Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Oktober 2023, 16.11 WIB

Jogja yang Turistik, Romantik, hingga Diskursif

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

(Catatan Sayembara Puisi Festival Sastra Jogjakarta 2023)

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2023 hadir kembali. Setelah tahun lalu mengusung tema ”Mulih” atau pulang ke rumah, tahun ini secara sinambung FSY membawa semangat kontemplatif yang dilambangkan dengan duduk ”Sila”. Melalui sila dan refleksi diri inilah program-program disusun, dan diharapkan bisa menjelma ruang pertemuan segala peristiwa dan pelaku sastra di Jogjakarta dan Indonesia.

FSY 2023 secara resmi dilaksanakan sejak Agustus lalu dan akan memuncak pada akhir pekan pemungkas bulan ini (26–28 Oktober). Program-program andalan FSY tahun ini adalah Radio Sastra, Workshop Penulisan, Kafe Sastra, Webinar Jaring Festival Sastra Nusantara, Pasar Buku Sastra, dan program sorotannya, Sayembara Puisi Nasional.

Sayembara yang telah ditutup pada akhir September lalu berhasil menjaring 1.236 peserta dari seluruh Indonesia dengan lebih dari 3.700 puisi yang diikutsertakan. Angka yang melebihi ekspektasi komite ini menunjukkan begitu eratnya persentuhan masyarakat Indonesia pada dunia sastra, khususnya puisi.

Dari ribuan puisi yang masuk, tampak upaya para penulis untuk menjelajahi tema festival tentang kontemplasi diri dan hubungannya dengan Jogjakarta. Puisi-puisi tentang pergolakan individual di Jogjakarta, dengan berbagai sudut pandang yang berbeda, menjadi dominan.

Sekelompok puisi menceritakan masalah kedirian yang tidak berhubungan dengan Jogjakarta sama sekali, kecuali bahwa itu terjadi di Jogja. Cinta, kenangan, kesulitan hidup, kerinduan, adalah ruang-ruang yang sesak dijejali puisi.

Sekelompok yang lain melihat pertalian itu dan menjadikan Jogjakarta sebagai bagian dari pembentukan diri mereka. Dalam arus puisi yang demikian, Jogjakarta menjadi tanah rantau yang memberikan pengetahuan dan menjadi pintu terbuka ke berbagai dunia. Jogjakarta juga kota nostalgia bagi mereka. Baik itu nostalgia ke kampung halaman untuk penulis yang ada di Jogja maupun nostalgia ke Jogja bagi mereka yang telah kembali ke kampungnya.

Dengan nostalgia itu, muncullah motif-motif yang sangat romantik dalam puisi-puisi mereka. Para penulis menyajikan imajinasi tentang Jogja dan melekatkan emosi-emosi subjektif mereka. Penulis juga menguraikan kesenduan karena Jogja dulu berbeda dengan Jogja sekarang. Ada gap dalam ingatan dan kenyataan yang membuat mereka merindukan sesuatu di Jogja –keindahan dan keaslian– yang ada sebelum seperti sekarang ini. Penggambaran yang demikian menunjukkan bagaimana gagasan yang tunggal dan statis akan Jogja kadang kala mengungguli keberadaan Jogja itu sendiri sebagai entitas yang bergerak dan multiwajah.

Penulis dengan tema-tema di atas adalah penulis yang memiliki persinggungan erat dengan Jogja. Sementara itu, penulis-penulis lain yang berasal dari berbagai daerah selain Jogja juga berpartisipasi. Karena tuntutan tematik sayembara, mereka pun berupaya mengaitkan diri mereka dengan Jogja. Dengan keterbatasan persentuhan, Jogja dalam puisi mereka adalah Jogja yang turistik. Gambaran spasial Jogja dalam puisi mereka ditandai dengan pusat-pusat turis seperti Malioboro, Tugu, Merapi, pantai-pantai di Gunungkidul, dan tempat-tempat wisata lainnya. Karena itu, puisi yang semestinya punya daya untuk menyelusup ke lorong-lorong yang tersembunyi, mencari jalan lain, atau membuka pintu-pintu dunia baru, terjebak pada perulangan terhadap apa yang selama ini dibayangkan para turis tentang Jogja.

Puisi-puisi lain dengan kemampuan yang baik bisa melakukan refleksi tentang Jogja atau bahkan tempat-tempat turistiknya, dengan jarak yang jujur, penelusuran yang dalam, dan metafora yang jernih. Puisi-puisi ini dalam konteks dunia Jogja berhasil menelusuri sejarah-sejarahnya, pertemuan berbagai nilainya, kritik dan amatan yang tidak sekadar geografis, tetapi juga diskursif.

Tentu saja, memilah beberapa di antara ribuan puisi yang masuk menjadi tantangan yang besar. Lalu, memilih satu di antara begitu banyak puisi yang membawa tema yang sama menjadi tantangan berikutnya. Misalnya, pertanyaan mengapa puisi nostalgik yang ini lebih baik dari puisi nostalgik yang lain harus terjawab dengan alasan yang mewakili berbagai pertimbangan puitik dan tematiknya.

Menghadapi kondisi demikian, saya banyak menimba ilmu melalui diskusi intensif selama beberapa hari dengan dua juri lain, Joko Pinurbo dan Ni Made Purnama Sari, penyair-penyair terpenting Indonesia saat ini. Dalam diskusi untuk menentukan puisi-puisi terpilih, pokok soal yang dibicarakan sebagian besar terkait dengan pendayagunaan kata. Dalam satu semesta puisi, pilihan terhadap kata dan metafora tentulah subjektif. Namun, bagaimana metafora dibentuk akan sangat menentukan apakah sebuah puisi bisa menyampaikan gagasan dan menghadirkan imajinasi kepada pembaca dengan keutuhan dan kejernihan. Metafora yang baik setidaknya mampu menghadirkan kata-kata yang meskipun mundane, mampu terhubung dalam paralelitas dan perbandingan yang mengejutkan. Dalam upaya yang demikian, tidak jarang bahwa metafora itu menjadi klise, atau justru sangat partikular sehingga alih-alih melengkapi imajinasi dan mengutuhkan ide, justru mengacaukannya.

Demikianlah, dengan pertimbangan tematik dan puitik yang telah disepakati, setelah melewati ribuan lembar puisi dan keluar masuk dunia-dunia yang diciptakannya, sembari berbagi kesan pembacaan individual dalam diskusi yang sangat berharga, terpilihlah dua puluh puisi terbaik sebagai nomine dan lima puisi sebagai pemenang. Kami mengucapkan terima kasih untuk semua yang sudah mengirimkan puisi kepada Sayembara Puisi Nasional FSY 2023. Kami juga mengucapkan selamat kepada pemenang. Untuk kita semua, semoga kesempatan ini menjadi salah satu momen terbaik untuk menengok ke dalam diri, dengan bersila dan menulis puisi. Sampai bertemu di program-program FSY tahun depan. (*)

---

RAMAYDA AKMAL, Dosen FIB UGM dan juri Sayembara Puisi Nasional FSY 2023

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore