
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Oleh Radius Setiyawan
Budaya populer dalam perkembangannya menemani pertumbuhan generasi muda Indonesia. Budaya tersebut datang silih berganti. Bergerak sangat dinamis dan mewakili selera zaman. Keberadaan media digital mempunyai peran penting dalam mengonstruksi budaya populer hari ini.
ADORNO dan Horkheimer (1982) menjelaskan bahwa budaya populer dalam masyarakat kapitalis berfungsi seperti industri dalam memproduksi produk (konten) yang terstandardisasi dan mampu menghasilkan orang-orang yang ”terstandardisasi” pula.
Salah satu hal yang menarik dari budaya populer adalah soal penggemar atau fandom. Fandom bermakna sebagai komunitas atau subkultur yang terdiri dari fans atas objek dan individu tertentu yang memiliki ketertarikan atas aktivitas yang berkaitan dengan film, buku, games, musik, band, atau tim sport atau selebriti juga sebuah merek (Cheng Lu Wang, 2017). Salah satu contoh manifestasi dari fandom yang dekat dengan kita adalah kelompok fans sebuah grup musik mempunyai sikap sangat loyal, gemar bersolidaritas meski mereka belum tentu saling kenal dan pernah bertemu (baca fans K-pop, Sobat Ambyar, dan kelompok sejenis).
Para fandom digerakkan imajinasi yang sama yang bersumber dari apa yang mereka kagumi dan cintai. Kehadiran media digital adalah salah satu faktor dominan yang membuat imajinasi kolektif mereka mudah terbentuk.
Budaya populer kerap dianggap sebagai budaya yang dangkal, buatan pabrik, tidak otentik, dan jauh dari visioner. Perspektif tersebut tidak hanya berlaku terhadap produknya, tetapi juga para penggemarnya. Fandom tidak jarang disebut sebagai kumpulan massa yang terbutakan dan tidak kritis.
Pandangan miring tersebut tentu tidak sepenuhnya benar. Banyak fakta yang menjelaskan bahwa mereka mampu bersikap kritis atas fenomena sosial dan terlibat kritis dalam isu-isu publik. Baik terkait politik, HAM, sosial, kemanusiaan, dan hal lain terkait hajat hidup orang banyak.
Dalam banyak kejadian, komunitas yang merepresentasikan fans dari sebuah grup musik yang menjadi ikon budaya pop banyak melibatkan diri untuk melakukan kritik dan bahkan memanfaatkan berbagai platform perlawanan terhadap sebuah isu yang dianggap merugikan hajat hidup orang banyak.
Beberapa tahun terakhir, banyak contoh yang kita jumpai. Para anak muda yang tergabung dalam penggemar salah satu grup musik atau budaya populer terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan, seperti yang dilakukan Army (fans K-pop dari grup BTS), donasi dan mendukung gerakan Black Live Matter (Gerakan Melawan Rasisme), aktif berkampanye bersama Unicef tentang isu kesehatan melalui lagu-lagunya dan tagar #loveyourself di media sosial, mereka juga terlibat dalam aksi penolakan RUU Cipta Kerja pada 2020.
Kampanye lain yang bisa kita jumpai adalah ”Tokopedia4Bumi” yang meminta Tokopedia untuk menggunakan energi terbarukan dan go green pada 2030. Sebanyak 2.083 tanda tangan untuk petisi tersebut telah diserahkan ke kantor e-commerce tersebut.
Dalam konteks Indonesia, fans K-pop banyak terlibat dalam aksi kritik dan demonstrasi. Dari aksi Gejayan Memanggil, #ReformasiDikorupsi, hingga soal aksi Peringatan Darurat.
Dalam konteks fans artis Indonesia, kita jumpai bagaimana Sobat Ambyar yang terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan. Baik terkait donasi maupun terlibat dalam kritik-kritik sosial.
Hal terbaru kita jumpai dari keterlibatan kelompok penggemar boyband K-pop NCT, yakni NCTzen. Mereka terlibat dalam demonstrasi ”Indonesia Gelap” dengan menyediakan ambulans dan makanan di sekitar patung kuda, Jakarta Pusat. Mereka memasang tulisan di spanduknya ”NCTzen Humanity”.
Tentu akan masih banyak lagi aksi serupa yang diinisiasi fandom atau kelompok-kelompok sejenis. Rentang 10 tahun terakhir, keterlibatan para fans itu bergerak masif dan aktif.
Dari berbagai contoh di atas, saya ingin menyatakan bahwa aksi sosial atau perlawanan atas ketidakadilan bukan lagi menjadi monopoli aktivis sosial. Aktivis yang selama ini tergabung dalam LSM atau ormas tertentu. Fakta membuktikan bahwa berbagai individu atau komunitas yang gandrung dengan budaya populer juga terlibat aktif dan terkadang lebih masif dan cukup diperhitungkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
