
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Pada awal 2000-an, 90 persen lebih film-film Malayalam yang beredar dibintangi oleh hanya tiga nama, yaitu Mohanlal, Mammootty, dan Dileep. Para bintang ini, yang biasanya sekaligus produser dan/atau pemilik jaringan bioskop, mencipta sistem kartel yang buruk. Sampai sebuah gelombang sinema baru muncul di dekade berikutnya.
Tahun 2011 film Adaminte Makan Abu karya sutradara Salem Ahamed rilis. Berkisah tentang seorang muslim miskin yang ingin naik haji, Adaminte terpilih mewakili India di ajang Oscar. Ini jadi yang pertama bagi sinema Malayalam.
Adaminte hanya beredar di festival dan gagal di pasaran. Namun, di tahun yang sama sinema Malayalam menghasilkan beberapa film yang dianggap mampu menjembatani kecenderungan artistik dan kebutuhan pasar secara bersamaan. Film-film tersebut adalah Traffic (std Rajesh Pillai), City of God (Lijo Jose Pellissery), Salt N’ Pepper (Aashiq Abu), dan Chaappa Kurishu (Sameer Thahir). Para sutradara ini, terutama Lijo Jose dan Aashiq Abu, nantinya menjadi nama-nama penting bagi sinema Malayalam sedekade kemudian.
Namun, pengubah permainan sesungguhnya adalah Drishyam (2013) karya Jeethu Joseph. Drisyham bercerita tentang bapak-bapak Kristen biasa yang melawan seorang Kapolda dan mengecoh seluruh dunia untuk melindungi keluarganya. Tak hanya mencipta rekor film terlaris sepanjang sejarah sinema mereka, film ini juga memaksa dunia untuk lebih serius menengok film-film yang dihasilkan Kerala.
Ketika Bollywood digerogoti oleh sejenis nasionalisme yang cupet dan garang, sementara film-film Tamil dan Telugu dipenuhi para jagoan bernyawa sembilan, mobil beterbangan, dan tarian ekstravagan, sinema Malayalam terus saja membuat kejutan dengan film-film yang mengeksplor kisah-kisah biasa tentang orang-orang biasa dalam cara luar biasa.
Film-film seperti Bangalore Days (2014), Premam (2015), Angamaly Diaries (2017), Sudani from Nigeria (2018), Jallikattu (2019), Ayyappanum Koshiyum (2020), Halal Love Story (2020), Minnal Murali (2021), The Great Indian Kitchen (2021), dll, tak hanya menyegarkan, tapi juga memberikan wajah yang sama sekali berbeda atas apa yang selama ini dipersepsi sebagai ”film India”.
***
Hingga kolom ini ditulis, film-film Mammootty dan Mohanlal yang biasanya berbujet besar masih tetap mendominasi box office di Kerala. Namun, kini sinema Malayalam jauh dari sekadar tentang mereka.
Wajah-wajah baru tak habis-habis dan terus mengejutkan. ”Kok bisa orang seperti ini jadi bintang film” adalah keheranan yang lazim saat Anda menonton film-film Malayalam.
Fahadh Faasil terlihat tetangga kontrakan yang mencurigakan. Soubin Shahir adalah teman nongkrong yang kopinya kita bayar. Parvathy adalah tipikal gadis LSM yang hadir di diskusi tentang HAM dan perempuan. Anna Ben tak berbeda dengan gadis Flores manis yang kita lihat di kampus-kampus Katolik di Jogja.
Dan mereka menjadi lebih tampak biasa karena mereka muncul di film-film yang menyajikan kisah-kisah biasa dari orang-orang biasa yang mungkin ada di sekitar kita. Misal, tentang pemain sepak bola asing telantar yang dirawat ibu-ibu pengajian. Atau sekelompok takmir masjid yang membuat film cinta Islami. Atau tentang empat bersaudara broken home akibat ditinggal ibunya jadi biarawati. Atau tawuran dua geng kecamatan memperebutkan lapak daging babi. Atau kerbau lepas yang mengacaukan satu desa.
Di film-film Malayalam kita bisa temukan kebun-kebun karet dan merica, juga remaja yang main bola dengan kaus Milan atau Barca, atau gadis cilik yang salim ke ibunya untuk berangkat ke TPA, dan hal-hal lain yang amat akrab dengan kita. Hal-hal yang kadang luput di film kita sendiri. (*)
Baca Juga: Kebudayaan Politik Jusuf Wanandi
MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
