Saat grafiti dan poster muncul di mana-mana, di saat itulah ada kesetaraan. Korban awalnya dianggap hanya pada tingkatan angka. Ia dihitung berdasar jumlah. Namun sejatinya, keberadaan korban adalah mereka yang tidak pernah dihitung dan tidak dianggap ada dalam konteks dominasi industri sepak bola.
Maka, kehadiran seni jalanan yang membuka ruang alternatif untuk bersuara (disensus), menggoyahkan tatanan yang ada, dan berani menghadirkan konflik pada representasi yang dominan sangat diperlukan. Jika selama ini suara yang diperhatikan bersifat konsensus (kesepakatan yang dominan), bahwa anginlah yang membawa gas air mata sehingga membuat kepanikan massa, perlu adanya disensus. Grafiti dan poster mampu menyuarakan suara-suara alternatif itu. Itulah kenapa tuduhan padanya selalu sama: vandalisme! (*)
---
OBED BIMA WICANDRA, Dosen DKV UK Petra Surabaya. Sedang menempuh studi doktoral di Kajian Budaya (Kajian Seni dan Masyarakat) Universitas Sanata Dharma Jogjakarta.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
