Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 September 2024 | 14.34 WIB

Kerala dan Sinema Orang Biasa

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Pada awal 2000-an, 90 persen lebih film-film Malayalam yang beredar dibintangi oleh hanya tiga nama, yaitu Mohanlal, Mammootty, dan Dileep. Para bintang ini, yang biasanya sekaligus produser dan/atau pemilik jaringan bioskop, mencipta sistem kartel yang buruk. Sampai sebuah gelombang sinema baru muncul di dekade berikutnya.

Tahun 2011 film Adaminte Makan Abu karya sutradara Salem Ahamed rilis. Berkisah tentang seorang muslim miskin yang ingin naik haji, Adaminte terpilih mewakili India di ajang Oscar. Ini jadi yang pertama bagi sinema Malayalam.

Adaminte hanya beredar di festival dan gagal di pasaran. Namun, di tahun yang sama sinema Malayalam menghasilkan beberapa film yang dianggap mampu menjembatani kecenderungan artistik dan kebutuhan pasar secara bersamaan. Film-film tersebut adalah Traffic (std Rajesh Pillai), City of God (Lijo Jose Pellissery), Salt N’ Pepper (Aashiq Abu), dan Chaappa Kurishu (Sameer Thahir). Para sutradara ini, terutama Lijo Jose dan Aashiq Abu, nantinya menjadi nama-nama penting bagi sinema Malayalam sedekade kemudian.

Namun, pengubah permainan sesungguhnya adalah Drishyam (2013) karya Jeethu Joseph. Drisyham bercerita tentang bapak-bapak Kristen biasa yang melawan seorang Kapolda dan mengecoh seluruh dunia untuk melindungi keluarganya. Tak hanya mencipta rekor film terlaris sepanjang sejarah sinema mereka, film ini juga memaksa dunia untuk lebih serius menengok film-film yang dihasilkan Kerala.

Ketika Bollywood digerogoti oleh sejenis nasionalisme yang cupet dan garang, sementara film-film Tamil dan Telugu dipenuhi para jagoan bernyawa sembilan, mobil beterbangan, dan tarian ekstravagan, sinema Malayalam terus saja membuat kejutan dengan film-film yang mengeksplor kisah-kisah biasa tentang orang-orang biasa dalam cara luar biasa.

Film-film seperti Bangalore Days (2014), Premam (2015), Angamaly Diaries (2017), Sudani from Nigeria (2018), Jallikattu (2019), Ayyappanum Koshiyum (2020), Halal Love Story (2020), Minnal Murali (2021), The Great Indian Kitchen (2021), dll, tak hanya menyegarkan, tapi juga memberikan wajah yang sama sekali berbeda atas apa yang selama ini dipersepsi sebagai ”film India”.

***

Hingga kolom ini ditulis, film-film Mammootty dan Mohanlal yang biasanya berbujet besar masih tetap mendominasi box office di Kerala. Namun, kini sinema Malayalam jauh dari sekadar tentang mereka.

Wajah-wajah baru tak habis-habis dan terus mengejutkan. ”Kok bisa orang seperti ini jadi bintang film” adalah keheranan yang lazim saat Anda menonton film-film Malayalam.

Fahadh Faasil terlihat tetangga kontrakan yang mencurigakan. Soubin Shahir adalah teman nongkrong yang kopinya kita bayar. Parvathy adalah tipikal gadis LSM yang hadir di diskusi tentang HAM dan perempuan. Anna Ben tak berbeda dengan gadis Flores manis yang kita lihat di kampus-kampus Katolik di Jogja.

Dan mereka menjadi lebih tampak biasa karena mereka muncul di film-film yang menyajikan kisah-kisah biasa dari orang-orang biasa yang mungkin ada di sekitar kita. Misal, tentang pemain sepak bola asing telantar yang dirawat ibu-ibu pengajian. Atau sekelompok takmir masjid yang membuat film cinta Islami. Atau tentang empat bersaudara broken home akibat ditinggal ibunya jadi biarawati. Atau tawuran dua geng kecamatan memperebutkan lapak daging babi. Atau kerbau lepas yang mengacaukan satu desa.

Di film-film Malayalam kita bisa temukan kebun-kebun karet dan merica, juga remaja yang main bola dengan kaus Milan atau Barca, atau gadis cilik yang salim ke ibunya untuk berangkat ke TPA, dan hal-hal lain yang amat akrab dengan kita. Hal-hal yang kadang luput di film kita sendiri. (*)

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore