Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 18 Mei 2026 | 05.12 WIB

Kisah Nenek Jumariyah, dari Sepetak Sawah di Maros Jadi Ikon Haji

Nenek Jumariyah semringah usai melihat Ka'bah. Ia menjadi ikon indonesia untuk promosi haji internasional oleh Arab Saudi. (Bayu Putra/JawaPos.com/MCH 2026) - Image

Nenek Jumariyah semringah usai melihat Ka'bah. Ia menjadi ikon indonesia untuk promosi haji internasional oleh Arab Saudi. (Bayu Putra/JawaPos.com/MCH 2026)

 

JawaPos.com - Di bawah langit cerah Makkah pagi itu, lautan manusia berpakaian ihram bergerak bagai gelombang yang tak pernah putus. Di antara jutaan umat dari berbagai penjuru dunia, terselip senyum tulus dari wajah renta yang dipenuhi guratan kehidupan. Ia adalah Jumariah, seorang buruh tani berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang kisahnya baru-baru ini viral dan menyita perhatian dunia sebagai ikon global haji 2026.

Siapa sangka, perempuan renta yang langkahnya kini menapaki marmer dingin Masjidil Haram tersebut, menghabiskan puluhan tahun hidupnya dalam kesunyian yang syahdu di sepetak rumah sederhana di tengah hamparan sawah.

Jauh sebelum gemerlap kilat kamera ponsel menyorotinya, kehidupan nenek Jumariah berjalan dalam ritme yang sangat sederhana dan sunyi.

Selama lebih dari 20 tahun, ia hidup sebatang kara di sebuah rumah kecil yang dikelilingi oleh persawahan. Anak-anaknya memang ada, tapi kehidupan membawanya pada takdir untuk meniti hari-hari di masa tuanya dalam kesendirian yang mandiri.

Setiap hari, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Jumariah sudah terbangun. Tidak ada asisten rumah tangga atau perabotan mewah. Ia memulai harinya dengan memberi makan ayam-ayam peliharaannya, menyapu pekarangan, lalu berjalan mengambil air untuk mencuci pakaian.

Setelah mandi dan menyantap sarapan alakadarnya, ia tidak lantas beristirahat. Langkah rentanya akan menyusuri pematang menuju kebun yang tak jauh dari rumahnya, lalu berlanjut ke sawah milik orang lain, tempatnya mengabdi sebagai buruh tani.

Tangannya yang kasar adalah saksi bisu dari kerasnya kehidupan, membersihkan rumput liar dan merawat tanaman dengan penuh ketelatenan hingga matahari terbenam. Pulang ke rumah, ia kembali membersihkan diri, menyisakan lelah yang ditidurkannya dalam doa-doa panjang.

Bagi sebagian orang, pergi ke Tanah Suci adalah soal menunggu bonus tahunan cair atau menjual aset berharga. Namun bagi Jumariah, panggilan Baitullah dijawab dengan keringat, kesabaran, dan sebuah ember plastik yang diletakkan di sudut rumahnya.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore