Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Januari 2025, 17.26 WIB

Tempat-Tempat dari Suatu Buku

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Seberapa sering Anda mengulur batas antara dunia nyata dan dunia buku; menghubungkan raga dengan tempat-tempat yang lebih dulu dijumpai di buku atau mengalami dejavu seolah pernah menyinggahi suatu tempat padahal itu sebenarnya perjalanan imajiner ke dalam buku? Beberapa tempat itu memanggil dari alam bawah sadar –menempati ruang imajinasi diri dengan istimewa. Terlebih karena perjumpaan itu lebih dulu diperantarai oleh buku, setiap pembacaan malah lebih berarti dan sangat personal.

Dalam suatu perjalanan ke Blora pada 8 Juli 2024, penulis Sindhunata bercerita bagaimana nama-nama wilayah di Blora –kantong perlawanan wong Samin atas penjajahan kolonial– memanggil-manggil lewat alam bawah sadarnya semasa menempuh studi doktoral di Hochschule für Philosophie di Munchen, Jerman (1986–1992). Kediren, Klopoduwur, Randublatung, Panolan, maupun Ngawen meminta perhatian yang berbeda bukan saja karena menjadi unsur penting dalam penggarapan disertasi yang baru 32 tahun kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sekaligus dibukukan, Ratu Adil: Ramalan Jayabaya & Sejarah Perlawanan Wong Cilik (Gramedia, 2024).

Sindhunata benar-benar menginjakkan diri di kampung Samin Klopoduwur. Sore itu, para warga sedang merayakan bancakan Suro. Tanpa perlu menanyai siapa dan apa keperluan Sindhunata datang ke sana, para Sedulur Sikep Klopoduwur langsung mengajaknya duduk di tikar –mendengar Pak Lasiyo-cicit Suro Engkrek menghaturkan harapan serta doa dan makan bersama. Setelahnya, Sindhunata bercakap lebih dalam dan personal dengan Pak Lasiyo sekaligus menyerahkan buku Ratu Adil di rumahnya sebagai bentuk syukur dan terima kasih. Sindhunata telah memenuhi bagian ”kosong” yang dulu dirasakannya. Para wong cilik dan nama-nama tempat yang dulu dihadapinya sebagai teks sejarah benar-benar ditemui secara harfiah maupun kultural. Sindhunata bukan sekadar mencocokkan teks dengan ruang geografis-kultural yang ada. Penulis menemukan tempat pulang bagi afirmasi gagasan dan keberpihakannya atas rakyat sekaligus rumah untuk sang buku.

Michael Pearson menulis Tempat-Tempat Imajiner, Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (YOI, 1994). Ia mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi tempat tinggal para pengarang sekaligus dimunculkan dalam cerita-cerita –dari Frost, Faulkner, O’Connor, Hemingway, Steinbeck, ke Twain. Pearson mengakui, ”Steinbeck dan Twain adalah pengarang yang karyanya membuatku keranjingan pada masa kanak-kanak.” Ketika tiba di Hannibal, Missouri, kota tempat Mark Twain menciptakan cerita Tom Sawyer dan Huckleberry Finn untuk pembaca, Pearson merasakan, ”Kota itu telah berusaha menggunakan setiap cara agar legenda Twain tetap diimajinasikan.” Hannibal bukan sekadar latar geografis Twain tumbuh, tempat itu menjadi geografi penting bagi para pembaca sastra (Amerika). Dibandingkan promosi wisata yang dilakukan oleh televisi atau majalah, sastra menjadi pengikat komunalitas literer –bahkan bagi yang bukan pembaca Twain sekalipun.

Narasi bagi pembaca memang selalu personal, tapi ruang-ruang narasi ini pada suatu waktu harus dikelola demi kepentingan ekonomi atau industri turisme. Ruang personal pelan-pelan menjadi ruang publik yang dikelola, didandani, dan dipromosikan. Fokusnya memang bukan lagi tentang buku atau siapakah pembacanya. Namun, meski ruang personal dari dunia buku itu menghadapi gempuran pasar, tetap saja setiap pembaca memiliki perjalanan imajiner masing-masing.

Bahkan meski apa yang diharapkan atau diangankan pembaca itu terdengar sepele atau konyol, dunia dalam buku memang hadir lebih nyata senyata yang dilakukan si pembaca. Salah satunya Muthia Esfand, penulis dan pemilik toko buku Buku di Teras, merawat angan masa kecilnya yang disemai oleh bacaan Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Ada banyak peristiwa di buku itu yang membuat anak-anak bahagia bahkan ketika ia telah dewasa tapi tetap menjadi pembaca.

Ketika Muthia melakukan perjalanan ke pelbagai negeri, Inggris pun tidak hanya memesonanya dengan toko buku. Ia menapak tilas tempat-tempat yang dulu didatanginya secara imajiner lewat buku-buku. Mengitari Sungai Exe, ia menemukan kafe kecil yang menyambut dengan kehangatan kudapan klasik Inggris. ”Scone! Astaga, ini mimpi yang jadi kenyataan. Aku baca tentang kue scone pertama kali saat aku masih kecil di buku-buku Enid Blyton kegandrunganku dan kakak-kakakku. Dulu sewaktu membaca kisah petualangan Lima Sekawan, aku selalu membayangkan apa rasanya scone dan krim serta limun jahe,” tulis Muthia di buku Dari Toko Buku ke Toko Buku (2021). Muthia duduk di pojok dekat jendela besar seperti anak-anak yang gembira –menikmati scone hangat dengan bonus pemandangan dermaga dan gerimis.

Pada 2024, saya mengalami perjalanan sastra yang impresif ke Balige, Sumatera Utara, melalui undangan Balige Writers Festival. Bagi seorang pembaca, Balige menghubungkan Danau Toba dan Sitor Situmorang. ”Balige menjadi negeri saya,” tulis Sitor dalam otobiografinya (1981). Di sinilah, ia berkenalan dengan zaman baru dan mengalami hal-hal pertama: kota, sekolah dan bahasa asing, menonton film koboi, minum es ragam warna, melihat truk-truk, maupun mendengar radio. Di waktu bersamaan, Sitor juga merengkuh hal tradisional, ”mendengarkan legenda-legenda lama dibawakan oleh juru cerita tua-tua yang kenamaan pada berbagai kesempatan upacara ritual, yang berlangsung di malam hari.”

Pengalaman masa kanak Sitor begitu emosional memengaruhi saya sebagai orang Jawa yang baru pertama mendatangi Balige sekaligus melihat Danau Toba yang selama ini saya bayangkan wujudnya dalam cerita legenda. Saya begitu lama menatap permukaan biru di kejauhan dan memandang Samosir yang besar-samar di tengah danau. Toba jelas tidak terelakkan dari sampah atau pembangunan penginapan, hotel, atau warung. Pada hari terakhir festival, saya berhasil memainkan riak-riak air Toba di sela-sela kaki saya. Di sini, saya masih mencari-cari di mana tepatnya Sitor Situmorang meniupkan nyawa pada puisi-puisinya yang dihimpun dalam Angin dan Air Danau Toba (Kobam, 2019).

Saya akhirnya tidak sekadar menjadi peserta sebuah acara sastra. Sebagai pembaca, saya ingin merasuk ke hal yang lebih personal –identitas, daya cipta, sekaligus batin geografis penulis serta buku. Membaca adalah perjalanan panjang secara imajiner maupun harfiah. Dunia buku selalu menarik-mengulur ruang personal kita, dengan begitulah kita selalu punya cara untuk melompat masuk atau melenggang keluar –memberi arti mendalam bagi jati diri pembaca. (*)

---

*) SETYANINGSIH, Esais dan penulis Kitab Cerita 2

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore