Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 November 2023, 14.00 WIB

Seniman di Teater Pilpres

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Peristiwa politik telah jadi tontonan di media arus atas dan bawah (medsos). Ini terjadi ketika jagat citra jadi kekuatan determinan atas berbagai kehadiran (orang, lembaga, dan entitas lainnya).

Politik pun menjelma jadi teater. Begitu juga Pilpres (Pemilihan Umum Presiden) 2024.

TENTU, Pilpres 2024 bukan teater yang serius ala William Shakespeare seperti lakon Hamlet. Juga bukan teater absurd ala Ionesco (Kursi-Kursi) dan Samuel Beckett (Menunggu Godot) serta teater epik ala Bertolt Brecht (Lingkaran Kapur Putih). Namun teater yang cenderung ngepop: penuh gebyar dan menghibur. Di dalamnya ada banyak peristiwa dramatik yang mengaduk-aduk emosi penonton. Semakin tegang dan dramatik, teater pilpres dianggap semakin menarik. Apalagi dibumbui gimik dan suasana melodramatik. Semua dilakukan demi pamrih elektoral.

Di dalam teater pilpres, substansi ide/pesan sosial yang mencerahkan dan menimbulkan katarsis cenderung dikesampingkan. Sebab, yang penting ”tontonan” sukses dan penonton senang (baca: menang dalam kontestasi capres berkat dukungan besar elektoral publik).

Pendidikan politik publik? Para politikus bisa mengelak, ”Ini kompetisi murni. Yang ada hanya petarung dan botoh politik. Tak ada guru politik, apalagi guru bangsa! Meraih kekuasaanlah yang jadi tujuan utama.”

Di dalam teater Pilpres 2024 yang semakin terasa ngepop dan cair, para aktor politik tak ubahnya selebriti/pesohor. Mereka tampil penuh gebyar. Mereka melakukan berbagai upaya untuk mendekati dan memersuasi publik agar memilih mereka, misalnya hadir dan beraksi pada acara-acara sosial dan budaya yang melibatkan massa.

Sosok penderma pun mereka mainkan: membagi uang, sembako, kaus, makanan, dan lainnya. Juga tampil sebagai sosok orang arif bijaksana yang selalu bilang, ”Politik harus bersih, jujur, dan menjunjung martabat.”

Mereka mengaku antipolitik uang, tapi kepada para pendukungnya politikus bisa bilang, ”Kalau ada yang ngasih uang, terima saja, tapi pilihan saudara-saudara harus tetap sesuai hati nurani.” Maksud pilihan ”sesuai hati nurani” tentu tak jauh dari capres yang diunggulkan sang politikus tersebut.

Seniman Partisan

Riuh. Gemuruh politik pilpres ternyata juga menggoda para pekerja seni/seniman untuk terjun. Mereka pun memberikan dukungan pada capres yang dinilai ideal: seide/seaspirasi, cocok, dan mampu memberi harapan.

Bolehkah seniman bersikap partisan? Sangat boleh. Itu soal hak memperjuangkan aspirasi politik.

Menjadi partisan berarti menjadi pendukung paham politik, partai politik, golongan tertentu. Hal ini sudah lazim di dalam sejarah politik Indonesia. Pada era Orde Lama, banyak seniman yang berafiliasi dengan parpol, misalnya Partai Nasional Indonesia/PNI yang membentuk LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional), misalnya penyair Sitor Situmorang yang dikenal dekat dengan Bung Karno.

Seniman-seniman yang lain menjadi anggota Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) bentukan Nahdlatul Ulama/NU yang waktu itu masih menjadi parpol, misalnya sastrawan/dramawan Asrul Sani dan sineas Usmar Ismail.

Adapun para seniman yang berhimpun di dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) bentukan Partai Komunis Indonesia (PKI), misalnya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, dan Utuy Tatang Sontani.

Era Orde Baru

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore