Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 September 2024 | 17.22 WIB

Kebudayaan Politik Jusuf Wanandi

BANYAK SISI: Jusuf Wanandi (tengah) punya kepedulian pada dunia seni. (DOKUMENTASI AGUS DERMAWAN) - Image

BANYAK SISI: Jusuf Wanandi (tengah) punya kepedulian pada dunia seni. (DOKUMENTASI AGUS DERMAWAN)

Di tengah perayaan Hari Kemerdekaan Ke-79 Republik Indonesia bulan lalu, Penghargaan Achmad Bakrie XX diberikan kepada politikus Jusuf Wanandi, yang sesungguhnya juga budayawan.

UNTUK tahun 2024, Penghargaan Achmad Bakrie XX dianugerahkan kepada lima orang. Yakni, sastrawan Zamawi Imron, ahli sains dan teknologi Afriyanti Sumboja, ahli kesehatan dokter Harapan, ilmuwan muda Grandprix Thomryes Mart Kadja, dan pemikir politik (sosial) Jusuf Wanandi.

Tentu ketokohan lima figur di atas amat layak diceritakan. Namun, apabila memetik salah satu, Jusuf Wanandi adalah pilihan. Bukan lantaran ia terbilang paling ternama dengan halaman pengabdian yang lebih dari enam dasawarsa. Lebih dari itu ia adalah: tokoh tertua.

Jusuf Wanandi (Liem Bian Kie) yang dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, memang sudah berusia 87 tahun. Namun, meski sangat sepuh, gerak tubuhnya tetap sigap dan cepat. Suaranya tetap nyaring tinggi dan pikirannya tak henti menjadi-jadi. Banyak orang yang bertanya, apa obat untuk mencapai keprimaan seperti itu. Ia pun memberi resep: olahraga! ”You tahu, sedari muda gua main tenis.”

Tapi, selain berolahraga –ini yang jarang diceritakan– ia juga tak henti berolah karsa (mengolah daya pikir dan daya kehendak untuk kemaslahatan) serta berolah rasa (mengelola batin dan jiwa untuk kehalusan dan kebajikan).

Olah karsa ia implementasikan ke dalam kegiatan sosial politik. Sejak 1960-an kehidupan Jusuf memang tak bisa dilepaskan dari politik. Ia salah seorang tokoh muda yang menyeru Soekarno untuk mengakhiri kekuasaannya yang panjang. Ia salah seorang yang meluruskan jalan politik pembangunan pemerintahan Soeharto lewat CSIS (Center for Strategic and International Studies) yang ia dirikan pada 1971. Ia ikut menggagas pembebasan tahanan politik PKI atas nama kemanusiaan dan hak asasi manusia. Bahkan, pada akhir-akhir ini ia ikut mengkritik keras petinggi negara plus keluarganya yang berupaya melakukan penguasaan atas Indonesia.

Atas hal itu, ia mengingatkan kebenaran ungkapan kuno, plenus venter non studet libenter. Artinya, dengan perut yang terlampau kenyang, seseorang akan sukar untuk belajar apa pun.

Jusuf adalah tokoh yang mendapat banyak pengakuan.

”Jusuf Wanandi adalah intelektual yang mencintai negara Indonesia di atas segalanya, dengan pikiran sosial politik yang selalu berangkat dari konsep keberagaman,” tulis Paul Wolfowitz dalam buku memoar Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965–1998. Kita ingat, Paul pernah menjadi duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, wakil menteri pertahanan Amerika Serikat, dan presiden Bank Dunia.

Sementara jagat olah rasa oleh Jusuf ditampakkan pada aktivitasnya dalam seni rupa. Sejak puluhan tahun silam, Jusuf adalah pencinta seni lukis tak terperikan. Setelah belajar seluk-beluk seni kepada para ahli, ia pun menjadi kolektor. Sehingga di kediamannya, di rumah sejumlah sahabatnya, termasuk di kantornya, bergantungan lukisan bermutu tinggi koleksinya. Dari karya Miguel Covarrubias, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Adolfs, Wahdi Sumanta, Imandt, Dullah, Nyoman Lempad, Affandi, Lee Man Fong, Sudjojono, hingga Arie Smit. Pada sisi lain, Jusuf aktif menstimulasi semangat para seniman untuk terus berkarya. Ia juga promotor seni rupa sejak 1980-an.

Lukisan Hendra Gunawan yang jadi koleksi Jusuf Wanandi. (DOKUMENTASI AGUS DERMAWAN)

Pada 1984 Jusuf diangkat sebagai gubernur East-West Center yang bermarkas di Honolulu, Hawaii. Di sini ia tak hanya mengurus politik, tetapi juga kebudayaan dan kesenian. Ia kembali menjadikan mural ”Wisdom of the East” (garapan Affandi, Kartika, Sapto Hudojo, dan Jean Charlot) yang terpajang di Jefferson Hall sebagai titik pandang masyarakat internasional. Pada kurun ini Jusuf juga mendatangkan para seniman Indonesia untuk unjuk prestasi di sana. Pameran lukisan Bali yang mengusung koleksi Museum Neka dari Ubud –disertai demonstrasi melukis tradisional– adalah salah satunya.

Syahdan, pada suatu kurun Jusuf melihat kenyataan betapa seni lukis tradisional Bali terpuruk ke titik nadir gegara ketiadaan pembeli. Ini akibat bom Bali di Kuta pada 2002 dan 2005, yang mengakibatkan para wisatawan takut mengunjungi Bali selama beberapa tahun. Padahal, wisatawan internasional adalah pembeli utama seni lukis tradisional Bali. Krisis pasar tersebut mengakibatkan ratusan pelukis alih pekerjaan menjadi pegawai hotel, restoran, toko, petani, dan tukang batu.

Perasaan Jusuf terguncang. Ia lantas menggagas Gerakan Bali Bangkit. Gerakan yang didorong sejumlah pencinta seni ini bertujuan menarik minat kolektor domestik (Indonesia) untuk mencintai seni lukis tradisional Bali. Pameran besar lukisan tradisional Bali pun secara kontinu diadakan di Jakarta dan Bali. Buku-buku lukisan Bali generasi lama dan generasi baru diterbitkan. Bali Bangkit Art Award diberikan kepada pelukis tradisional yang kreatif dan produktif. Bersamaan dengan itu, para kolektor Indonesia yang hanya mengoleksi seni lukis modern diimbau, dirayu, dan ”dipaksa” mengoleksi lukisan tradisional Bali.

Hasilnya nyata. Pasar berdenyut. Ratusan pelukis kembali bekerja di studionya. Artshop dan galeri kembali dipenuhi lukisan tradisional. Ketika arus wisatawan pulih, jagat lukisan tradisional Bali lantas memiliki dua penggemar: kolektor internasional dan kolektor domestik. Atas jasa ini, Jusuf lantas diganjar Visual Arts Award pada 2011 dan dipredikati sebagai Penggerak Utama Seni Rupa Indonesia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore