-dor dari sinema Selatan yang memang lebih ampuh. Dan setelah 15 tahun terakhir mereka menyontek film-film triller Korea, tiba masanya mereka akhirnya terpaksa belajar bikin film berantem ala Indonesia.
Ya, tentu saja, kita boleh merasa bangga mendapati Bollywood mengambil pengaruh dari sinema kita –sebagaimana kita juga bangga melihat Yayan Ruhian menghajar John Wick atau saat Iko Uwais nongol di Star Wars. Setidaknya, dalam perspektif yang lebih personal, saya akhirnya melihat bahwa tatapan yang sebelumnya hanya searah itu kini berbalas. Dalam satu-dua hal, kini kita sepadan.
Pada saat bersamaan, saya rasa ini juga menjadi kesempatan untuk menatap sinema India lebih baik lagi. Jika selama ini yang kita tatap, dan kita tahu, hanya Bollywood, kita menjadi tahu India punya sinema yang luar biasa beragamnya, juga kaya. Dari film-film Rajamouli (Telugu) atau Lokesh Kanagaraj (Tamil), kita bisa belajar betapa film-film besar bisa digali dari khazanah sendiri. Dari sinema Malayalam kita bisa tahu bahwa kisah-kisah yang dekat dan membumi tak dibenci penontonnya. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
