Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Desember 2024, 19.39 WIB

Hari Ibu yang Lebih Inklusif

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan di sejumlah negara di dunia mempunyai sejarah yang panjang dan tradisi yang beragam. Hari Ibu di Amerika Serikat yang dirayakan setiap Minggu kedua bulan Mei berkaitan erat dengan peristiwa bersejarah Perang Saudara Amerika yang berlangsung pada 1861–1865.

DI Prancis, peringatan Hari Ibu bermula dari inisiatif untuk memberikan penghargaan kepada ibu yang memiliki banyak anak ketika negara tersebut tengah berupaya mengatasi penurunan angka kelahiran pada akhir 1800-an. Sementara di Indonesia, peringatan Hari Ibu tidak bisa dipisahkan dari perjalanan pergerakan perempuan yang sudah dimulai bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Tanggal 22 Desember yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Hari Ibu merupakan tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan I yang digelar di Jogjakarta pada 1928.

Penetapan tanggal tertentu sebagai hari besar pada gilirannya membawa pada politik pemaknaan. Kita bisa menjadikan Hari Kartini sebagai contoh. Hari Kartini dimaknai sebagai momentum untuk merayakan gagasan-gagasan emansipasi perempuan yang pernah disuarakan Raden Ajeng Kartini melalui tulisan-tulisannya. Hal tersebut kemudian disimbolkan dengan berbagai aktivitas seperti meniru penampilan Kartini yang berkebaya dan bersanggul, atau menyelenggarakan perlombaan-perlombaan yang bernuansa feminin seperti lomba merangkai bunga, memasak, atau fashion show. Kita tidak pernah dilibatkan dalam diskusi atau ditanyai persetujuan tentang bagaimana semestinya sosok Kartini dimaknai dan dirayakan, tetapi tradisi-tradisi peringatan Hari Kartini tersebut terus dilakukan dan diwariskan lintas generasi.

Fenomena serupa bisa ditemukan juga pada perayaan Hari Ibu di Indonesia. Hari Ibu secara umum dimaknai sebagai hari untuk mengucapkan terima kasih kepada ibu atas kerja keras dan cinta kasih yang dicurahkannya dalam melahirkan dan membesarkan anak(-anak)nya. Pemaknaan tersebut kemudian dimanifestasikan dengan tradisi-tradisi bernuansa ”balas budi” seperti anak memberikan hadiah kepada ibu, mengerjakan tugas-tugas di ruang domestik yang biasanya dilakukan ibu, atau memberikan kejutan manis seperti makan malam spesial untuk ibu. Sekali lagi, pemaknaan tersebut terbentuk tanpa ada konsensus, tetapi menjadi kesepakatan bersama yang diikuti dan dipatuhi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sementara itu, diskursus tentang konsep ibu dan keibuan sebenarnya tidak bisa dibilang stagnan atau stabil. Seiring perjalanan waktu, terjadi berbagai fenomena yang melahirkan dinamika pemaknaan tentang siapa yang patut dianggap sebagai ibu, apa peran yang semestinya dijalankan ibu, sampai seperti apa sosok ibu yang ideal.

Kita bisa membuka sejenak lipatan sejarah untuk melihat dinamika tersebut. Tidak lama setelah kemerdekaan, terbentuknya Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menandai babak penting dalam pergerakan perempuan Indonesia. Gerwani tumbuh menjadi organisasi perempuan terbesar yang mengadvokasi peran perempuan di ranah publik dan pendidikan politik bagi perempuan. Pada saat yang sama, dari majalah Api Kartini yang menjadi sarana publikasi Gerwani, kita juga bisa melihat rubrik-rubrik seperti resep masakan, tips merawat diri, dan metode pengasuhan anak. Tulisan-tulisan tersebut bersanding dengan berita tentang perkembangan gerakan perempuan di negara-negara lain atau situasi politik nasional. Dengan demikian, pemaknaan atas peran ibu –atau perempuan secara umum– adalah mengisi kedua ranah publik dan domestik yang sering kali didefinisikan dalam posisi biner, untuk masing-masing ditempati oleh laki-laki dan perempuan.

Bergerak ke Orde Baru, berkembang apa yang disebut Julia Suryakusuma sebagai state ibuism atau ibuisme negara. Dengan menjadikan kelompok PKK di Desa Buniwangi, Sukabumi, sebagai studi kasus penelitian tesisnya, Julia memperlihatkan bagaimana peribuan menjadi perantara hegemoni Orde Baru yang bersifat otoriter paternalistik. Organisasi perempuan seperti PKK dan Dharma Wanita, dengan nilai-nilainya yang mengedepankan peran ibu dan perempuan di ranah domestik, merupakan upaya terselubung negara untuk menguasai rakyat. Bersamaan dengan itu, negara turut membentuk konstruksi sosial tentang ”ibu ideal”, yakni istri yang setia menjadi pendamping bagi suami, perempuan yang melahirkan dua anak, dan ibu yang menjalankan peran-peran domestik. Menariknya, kejatuhan Orde Baru pada 1998 pun tidak bisa dipisahkan dari peran perempuan, salah satunya berkat taktik perlawanan yang dilakukan oleh Suara Ibu Peduli (SIP). Kelompok tersebut menjadikan susu, komoditas yang kerap dilekatkan dengan peran ibu di ranah domestik, sebagai senjata untuk menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah otoriter.

Semenjak saat itu, makin luas dan mendalamnya pengetahuan terkait isu-isu gender dan keperempuanan turut melahirkan fenomena-fenomena baru yang berkenaan dengan ibu dan keibuan. Perdebatan seputar diskursus ibu dan keibuan tidak lagi terbatas pada peran di ranah publik dan/atau ranah privat. Dewasa ini kita telah menyaksikan bagaimana perempuan dengan sadar mengambil keputusan untuk tidak menikah atau tidak memiliki anak. Di sisi lain, kita juga melihat semakin maraknya fenomena-fenomena seperti mengadopsi anak (alih-alih melahirkannya) dan single parent –baik itu perempuan maupun laki-laki yang merawat anaknya tanpa pasangan. Hal-hal tersebut menuntut jawaban-jawaban baru atas sejumlah pertanyaan yang sempat diutarakan sebelumnya. Siapa yang patut dianggap sebagai ibu? Apa peran yang semestinya dijalankan ibu? Seperti apa sosok ibu yang ideal? Jawaban-jawaban baru tersebut hanya bisa diperoleh jika kita melakukan pemaknaan ulang atas ibu dan keibuan dengan menjadikan berbagai fenomena kontemporer sebagai pertimbangan.

Pada titik inilah kita perlu meninjau kembali perayaan Hari Ibu yang sampai hari ini masih dipagari dengan berbagai warisan konstruksi sosial dari era yang sudah lampau. Hari Ibu yang lebih inklusif adalah Hari Ibu yang mengakomodasi keberagaman pemaknaan atas ibu dan keibuan. Seorang ibu kini bisa saja seseorang yang menjalankan perannya sebagai orang tua biologis atau non-biologis, atau bahkan mereka yang sama sekali tidak melakukan hal-hal tersebut. Dengan demikian, Hari Ibu akan menjadi hari yang memerdekakan dan mengemansipasi berbagai peran, berbagai keputusan, dan berbagai pemaknaan. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore