Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Juni 2024 | 20.41 WIB

Kairos dan Putus Asanya Kekuasaan

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Kali pertama melihat Kairos di Rak Aanbeveling alias Rekomendasi di Mayflower Bookshop di Leiden, saya langsung membawanya ke rumah setelah membayar 20 euro.

Pertama, saya suka judulnya. Kedua, sangat jarang toko buku di Leiden yang menjual buku berbahasa Inggris. Kebetulan yang ada di tangan saya bukan edisi bahasa asli (Jerman) terbitan Penguin Verlag (2021), melainkan edisi bahasa Inggris oleh Granta Books (2023).

”Saya suka. Saya beli beberapa. Kamu mengambil stok terakhir,” kata Erl, laki-laki 50 tahun yang mengaku hanya datang seminggu sekali ke toko buku miliknya itu. ”Kalau ingin melihat cinta, obsesi, dan kerapuhan runtuh layaknya akhir hayat Tembok Berlin, buku ini untukmu,” katanya sebelum meninggalkan toko itu.

Sebagaimana alasan pertama, saya mengira karya Jenny Erpenbeck ini berlatar Kairo atau, paling tidak, tentang laki-laki bernama demikian. Ternyata saya kecele. Ini adalah tentang perselingkuhan berlatar Jerman 1980-an.

Hans vs Kepolosan

Dikisahkan, menjelang berakhirnya Republik Demokratik Jerman, Hans bernostalgia dengan masa kecilnya yang ditandai dengan ketidaktahuannya akan sejarah. Hal ini tecermin dalam perlakuannya terhadap Katharina, yang berawal dari ketertarikannya pada kepolosan remaja itu:

”Kesenangannya tidak akan sebesar itu jika wajah Katharina tidak terlihat begitu polos,” tulis Erpenbeck.

Pembaca kemudian, pelan-pelan, diajak memahami pria paro baya itu: Tumbuh besar selama Perang Dunia II, ketika orang tuanya pindah dari Riga di Latvia ke Gotenhafen (sekarang Gdynia) di Polandia, Hans yang masih kanak-kanak tak menyadari bahwa mereka (baca: ia dan keluarga) telah mendapatkan hadiah rumah dari Yahudi, bangsa yang menjadi korban dalam peristiwa Holocaust, pembantaian Yahudi yang ditengarai oleh Hitler.

Rasa bersalah pun tumbuh. Perasaan itu menggunung dan bercampur iri ketika ia bertemu dengan gadis 19 tahun bernama Katharina. Ia sulit menerima bahwa gadis itu hidup bahagia dalam kepolosan.

Untuk menggambarkan ini, dengan ciamik Erpenbeck menulis:

Dia tidak dapat mengingat saat dalam hidupnya ketika dia tidak mengetahui bahwa di Jerman, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan permulaan. Dia tahu bahwa hanya lapisan tanah yang sangat tipis yang tersebar di atas tulang-tulang, abu para korban yang dibakar, bahwa tidak ada jalan lain bagi orang Jerman selain di atas tengkorak, mata, mulut, dan kerangka, yang setiap langkahnya bergerak. Dan kedalaman ini adalah ukuran dari setiap jalan, baik seseorang mau atau tidak.

Kompleksitas dalam Metafora

Dengan gayanya yang metaforis (bahkan cenderung puitis), kita bisa merasakan bagaimana kompleksitas Hans yang harus menanggung beban masa lalu, baik sebagai Jerman yang terpecah belah maupun Nazi yang menyebabkan Holocaust. Dengan perasaan cintanya kepada gadis kecil yang belum bisa menjangkau bagaimana tidak sederhananya menjadi orang dewasa yang menanggung dosa bangsanya yang rasis di masa lalu, Hans diperangkap oleh egonya.

Ya, hubungan Hans-Katharina yang semula canggung memang sempat melempar mereka ke dalam skena-skena romantis, tapi itu tidak lama. Setelahnya, hanya kekerasan dan kekejaman yang tersisa. Hans menguasai Katharina sebagaimana kemarahan erat memeluknya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore