
ILUSTRASI
Oleh SETYANINGSIH
Pada suatu percakapan singkat tidak direncanakan, seorang teman mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan studi doktoral di ”luar”. Tanpa harus menyebutkan negara tujuan secara spesifik, ”luar” yang dimaksud dapat dipastikan negara-negara keilmuan terdepan di Benua Eropa atau Amerika.
SEKALIPUN Negara Kosovo secara administratif tercatat sebagai bagian dari Benua Eropa dan dengan tepat bisa disebut ”luar negeri”, besar kemungkinan negara itu tidak (akan) masuk radar studi doktoral teman saya –atau bagi para akademisi muda pada umumnya.
Memang, istilah ”luar” telah umum mengemas urusan bersekolah, berkarier, berlibur, membeli tas, berbelanja parfum, atau sekadar mencicipi sebatang cokelat. Luar adalah patokan yang dipakai untuk membentuk citra –bahkan misalnya citra itu sebenarnya menunjukkan suatu kebutuhan, seseorang tidak ingin orang lain memandang kebutuhan itu asal-asalan saja. Bagi orang Indonesia yang umum Anda temui di kehidupan sosial atau keseharian media sosial, agak mustahil segala hal ”luar” yang diangankan adalah negara-negara seperti Timor Leste, Papua Nugini, atau Ethiopia misalnya.
Namun, Anda boleh sedikit membandingkan dengan pengalaman anak SD bernama Nur Saka yang pernah menarik perhatian pada 2018. Bisa dibilang, Saka sangat sering pergi pulang dari/ke ”luar” negeri. Orang tua Saka bekerja di Tebedu, Malaysia, sebagai pekerja migran. Saka memilih tetap bersekolah di Indonesia (Entikong, Kalimantan Barat) –hampir setiap hari melewati pos lintas batas negara.
Masyarakat tentu menyukai informasi semacam ini –seorang anak sendirian bepergian ke luar negeri dengan berjalan kaki– bukan mendorong koper menaiki pesawat terbang. Istilah luar bukan lagi ihwal keistimewaan tempat sekaligus citra yang membentuknya. Meski Saka ”hanya” pergi ke sekolah di tanah air yang telah menjadi ”luar” negeri baginya, perjalanan harfiah-fisik ini justru terlihat wah. Sekolah Saka mungkin tidak sebagus sekolah anak Anda yang berlabel internasional di Jakarta atau Solo. Saka harus pergi ke ”luar” untuk rutinitas alih-alih kepentingan populer yang jamak dan sesaat.
Lumrah menyebut benda atau jasa dengan ungkapan ”buatan luar”, ”dari luar”, ”lulusan luar”, bahkan sekadar ”kayak bikinan luar”. Apa pun yang bercita rasa luar seolah menjamin mutu sekaligus mempertajam kesan bagus. Salah satunya, promosi sebuah buku bacaan anak yang belakangan saya lihat di Instagram. Ujaran promosi buku cerita bergambar oleh penulis dan ilustrator Indonesia (diterbitkan-dicetak di Indonesia dan ditujukan bagi pembaca Indonesia pula) memang sangat provokatif, ”Buku Indonesia rasa luar negeri, emang boleh???”
Rasa ”luar” yang dimaksud adalah buku dicetak hard cover dengan dust jacket, ukuran buku ideal, fitur halaman long spread, dan ilustrasi-cerita yang heartwarming (istilah-istilah berbahasa Inggris di promosi ini sepertinya lebih sulit dimengerti jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia). Tidak kalah penting, buku ditulis dalam bahasa Inggris yang semakin mengafirmasi rasa ”kayak buku luar”.
Istilah ”luar” begitu tajam melambungkan kualitas, tapi justru tidak berhasil mengaburkan kerendahan diri atau kelatahan bahwa buku diproduksi oleh orang Indonesia. Jika buku anak lokal memiliki kemasan bagus dengan teks-ilustrasi mumpuni, seolah itu pencapaian para penulis-ilustrator dalam negeri yang sulit dipercayai. Bahkan mungkin sampai 15 tahun ke depan, buku lokal yang bagus akan tetap dengan enteng disebut ”kayak buku luar”!
Ini baru soal melihat buku dalam arti harfiah, belum tentang prinsip dan sikap. Maka ketika suara pembebasan untuk tanah Palestina bergaung beberapa waktu ini, Anda menyaksikan bahwa ”luar” –dalam kasus ini cenderung berarti segala hal tentang Barat– dikecam secara kolektif. Anda boleh agak terkejut, masyarakat Indonesia yang tergila-gila dengan apa pun yang berasal dari Barat bisa juga memandang produk populer lebih dari sekadar benda. Bahwa, memakan produk ayam goreng kriuk merek tertentu berarti menyepakati genosida pada anak-anak Palestina atau menyeruput kopi dari kedai anu sama dengan menyumbang senjata pemusnah warga sipil tidak bersalah.
Bahwa sesungguhnya, setiap dari kita yang hidup dalam situasi pascakolonial sebagai s(u)atu bangsa memiliki ketegangan (personal) antara Barat dan Timur. Barat ingin direngkuh karena ia selalu terlihat beradab, maju, dan keren meski di waktu tertentu ada jarak yang ingin dibuat. Timur secara geografis adalah ruang mengakar, tapi diyakini tidak cukup kuat membentuk kepercayaan atas jati diri. Anda menolak ayam goreng, kopi, minuman bersoda, atau keripik kentang (dari) sana sekaligus tetap mengangankan flaneri di jalanan Kota Paris, memiliki produk teknologi bergambar apel, bertolak ke Disneyland usai menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci, atau melamar kekasih dengan latar ikonik Kota London.
Baca Juga: Manekin Harus Lebih Realistis
Penulis Thailand, Pira Sudham, menggambarkannya dengan presisi dalam buku Negeri Hujan (1999). Lahir dari keluarga petani di Lao, mental sebagai orang Thai membentuk cara pandangnya tentang Asia dan Eropa. Prem, salah satu tokoh terpelajar dalam buku ini, menginjakkan kaki di London oleh keringat sanak famili buta huruf yang teguh menggarap sawah. Hal-hal ”luar” terkadang memang begitu terang, bahkan bagi seseorang dari negeri yang tidak pernah masuk dalam peta (jajahan) imperialisme.
Mungkin, menolak sekaligus merengkuh ”luar” sama-sama menjadi upaya eksistensial sebagai warga negara dunia. Dan demi ketegangan ini, nasihat misterius dari salah satu tokoh di novel Orhan Pamuk berjudul The Black Book (2016) terdengar begitu tepat, ”Oh, kau makhluk-makhluk tak beruntung, menatap ke Barat dari sebuah kapal yang menuju Timur!”
Nah, emang boleh (se)luar itu?

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
