Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Oktober 2023 | 18.55 WIB

Estetika Seni Jalanan: Protes Mengharap Keadilan

ILUSTRASI

Setahun Tragedi Kanjuruhan

Setahun yang lalu, siapa yang tak bergetar mendengar telah terjadi sebuah tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang?

Siapa yang tak bergetar hatinya saat mendengar cerita dari orang tua korban yang menangis dan meratapi kepergian anak-anak mereka. Mereka yang seharusnya pulang malam itu, Tuhan berkehendak lain. Mereka tak pernah kembali.

RIBUAN Bonek yang merupakan seteru lama Aremania saja sampai membubarkan diri. Seusai pertandingan Arema FC vs Persebaya malam itu, 1 Oktober 2022, mereka sudah bersiap menyambut kepulangan tim Persebaya kembali ke Surabaya. Sekaligus merayakan kemenangan Persebaya atas Arema FC. Rencana awal penyambutan menjadi gagal. Bonek akhirnya kembali pulang setelah tahu ada kabar menyedihkan dari Malang. Kekhawatiran pun merebak menanyakan bagaimana kabar dari tim Persebaya.

Setahun berlalu dan pengadilan telah digelar, hasilnya tak memuaskan korban. Korban yang tak ikut masuk area lapangan sebagaimana ulah ratusan suporter yang malam itu menginvasi lapangan justru menjadi pihak yang terluka dan meninggal. Tak ada kabar hingga kini, bagaimana perasaan suporter yang masuk lapangan dan memprovokasi keadaan itu.

Panitia penyelenggara pertandingan yang abai pada jumlah tiket untuk mengeruk keuntungan seolah-olah ”lewat” begitu saja di pengadilan. Tiket yang justru diperbanyak dari kapasitas stadion tak dipersoalkan.

Risiko tinggi pertandingan pun tak mendapat perhatian dari pihak penyelenggara liga. Kondisi sekitar stadion dan riwayat pertandingan yang selalu ”panas” dianggap remeh untuk tetap menyelenggarakan pertandingan di malam hari.

Nyanyian penebar kejahatan yang malam itu selama pertandingan dinyanyikan seolah mengibaratkan betapa jahatnya apa yang terjadi kini. Korban tak mendapat tempat. Suaranya tak pernah didengarkan.

Politik Seni Jalanan

Dalam pandangan Jacques Ranciere, filsuf kiri asal Prancis (1940–...), politik adalah tindakan perlawanan subjek terhadap hierarki dan dominasi. Politik bukanlah laku perjuangan untuk menguasai dan bagaimana menggunakan kekuasaan. Politik adalah perlawanan, kata Ranciere.

Jika hierarki dan dominasi menubuh dalam federasi sepak bola, penyelenggara liga, manajemen klub, bahkan negara yang menerbitkan regulasi, perjuangan politik adalah melawan dominasi mereka.

Tak lama berselang setelah kekacauan berujung tragedi di Kanjuruhan terjadi, pos polisi serta tembok-tembok kota di Malang dikuasai oleh poster dan grafiti. Grafiti dan seni jalanan menunjukkan tajinya. Mereka menggugat. Keadilan ingin didapat.

Stadion Kanjuruhan sebagai titik penting terjadinya tragedi tak luput dari serangan poster dan grafiti. Tempelan poster dan coretan grafiti di tembok adalah laku politik estetika sebagaimana Ranciere pikirkan. Estetika dalam konsep Ranciere tidak berbicara tentang keindahan dan kesenangan subjektif. Estetika tidak melulu dilihat juga dalam konteks etik.

Estetika adalah kemampuan untuk melihat dan memahami adanya ketidakadilan sosial serta ketimpangan dalam kekuasaan. Ketika poster dan grafiti mengepung Malang dan juga Stadion Kanjuruhan, ia adalah karya seni yang politis.

Seni yang politis –dalam konsep Ranciere– adalah yang mampu mengungkap perbedaan pandangan (disensus) pada tatanan sosial, yang mengungkap ketidakadilan, dan mampu mengorganisasi tindakan kolektif untuk mencapai perubahan sosial. Seni jalanan yang seperti itu sangatlah diharapkan. Ia berani menginterupsi tatanan yang tak berkeadilan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore