Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Oktober 2023, 17.40 WIB

Jalan Lain Biennale Jogja ke Muka Dunia

AMATI LANGSUNG: Sanne (A Pond Is a River of an Island/kanan) dan Ayos Purwoaji (kurator Biennale Jogja XVI/dua dari kanan) sedang berbincang menjelaskan karyanya kepada pengunjung. (GATARI SURYA KUSUMA for JAWA POS) - Image

AMATI LANGSUNG: Sanne (A Pond Is a River of an Island/kanan) dan Ayos Purwoaji (kurator Biennale Jogja XVI/dua dari kanan) sedang berbincang menjelaskan karyanya kepada pengunjung. (GATARI SURYA KUSUMA for JAWA POS)

Oleh ARDHIAS NAUVALY AZZUHRY

---

Ingatan paling gres saya tentang go international adalah Agnes Monica. Lalu paling kiwari tentu tukang gebuk macam Iko Uwais dan Yayan Ruhian. Sama sekali bukan kebetulan bila ketiganya baru dikatakan ”mendunia” saat berhasil napak di Eropa atau AS.

PENYAKIT. Ketika go international dianggap sinonim dari go USA dan go (Western) Europe. Bila orang abad pertengahan dianggap sinting ketika berpikir bumi pusat semesta, apa kata mereka tentang kita yang menganggap AS dan Eropa –tidak sampai seperlima bumi– adalah pusat peradaban. Namun tidak dengan Biennale Jogja. Di putaran keduanya, mereka masih ngotot enggan disihir AS dan Eropa dengan menawarkan konsep kunci: translokal.

Translokal

Translokal merupakan upaya kolaborasi yang spesifik antarkelompok budaya. Artinya, kerja sama tidak melulu dikerangkai nation –transnasional– seperti dua momen yang jadi inspirasi Biennale Jogja putaran pertama (2011–2021): Konferensi Asia-Afrika (KAA) dan Gerakan Non-Blok (GNB).

Lokal bukan kuper; lokal itu mengakar. Dan bukan macam akar yang menopang sebatang pohon, translokal lebih mirip rimpang: seperti jahe, tiap kelompok punya tubuhnya sendiri, namun saling berbagi ”nutrisi”.

Biennale Jogja putaran kedua (2023–2033) memungkinkan mitos dari Himalaya berjumpa dengan kisah bijak dari Merapi; begitulah kolaborasi Alyen Foning dan Matrahita. Keduanya dipertautkan bukan oleh kisah besar macam KAA dan GNB, melainkan oleh mimpi Alyen tentang perempuan Jawa dan kerisnya.

Yang penting adalah setelahnya. Alyen, bersama kolektif asal Jogjakarta ini, bertukar pandangan soal mitologi Merapi dan kosmologi adat Lepcha di lereng timur Himalaya. Terjun riset ke makam dan sowan ke para kuncen Merapi. Sebulan kolaborasi, mereka menemukan banyak irisan budaya.

Salah satunya adalah mitos naga penjaga alam. Orang Lepcha akrab dengan kisah Oong Sader, naga yang menjaga Sungai Teesta dari Gunung Kangchenjunga agar tidak kering dan tidak pula mengamuk. Sementara itu, warga lokal Merapi mengenal Api Naga Raja yang bersemayam di dalam kaldera dan bisa mencegah lereng longsor.

Secara artistik, percakapan diungkap lewat medium tekstil. Mereka merajut kain-kain bekas seolah sedang menjahit ingatan tercecer. Jadilah instalasi dengan bentuk rajutan yang mewakili kisah lokal yang merimpang tadi seperti naga dan gunung.

Dibawanya Alyen Foning tidak lepas dari kawasan mitra yang ditunjuk, yakni Asia Selatan yang dikuratori Sheelasha dan Hit Man. Di samping keduanya memang sedang meroket lewat kurasi Paviliun Nepal di Venice Biennale 2022, pemilihan Nepal secara sadar dilakukan untuk menantang bayangan monoton ”Asia Selatan = India etc”.

Seperti Alyen dan Matrahita, banyak seniman Nepal yang bermedium tekstil. Kesan metaforiknya atas ”menjahit sejarah” membuat Mekh Limbu dan Hit Man dengan longi atau sarung, seperti halnya Sony Rai dengan Tenun Kirat, mampu menariknya ke sejarah kolonialisme Inggris.

Transhistoris

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore