ILUSTRASI: NINA/JAWA POS
Bencana Medang Kamulan bermula dari dapur. Seorang koki muda tak sengaja memotong kelingkingnya. Jari mungil itu bercampur hidangan dan termakan Dewata Cengkar. Sang prabu doyan. Ia mau daging muda lagi. Petaka merebak. Negeri defisit anak muda. Di saat-saat krisis seperti itulah seorang pahlawan harus tampil ke atas panggung. Ia bernama Aji Saka.
SEBUAH dongeng tetap relevan karena ia berbicara di zaman kita. Seperti kisah Dewata Cengkar yang perlu dibaca ulang agar mencerminkan kondisi kekini-disinian. Hikayat dari tanah Jawa tersebut adalah cerita tentang nafsu eksploitatif atas bumi gemah ripah loh jinawi –yang dipersonifikasi sebagai anak-anak muda. Di alam ide kuno, kemudaan kerap berasosiasi dengan fertilitas. Itulah mengapa di eskatologi Quranik, sang kebun (jannah) yang subur dihuni penduduk berusia awal tiga puluhan beserta para perawan yang dikhayalkan sebagai gadis-gadis eksotis.
Tapi, juga penting dari kisah tersebut, yaitu kehadiran Aji Saka sebagai persona yang mewakili kerinduan laten manusia akan keadilan. Di jagat tradisi Jawa, Aji Saka bukan satu-satunya tokoh yang merepresentasikan karakter pemimpin ideal. Kita menjumpai figur yang sama dalam legenda Ciung Wanara hingga Pangeran Dipanegara, sang Erucakra –sebuah gelar ratu adil Jangka Jayabaya.
Pada epos Mahabarata, Krishna memerankan inkarnasi Wisnu untuk mengembalikan keseimbangan kosmik yang dicederai kejahatan Kurawa. Meski demikian, Krishna bukan ratu adil. Sebab, alih-alih menerbitkan zaman keemasan sebagai konsekuensi kehadiran ratu adil, pasca kematiannya malah menjadi batu tonggak dimulaimya era Kaliyuga ketika lembu Andini susah payah berdiri di atas satu kaki untuk menyangga dunia yang dibebani tiga perempat moral sungsang manusia.
Sebagai simbol arketipe, sosok juru selamat tampil di berbagai kebudayaan. Kultus Kargo bangsa Pasifik bisa diletakkan pada konstelasi mitologi ini. Di Eropa, Raja Arthur merupakan legenda populer tentang prototipe pemimpin ideal yang sukses melepaskan negerinya dari invasi bangsa Saxon.
Pemimpin ideal juga kerap diceritakan sebagai satria piningit yang akan muncul untuk memperbaiki zaman edan. Syiah Dua Belas Imam, misalnya, meyakini pemimpin pemungkas mereka, Muhammad Al Mahdi, akan keluar dari persembunyian setelah moksa ke dimensi astral. Sementara itu, Kristus dipingit Langit untuk turun lagi di akhir zaman. Keduanya bertugas menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan.
Situasi terselubung kandidat ratu adil agaknya berhubungan dengan ”tabu penguasa” yang membatasi kontak antara sang pemimpin dan yang dipimpin. Masyarakat primitif percaya ”penguasa adalah pembawa kekuatan magis yang misterius dan berbahaya”, catat Sigmund Freud. Motif tabu penguasa mungkin juga melatari musabab sejumlah ratu adil dikisahkan pula sebagai seseorang yang berasal dari rakyat jelata. Seperti Musa, putra suku Lewi, yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Dalam kronik Yudeo-Kristiani, Raja Daud bernasab trah bukan siapa-siapa serta putranya, Raja Salomo, lahir dari rahim Batsyeba, mantan istri prajurit rendahan. Maka, gagasan James Frazer bahwa ”kerajaan-kerajaan pertama berwatak despotik” menjadi masuk akal jika dikaitkan dengan alasan rakyat butuh pemimpin dari kalangan mereka sendiri lantaran kaum aristokrat dianggap menyelewengkan kekuasaan. Hingga kini, citra pemimpin mesianik dari umat kebanyakan terus direproduksi dalam fiksi dan Hollywood, dalam The Chronicles of Narnia dan Alice in the Wonderland.
Lalu, apa arti adil pada ”ratu adil”? Adil lazim didefinisikan sebagai sifat ”sama berat”. Singkatnya: setara. Tapi, apakah kesetaraan itu eksis? Bahkan, di lapisan biologis dan interaksi natural, kesetaraan tak ada. Meski demikian, dalam bahasa Indonesia serta bahasa Arab di mana kata tersebut bersumber, adil juga berarti ”sepatutnya”, ”menyesuaikan”, dan seterusnya.
Membayangkan masyarakat nirhierarkis di negara bekas monarki dan sisa feodalisme kolonial merupakan aspirasi yang nyaris utopis. Itulah mengapa gerakan politis Syekh Siti Jenar yang menyetarakan kawula (abdi) dengan gusti (raja) menjadi subversif. Di Indonesia, demokrasi tak pernah utuh secara konseptual dan praktik. Ia kuasi demokrasi yang cuma dioperasikan pada politik elektoral.
Maka, di dunia yang bertingkat, keadilan mestinya tidak hanya dimaknai ”sama rata”, tetapi ”sama rasa”. Artinya, hak-hak seseorang dipenuhi sesuai dharma, tugas yang diperankannya di dunia. Di republik demokrasi yang matang, wibawa seorang pemimpin bisa ditakar dari seberapa berdaya ia mengelola kedaulatan rakyat sehingga mampu mendistribusikan keadilan dengan arif. ”Demokrasi ada di kepala, bukan di mesin,” tukas Vijay Prashad.
Dalam kosmologi Jawa, tegas Benedict Anderson, kuasa seorang pemimpin akan memudar jika ia pamrih, apalagi tamak –satu dari tujuh dosa mematikan ala Santo Gregorius Agung. Ketika dapur Dewata Cengkar tak lagi menyembunyikan keserakahan, ketika kata dapur dilepaskan dari idiom ”rahasia dapur”, ketika seorang pemimpin membeberkan watak rakus tanpa urat malu, di situlah zaman Kalabendu berkacak di depan mata.
Kerinduan terbenam terhadap sosok ratu adil akan meledak bila rakyat berhadapan dengan imam yang gemar memperdagangkan tanggung jawab. Maka, kehilangan pamor adalah harga yang harus dibayar seorang pemimpin yang mengamalkan perjanjian satanik dengan syahwat kekuasaan. ”There’s no such thing as a free lunch,” ucap Milton Friedman. Tak ada makan siang gratis. (*)

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Tak Ada Timnas Indonesia U-17! Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U-17 2026 Usai Thailand Dikalahkan Laos
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
