
ILUSTRASI (NINA/JAWA POS)
Di depan parlemen Turki di pekan pertama bulan Syawal 1446 H atau April 2025, Presiden Prabowo Subianto dengan heroik mengutuk habis-habisan praktik pelanggaran berat hak asasi manusia (baca: genosida politik) di Palestina. Lebih sangar lagi, Presiden Prabowo memaklumatkan bersetia membela yang tertindas.
KIRA-KIRA, Presiden Prabowo yang juga tokoh perwira tinggi militer Indonesia yang sangat penting di masanya itu ingin bilang: tak ada maaf buat penindasan dan pelanggaran HAM berat di bulan Syawal.
Bagi pegiat HAM di Indonesia, mendengar amanat presiden seperti ini bisa remuk hatinya karena tahu Indonesia adalah negeri yang sebagian besar tak pernah bisa menyelesaikan persoalan HAM dan penindasan di negerinya sendiri. Menyentuhnya pun tidak. Sebuah negara yang angkatan perangnya dengan enteng bisa ”menyelesaikan” soal genosida politik lewat halalbihalal, lewat pemampangan baliho dan iklan layanan masyarakat ”Selamat Idul Fitri”.
Saya perlihatkan contoh anakronisme ekstrem soal itu dalam bentang sejarah Indonesia, terutama Syawal 1385 H.
Pada 23 Januari 1966, di halaman 1 koran Angkatan Bersendjata, boks iklan syawalan ditampilkan lengkap dengan 9 paragraf artikel pengantarnya yang berjudul: ”Ibukota mendjelang Lebaran & Imlek: Malam Takbir Jang Gairah”.
Dua hari sebelumnya, 21 Januari, editorial koran resmi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ini menulis kalimat seperti ini: ”Hari raja Idulfitri tahun ini djatuh bertepatan dengan selesainja pengganjangan phisik terhadap GESTAPU-PKI”.
Membaca kronik syawalan 1385 Hijriah ini, kita disuguhkan oleh ”suasana batin” bahwa genosida politik itu tak ada. Apa yang disebut aktivis Soe Hok Gie sebagai ”penyembelihan (manusia) besar-besaran” (baca genosida) tak lebih sekadar ”pengganjangan phisik”.
Atas nama Tuhan, tentara mengondisikan Syawal 1385 H betul-betul sebagai hari kemenangan setelah mengalahkan setan kontra revolusioner (kontrev) bernama Gestok.
”Suasana Natal, Tahun Baru, dan suasana Lebaran ini telah memberikan kepada kita dorongan untuk mengutjapkan tasbih kepada Tuhan Jang Maha Esa atas bantuanNja dalam menumpas ’Gestok’,” demikian amanat Menteri/Panglima Angkatan Darat Mayjen Soeharto. Oleh Angkatan Bersenjata, amanat itu dinamakan ”Amanat Lebaran”.
Diksi ”tumpas” dan ”pengganjangan phisik” bukanlah diksi biasa jika diucapkan serdadu. Konotasinya jelas: kekerasan yang tak berhingga. Saat diksi itu ditempelkan dengan diksi agama (Natal, Idul Fitri, Imlek), diksi genosida yang mengerikan itu tampak mengalami perubahan valuasi: lebih patriotis dan suci. Subjek yang melakukan amalan itu tak merasa sedang mengerjakan dosa yang hebat. Justru sebaliknya, mengangkat martabatnya sebagai perisai penghalau kejahatan peradaban.
Tapi, memori publik Indonesia sangat buruk dengan praktik genosida menuju Syawal 1385 Hijriah ini. Bukan karena otak manusia Indonesia sudah busuk sejak lahir, tetapi Angkatan Bersendjata, salah satunya, mengondisikannya agar mengonsumsi informasi tunggal. Yang bertentangan dengan informasi ini pasti juga mengalami apa yang disebut ”tumpas” dan ”pengganjangan phisik”; bahkan, saat Gestok sudah berlalu dalam hitungan tahun.
Itulah yang dialami dokumen ”Cornell Paper”. Harian Sinar Harapan edisi 4 Juni 1967 butuh satu halaman penuh di halaman satu melakukan asasinasi atas ”tafsir berbeda” dari apa yang disebut ”Gestok” itu dengan judul besar: ”Ben Anderson & Ruth Mc. Fey: Otak ’Cornell Paper’ Jang Misterieus, Pandangan The New Left Jang Kaburkan Opini Publik Luar Negeri”.
Baca paragraf awal laporan besar yang terbit pada hari Minggu ini: ”Cornell Paper atau laporan dari Universitas Cornell, AS, telah menghebohkan pendapat umum baik didalam maupun diluar negeri, dan sedikit-banjaknja telah membawa tafsiran jang keliru pada opini publik dunia luar mengenai sebab-musabab penyjetusan G30S/PKI atau terkenal dgn peristiwa Gestapu itu.”
Selanjutnya, portofolio dua akademisi yang menulis laporan itu ditulis Sinar Harapan seperti ini: ”Dua sardjana AS, Dr. Ben Anderson dan Dr. Ruth Mc. Vey merupakan pelaku2 mysterieus ... (”Cornell Paper”) dianggap sebagai sesuatu karya asing jg dianggap mengandung nada2 membela kudeta jg gagal itu”.
Dari paparan yang (di)ringkas(kan) itu mustahil publik meyakini bahwa Indonesia adalah bangsa yang sakit. Bahwa angkatan bersenjata dan milisi binaannya melakukan genosida politik dengan melakukan praktik menyembelih manusia dengan jumlah fantastis: setara dengan korban perang Vietnam, sebagaimana dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
