Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Juni 2024 | 20.41 WIB

Kairos dan Putus Asanya Kekuasaan

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Lalu, kisah itu membawa saya pada beberapa cerita lainnya. Dalam Of Mice and Men karya John Steinbeck yang berhasil menggambarkan hubungan ganjil antara dua buruh-pengembara yang harus mengakhiri hubungan mereka dengan cara yang, bagi siapa pun yang ”jatuh cinta” pada persaudaraan George dan Lenny, begitu menawan dalam perspektif kemanusiaan.

Atau dalam Nyai Paina besutan H. Kommer yang membuat pembaca tahu bahwa kuasa seorang pejabat Hindia Belanda tak serta-merta membuat seseorang terlempar ke panggung kemenangan. Sebaliknya, dalam karya sastra Melayu Rendah terbitan circa 1920-an itu, gadis pribumi itu akhirnya memegang kuasa atas tuannya.

Hans adalah George atau Tuan Belanda, sementara Katharina adalah Lenn atau Paina.

Nyala Erpenbeck

Ya, Hans adalah nyala prahara yang berusaha membombardir Katharina, si Tembok Berlin yang masih kokoh berdiri. Makin keras Hans menjadikan Katharina pelampiasan, makin bergeming tembok tak bersalah itu menunjukkan kekuatannya.

Sebagaimana kritikus John Powers memujinya dalam Fresh Air (Juni, 2023), ”Bahkan saat Erpenbeck menceritakan kisah cinta Katharina dan Hans dengan semua detailnya yang menyakitkan, hubungan cinta mereka menjadi semacam metafora untuk Jerman Timur, yang dimulai dengan harapan akan masa depan cerah dan berakhir dengan kepicikan, tuduhan, hukuman, dan kegagalan”, cinta bagi Erpenbeck tidak akan purnatunggal tampil sebagai cinta semata.

Bagaimanapun, Erpenbeck bukanlah nama baru. Setelah menjajal musik dan opera sebagai sutradara, ia menemukan rumah yang menyenangkan untuk imajinasinya: novel tentang seorang anak yang kehilangan ingatannya dalam The Old Child dan The Book of Words tahun 2008. Satu dekade kemudian, Erpenbeck masuk daftar panjang nominasi Penghargaan Booker Internasional 2018 untuk novelnya Go, Went, Gone. Kemenangan Erpenbeck dalam penghargaan yang sama tahun ini bukan hanya buah produktivitasnya.

Kemenangan Kairos adalah kemenangan kepolosan yang, oleh kekuasaan oligarki, kerap dianggap hanya padang rumput yang diinjak dalam sebuah pesta taman yang riuh oleh tawa. (*)

---

BENNY ARNAS, Menulis dan mengulas buku

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore