
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Sains acap kali dipersepsikan sukar dan rumit, amat jauh dari kesan menyenangkan. Sains pun terkadang dipandang tidak lekat dengan keseharian kita, sering disempitkan saja sebagai metode yang terlampau rigid.
SAINS jika ditelisik dari akar katanya, yakni scientia, berarti pengetahuan. Ketika diterapkan, sains terdiri atas tahap-tahap spesifik seperti observasi, lalu uji coba, yang dilakukan secara konsisten hingga suatu temuan dapat diverifikasi. Memang, pada satu sisi, sains sebagai bidang berisi terminologi teknis, juga rumus-rumus yang serasa memusingkan untuk dihafalkan, tetapi sains dapat dimaknai dengan cara berbeda.
Sains bagi saya lebih mendalam dari soal keilmiahan saja atau kaidah saintifik semata. Jika mengutip dari ilmuwan yang berjasa memopulerkan sains dengan bahasa sastrawi, Carl Sagan, sains bermakna sebagai sumber inspirasi. Ia menuturkan dalam bukunya yang berjudul The Demon-Haunted World, Science as a Candle in the Dark (1995), ”Sains tidak saja selaras dengan spiritualitas. Sains adalah sumber inspirasi yang mendalam. Ketika kita menyadari tempat kita di dalam megahnya tahun cahaya dan lintasan masa, pada saat kita menangkap seluk-beluk, keindahan, kehalusan kehidupan, maka rasa melambung, serta gabungan antara kebahagiaan dan kerendahan hati, sudah tentu adalah pengalaman spiritual.”
Sains jika diteropong secara filosofis merupakan penelusuran yang menyangkut bagaimanakah sains bekerja hingga memahami perkembangan teori-teori ilmiah. Meski demikian, pada dasarnya secara filosofis kita dapat menggarisbawahi karakter dari berpikir saintifik, yakni berciri bebas, kritis, juga rasional. Sains membutuhkan ruang yang memberdayakan individu dalam situasi yang bebas untuk bertanya, mengangkat berbagai persoalan termutakhir, serta mengajukan cetusan baru.
Rencana perubahan nomenklatur di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjadi tiga nomenklatur; Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Kebudayaan; adalah perubahan yang penting untuk dicermati bersama. Dibunyikannya istilah sains pada satu sisi apakah dapat dimaknai sebagai penekanan pada pengembangan sains? Walau, patut pula dipertanyakan apakah pengembangan sains dalam hal ini hanya berurusan nantinya dengan pencapaian hilir dari pendidikan yang erat dengan pemenuhan industri?
Padahal, pengembangan sains dalam hal ini perlu dilakukan dalam langkah-langkah strategis. Pada tataran fondasional, kita harus membayangkan bahwa munculnya terobosan dalam sains memerlukan budaya keterbukaan serta penghargaan pada ekspresi, eksplorasi yang dilakukan oleh individual sehingga muncul ide-ide yang otentik. Secara paralel perlu komitmen finansial pemerintah agar memungkinkan terbentuknya infrastruktur yang berasas aksesibilitas yang adil agar terbangun ekosistem yang menyuburkan inovasi dan kolaborasi multidisiplin. Penelitian saintifik dalam konteks ini tidak lagi hanya dimengerti sebagai ilmu alam, tetapi juga keterhubungan dan kerja sama dengan peneliti bidang ilmu sosial.
Mengasuh budaya yang mencintai sains bukan urusan yang mudah, menimbang data statistik yang menunjukkan minat yang rendah terhadap sains, misalnya data yang dikumpulkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada tahun 2021 menyatakan bahwa minat mahasiswa mendaftar pada program studi sains dan teknologi hanya sebanyak 32,1 persen. Begitu pula laporan yang disampaikan oleh survei Programme for International Student Assessment (PISA) bahwa minat meniti karier di bidang sains rasionya 1:7 dibandingkan negara-negara lainnya yang mencapai 1:4.
Carl Sagan mengutip Friedrich von Schiller tentang dua cara pandang yang berbeda terkait sains. Schiller mengatakan, ”Bagi sebagian orang, sains adalah dewi yang diagungkan. Bagi yang lain, sains adalah sapi yang memberinya mentega.” Pada satu pihak, sains tidak dibedakan dari kerinduan insan terhadap nilai kearifan, keindahan, kebaikan, dan kebenaran. Rasa kagum dalam sains adalah bagian dari dunia yang dihayati. Di pihak lainnya, sains dipandang sebatas alat saja. Sains dimanfaatkan sebagai instrumen praktis demi keuntungan saja. Sains hanya berupa sarana yang digunakan untuk mendapatkan hasil tertentu.
Landasan filosofis dalam sains memungkinkan kita membayangkan bahwa sains tidak terisolasi dari etika. Kepekaan etis di dalam mengembangkan sains berarti rasa tanggung jawab terhadap implikasi dari pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan beserta dampaknya pada masyarakat. Carl Sagan dalam bukunya Broca’s Brain menegaskan keutamaan kita mengembangkan sains untuk memecahkan berbagai problem yang dihadapi oleh manusia. Ia menggarisbawahi krisis lingkungan hidup yang mengancam tidak saja bagi manusia, tetapi bagi seluruh spesies yang membentuk keseimbangan rapuh di planet bumi.
Pada titik kritis ini, kepekaan saintifik adalah kreativitas yang muncul dari renungan serta kepedulian yang mendalam terhadap kondisi ketidaksetimbangan lingkungan hidup yang tengah terjadi. Kreativitas untuk menghasilkan orisinalitas sesungguhnya adalah bentuk refleksi dan introspeksi dari praktik maupun paradigma lama, yang kemudian ditantang. Kreativitas semacam ini yang melibatkan ketajaman ilmiah yang beriringan dengan empati sosial ekologis. (*)

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
12 Kuliner Nasi Pecel Enak di Jember, Perpaduan Sayur Segar, Rempeyek dan Bumbu Kacang yang Sedap
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
