
ILUSTRASI
Rhoma, terutama sejak berkonflik secara terbuka dengan Inul, dicitrakan sebagai seorang yang bukan saja fanatik dalam beragama, tapi juga dalam bermusik. Dan saya pikir citra itu masih terus direproduksi para kritikusnya. Tapi, saya juga mengingat, di saat yang kurang lebih bersamaan, tepatnya awal 2003, Rhoma dan Soneta justru naik panggung bersama Slank, salah satu band terbesar Indonesia yang pernah ada. Sejak itu Rhoma secara berkala tampil atau terhubung dengan band-band atau musisi-musisi mapan Indonesia, seperti Gigi, Ahmad Dhani, Eross, Ari Lasso, Ungu, hingga Ardhito Pramono.
Pada era ketika para penyanyi solo merajalela, cara Rhoma dan Soneta menjaga eksistensinya masih relatif sama. Dalam rentang tiga tahun ini, misalnya, Rhoma Irama tampil sepanggung dengan Via Vallen atau Nella Kharisma hingga Denny Caknan, nama-nama paling populer di musik pop Indonesia belakangan.
Dalam beberapa titik, ”keluwesan” Rhoma dan Soneta terasa terlalu jauh, terutama untuk orang yang selera musiknya dibentuk oleh musik Rhoma Irama macam saya. Saya jadi waswas ketika Soneta memainkan ”Butter”-nya BTS secara live di sebuah stasiun TV awal tahun 2023 ini. (Bahkan untuk itu, Rhoma mesti mengubah lirik lagu ikonik ”Musik” dari ”yang pop” ke ”K-pop”.) Penampilan itulah yang kemudian diulanginya di Synchronize 2023. Di pentas yang sama, Rhoma Irama dan Soneta juga berkolaborasi dengan Dipha Barus, yang nama dan musiknya sama asingnya untuk saya.
(Kecuali untuk kolaborasinya dengan Dewa Budjana dalam ”Smararindu” yang relatif lebih mudah saya telan) saya rasanya butuh waktu untuk ”menerima” ini semua. Namun, secara bersamaan, saya jadi mengingat kenapa (almarhum) Bill Frederick menyebut Rhoma tak semata artis (seniman), melainkan juga entrepreneur (pengusaha). ”Pak Haji selalu mampu menemukan cara untuk tetap relevan,” demikian tulis sebuah komentar di YouTube.
***
Menuanya Rhoma dan Soneta dan perkembangan dangdut membuat saya sering berpikir terlalu apokaliptik. Itu membuat semua jadi terlihat gawat. Padahal tak semuanya berdasar. Lebih banyak lagi yang emosional.
Lagi pula, jelas sekali Rhoma dan musiknya, juga dangdut secara umum, tak seringkih yang dikira. Dan jika pun benar demikian, tampaknya Rhoma tak akan begitu saja membiarkannya.
”Get it, let it roll,” teriak Rhoma, menirukan BTS.
Saya tak benar-benar yakin apa maksudnya. Tapi, saya merasa semuanya baik-baik saja selagi Rhoma Irama masih memainkan gitarnya. Mari menikmatinya selagi bisa. (*)
---
MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
