
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Dilupakan dan tak lagi dikenal sungguh suatu musibah yang menyakitkan. Nyerinya menusuk hingga ke bagian hati yang dalam.
---
KARENA terus diberitakan sebagai orang yang bertanggung jawab dalam berbagai kerusuhan, nama Peter Parker (Tom Holland) sebagai Spider-Man jadi dikenal khalayak sebagai penjahat. Ia menjadi musuh masyarakat no 1. Rumahnya kerap disatroni. Keluarganya menjadi terganggu. Dan ketika muncul dan berjalan di ruang publik, namanya terus diejek. Rupanya persekusi semacam itu menjadi teror menyakitkan baginya ketimbang diajak berkelahi secara langsung.
Karena tak kuat menahan tekanan, ia minta Doktor Strange untuk menyembunyikan identitasnya. Dengan demikian, ingatan publik bahwa dia adalah Peter Parker akan lenyap. Namanya dilupakan dan sama sekali tak lagi diingat, musnah dari ingatan banyak orang. Peter, dengan demikian, akan kembali hidup tenang.
Namun risikonya, yang tak bisa ia tawar, orang-orang terdekatnya juga akan turut melupakannya dengan seluruh jejak, cerita, dan sejarahnya. Ia menjadi seorang yang tak lagi dikenal oleh siapa pun dan bukan siapa-siapa lagi. Ia harus menjalani hidup dari awal.
Itu secuil kesan yang masih tersisa dari menonton Spider-Man: No Way Home. Ini film melulu soal baku hantam, tapi yang menarik di akhirnya bukanlah perayaan kegemilangan lantaran berhasil menghabisi musuh dan menumpas penjahat. Di akhir film ini, kita justru menyaksikan wajah lara dan nelangsa Peter ketika muncul di hadapan kekasihnya dan seorang temannya: diabaikan! Menarik karena keterasingan dan kesedihan tersebab tak lagi dikenal dan dilupakan yang dialami Peter sebagai penutup film ini seperti sebuah interupsi terhadap semangat untuk terkenal dan viral yang naik kencang akhir-akhir ini.
”Dikenal” dan ”diingat” adalah perkara serius. Dikenal dan diingat merupakan sumber daya dan modal, bukan sekadar bertahan hidup, tapi juga untuk eksis dan menjulang. Di sebuah kota, orang boleh saja kehilangan dompet berisi uang, kartu ATM dan jenis e-money lainnya, dan telepon genggam, tetapi selama ada yang ia kenal dan dikenalnya, ia akan tetap selamat. ”Dikenal” atau punya ”kenalan” –lebih-lebih orang penting– bisa menjadi kunci menelusuri jalan terang dan luas kehidupan. Sebaliknya, tidak punya kenalan dan tidak dikenal, di depan hanya ada tembok dan lorong gelap.
Dalam kisah Mahabharata, ada satu adegan tentang perihnya tidak dikenal ini. Setelah kalah bermain dadu dengan Kurawa, keluarga Pandawa dihukum buang selama 12 tahun di sebuah rimba belantara. Lalu disusul masa penyamaran selama setahun. Dari durasi waktu, hukuman kedua ini jauh lebih pendek dan ringan, tetapi masa penyamaran satu tahun ini dalam wiracarita itu digambarkan jauh lebih berat. Sedemikian beratnya, hukuman itu hampir-hampir membuat mereka rontok. Ini karena mereka terlarang menggunakan dan memanfaatkan nama dan keterkenalan mereka. Syarat tidak boleh diketahui dan dikenal oleh siapa pun sebagai keluarga Pandawa benar-benar hampir menghancurkan jiwa mereka. Rupanya para Kurawa tahu persis mau dihukum dengan cara apa pun, selama mereka ”dikenal” sebagai keluarga Pandawa, segalanya akan ringan dan mudah bagi mereka.
Hukuman dibuang 12 tahun tak terasa berat sebab banyak orang yang setelah mengetahui mereka adalah keluarga Pandawa berlomba untuk menampung dan menyediakan makanan dan tempat serta memberikan segala fasilitas. Berbeda dengan itu, hukuman setahun tidak boleh dikenal sebagai keluarga Pandawa, mengharuskan mereka menjalani hidup bukan sebagai siapa-siapa dan dengan menyamar sebagai orang biasa. Mereka harus mengusahakan hidup sendiri. Tak ada yang membantu dan bantuan apa pun justru harus dihindari. Karena sekali ada yang mengenal dan mengetahui mereka sebagai keluarga Pandawa, itu berarti pelanggaran atas aturan hukuman yang dikenakan. Untuk itu, mereka bisa-bisa dihukum buang 12 tahun lagi.
Tak dikenal dan dilupakan, dengan demikian, akan membuat jalan menjadi terjal berbatu dan gelap. Itulah mengapa dikenal dan diingat menjadi ikhtiar purbawi. Terus dilakukan dari dulu hingga kini. Dan tidak ada keinginan orang untuk dikenal –sampai tingkat tertentu tenar– yang lebih bergairah dan bersemangat, bahkan gila-gilaan sebagaimana di era media sosial sekarang ini. Ia kini telah menjadi hasrat massa. Media sosial telah membuat hasrat untuk dikenal dan terkenal itu menjadi teknologis.
Setiap hari orang menuliskan apa saja tentang dirinya, menampilkan foto, atau membuat video pendek untuk disiarkan di berbagai aplikasi media sosial. Untuk dikenal, terkenal, atau setidaknya untuk tetap diingat. Selalu berada dalam peredaran dan tidak keluar dari orbit. Hasrat ini bercampur aduk dengan semangat narsisisme dalam bentuk ”selfie”. Sebab, sekali lagi, betapa perihnya dilupakan dan tidak dikenal.
Sepanjang menonton Spider-Man jujur saya banyak tidurnya. Mungkin karena saat itu saya memang sedang kecapekan. Mungkin juga karena ritme filmnya yang terbilang cepat dilambari adegan berantem plus iringan dentuman suara beradu yang demikian keras, karena itu tidur jadi lebih baik. Tapi, adegan di akhir film itu memberi saya PR tentang apa artinya menjadi tidak dikenal dan dilupakan.
Peter Parker akhirnya menarik diri dari ingar bingar. Ia keluar dari massa yang mengejek atau mengelukannya. Ia menjauhi ketenaran, ia tidak ingin lagi dikenal, ia dilupakan dan terlupakan, bahkan oleh lingkaran dekatnya. Ia kembali menjadi orang biasa dan sendirian.
Kita tidak tahu akan jadi apa dia? Tapi, apa pun ia telah berani mengambil jeda, menarik diri dari massa, dan keluar dari tuntutan kehidupan duniawi. Mungkin akan selamanya, tapi mungkin juga hanya sebentar. Tapi, itulah kemenangan Peter Parker. Kemenangan sejati.
Seperti Peter Parker, dengan cara dan jalan masing-masing, mungkin kita juga perlu mengambil jeda, meski hanya sebentar! (*)

12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
Profil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, Kader Partai Gerindra yang Terjaring OTT KPK
Sederet 15 Kuliner Steak di Surabaya Paling Enak dengan Saus Lezat yang Wajib Dicoba Pecinta Daging
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Link Live Streaming Timnas Futsal Indonesia vs Thailand di Final Piala AFF 2026
Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Timnas Indonesia vs Thailand, Siaran Langsung, dan Live Streaming!
Kuliner di Surabaya: 17 Rekomendasi Bakso Terbaik dengan Rasa Autentik
