Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 September 2023 | 16.46 WIB

Rhoma Irama, sang Penampil

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Rhoma, terutama sejak berkonflik secara terbuka dengan Inul, dicitrakan sebagai seorang yang bukan saja fanatik dalam beragama, tapi juga dalam bermusik. Dan saya pikir citra itu masih terus direproduksi para kritikusnya. Tapi, saya juga mengingat, di saat yang kurang lebih bersamaan, tepatnya awal 2003, Rhoma dan Soneta justru naik panggung bersama Slank, salah satu band terbesar Indonesia yang pernah ada. Sejak itu Rhoma secara berkala tampil atau terhubung dengan band-band atau musisi-musisi mapan Indonesia, seperti Gigi, Ahmad Dhani, Eross, Ari Lasso, Ungu, hingga Ardhito Pramono.

Pada era ketika para penyanyi solo merajalela, cara Rhoma dan Soneta menjaga eksistensinya masih relatif sama. Dalam rentang tiga tahun ini, misalnya, Rhoma Irama tampil sepanggung dengan Via Vallen atau Nella Kharisma hingga Denny Caknan, nama-nama paling populer di musik pop Indonesia belakangan.

Dalam beberapa titik, ”keluwesan” Rhoma dan Soneta terasa terlalu jauh, terutama untuk orang yang selera musiknya dibentuk oleh musik Rhoma Irama macam saya. Saya jadi waswas ketika Soneta memainkan ”Butter”-nya BTS secara live di sebuah stasiun TV awal tahun 2023 ini. (Bahkan untuk itu, Rhoma mesti mengubah lirik lagu ikonik ”Musik” dari ”yang pop” ke ”K-pop”.) Penampilan itulah yang kemudian diulanginya di Synchronize 2023. Di pentas yang sama, Rhoma Irama dan Soneta juga berkolaborasi dengan Dipha Barus, yang nama dan musiknya sama asingnya untuk saya.

(Kecuali untuk kolaborasinya dengan Dewa Budjana dalam ”Smararindu” yang relatif lebih mudah saya telan) saya rasanya butuh waktu untuk ”menerima” ini semua. Namun, secara bersamaan, saya jadi mengingat kenapa (almarhum) Bill Frederick menyebut Rhoma tak semata artis (seniman), melainkan juga entrepreneur (pengusaha). ”Pak Haji selalu mampu menemukan cara untuk tetap relevan,” demikian tulis sebuah komentar di YouTube.

***

Menuanya Rhoma dan Soneta dan perkembangan dangdut membuat saya sering berpikir terlalu apokaliptik. Itu membuat semua jadi terlihat gawat. Padahal tak semuanya berdasar. Lebih banyak lagi yang emosional.

Lagi pula, jelas sekali Rhoma dan musiknya, juga dangdut secara umum, tak seringkih yang dikira. Dan jika pun benar demikian, tampaknya Rhoma tak akan begitu saja membiarkannya.

”Get it, let it roll,” teriak Rhoma, menirukan BTS.

Saya tak benar-benar yakin apa maksudnya. Tapi, saya merasa semuanya baik-baik saja selagi Rhoma Irama masih memainkan gitarnya. Mari menikmatinya selagi bisa. (*)

---

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore