Ilustrasi.
Keresahan itu sudah lama terdengar. Circa 2018, ketika saya dan sindikasi Nonton India masih mider memutar film India di sudut-sudut Jogja, obrolan soal itu sudah muncul: mewabahnya para penyanyi kover.
---
DI HALAMAN Buku Akik, toko buku yang kini telah jadi ikon literasi Jogja, kami memutar Rock On!! (2008), film yang berkisah tentang dinamika sebuah band rock di Mumbai yang mesti berhadapan dengan hegemoni dan keseragaman musik ala Bollywood. Saat itulah muncul refleksi tentang kondisi musik Indonesia terkini (baca: lima tahun lalu). Salah satunya tentang dilema para pencipta lagu: kalau bikin lagu jelek tak akan ditonton, kalau bikin lagu bagus akan dikover. Ujungnya, sama-sama buntung. Pertanyaannya kemudian, apakah mesti tetap dengan karya sendiri dengan risiko tak diterima, atau ambil langkah gampang dengan menunggang gelombang, nyanyi lagu orang lain yang sedang kondang?
Keresahan dalam diskusi itu saat itu diutarakan beberapa musisi yang tidak atau belum dikenal –pasti karena itu saya masih bergaul dan bisa ngobrol dengan mereka. Namun, saya rasa mereka menggaungkan keresahan kebanyakan musisi, dari yang tak dikenal hingga yang sangat tenar. Dan mereka jelas bukan yang pertama dan satu-satunya.
Sebagai pengingat, pada tahun itu juga Jerinx dari Superman Is Dead menumpahkan amarahnya di media sosial terhadap penyanyi Via Vallen. Via dituduhnya mengover lagu ”Sunset di Tanah Anarki”-nya SID tanpa izin sekaligus dianggap menghilangkan roh lagu tersebut. Jerinx vs Via ini kemudian jadi polemik yang ramai karena tak sedikit pihak yang membela Via.
Pongki Barata, mantan vokalis Jikustik sekaligus salah satu komposer lagu pop terpenting awal 2000-an, juga pernah membawa persoalan ini ke publik. Brilio memberitakan, pada Maret 2020, bersama beberapa musisi Pongki mengajak Felix Irwan dan Tami Aulia, dua penyanyi spesialis kover asal Jogja, duduk satu meja dan secara umum menjelaskan kepada keduanya, juga kepada para penyanyi kover lain, tentang unggah-ungguh hukum dan moral menyanyikan lagu orang. Di tahun yang sama, kalau tak salah ingat, Dewan Kesenian Jakarta juga mengadakan diskusi publik soal ini, dengan pokok bahasan yang kurang lebih sama: bagaimana kover lagu dari sisi hukum dan etik.
Seperti kebanyakan keluhan dan diskusi, ia tak benar-benar menyelesaikan masalah. Dua tahun pandemi, yang membuat ketergantungan orang pada gawai jadi sangat tinggi, kover lagu makin menjadi-jadi. Tak mengherankan keresahan itu juga terus berlanjut, jika bukannya makin mengeras.
”Mulai sekarang bikin lagu yang jelek. Biar gak viral dan gak akan dikover,” begitu cuitan sengak musisi Iksan Skuter setahun lalu. Sementara Is Pusakata, yang lagu-lagu ciptaannya sangat ramai dikover, belum lama ini mengunggah reel video bernada sarkas di IG-nya. ”Saya mau banting setir jadi musisi kover, biar bayaran saya lebih besar. Doakan saya ya,” katanya.
Sebagai penggemar dangdut, untuk saya keresahan ini seperti dejavu. Saya pikir, apa yang diresahkan Jerinx, Pongki, hingga Iksan dan Is, juga teman-teman musisi saya yang kurang dikenal, dan penikmat musik secara umum, adalah keresahan yang kurang lebih sama yang dialami para pencipta lagu dan penikmat dangdut secara umum ketika menghadapi koplo awal 2000-an.
Seperti yang pernah saya tulis pada 2015 (lihat Indoprogress, 10/3/2016), di luar karakter inovatifnya yang luar biasa secara musikal, dangdut koplo menunjukkan involusi terutama karena mereka nyaris tak menghasilkan karya mereka sendiri Nyaris semua puncak capaian subgenre ini disandarkan pada karya-karya yang bukan milik mereka atau yang sudah ada sebelumnya. Nama-nama paling tenar di koplo, dari Inul, Sodiq, hingga Nella Kharisma, identik dengan lagu milik orang lain.
Jika tak ada polemik berlebih seperti hari ini, barangkali karena saat itu belum ada media sosial. Apalagi, kecuali sangat sedikit orang, para pencipta lagu dangdut kebanyakan adalah nama-nama yang relatif anonim, yang tak punya cukup suara untuk didengar dan mengundang perhatian media. Ketika Rhoma Irama, nama paling dikenal di musik dangdut, mencoba membela musik yang dibangunnya dan melindungi lagu-lagu yang diciptakannya, seluruh upayanya tenggelam oleh kontroversi atas persekusinya terhadap Inul.
Pada dasarnya, pro-kontra yang meliputi fenomena koplo dan kover relatif mirip. Para pengkritiknya mencela mereka mulai tak etis hingga melanggar hak orang lain, tapi terutama tak kreatif. Sementara para pembelanya menyebut para pengover lagu, sebagaimana juga koplo, memberi hidup baru lagu-lagu lama yang barangkali publik sudah lupa atau mengangkat ulang lagu-lagu tak dikenal menjadi fenomenal (lagu ”Kereta Malam” dan ”Tiara” bisa jadi contoh). Sementara para penengah yang bijak mungkin lebih suka meredakan keributan dengan mengatakan, kover tak apa, yang penting hak pencipta lagu dipenuhi.
Masalahnya, keluhan-keluhan itu tak serta-merta selesai ketika hal-hal etis atau hukum telah dipenuhi. Sebab, keluhan itu pada dasarnya tak sepenuhnya berpangkal pada uang dan pengakuan. ”Sunset di Tanah Anarki” adalah lagu dengan lirik kacau dan pretensius, tapi tak sulit mengerti bahwa kemarahan Jerinx kepada Via Vallen bukan soal uang. Jika Rhoma Irama jarang memainkan ”Sebujur Bangkai” secara live karena lagu itu berat secara emosional, coba bayangkan bagaimana rasanya melihat orang lain membawakannya dengan jejingkrakan sambil sesekali teriak ”asolole”. Di luar itu, dalam banyak sekali kasus, ada asas keadilan yang sejak awal dilanggar: bahwa beberapa orang mengambil cara gampang di atas kerja-kerja sulit orang lain; bahwa ada orang-orang dengan semena-mena memanen tanaman yang susah payah ditanam dan disemai orang lain.
Namun, yang terdalam dari semua itu adalah involusi. Ketika pengulangan dan peniruan, dalam arti paling literer, berlangsung dalam skala besar dan dalam waktu yang panjang, kemacetan, kejumudan, pengerdilan, atau apa pun Anda menyebutnya, akan menanti Anda di ujung jalan. Sebagaimana koplo membuat semua orang menyanyikan lagu yang sama, dengan cara yang kurang lebih sama, penyanyi kover menjadi pengekor sekaligus mencipta pengekor baru di level paling gampangan.

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Tak Ada Timnas Indonesia U-17! Klasemen Runner-up Terbaik Piala AFF U-17 2026 Usai Thailand Dikalahkan Laos
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
