Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Juni 2025 | 09.02 WIB

Menteri PPPA Dorong Inovasi Layanan Haji yang Lebih Nyaman bagi Jemaah Perempuan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com) - Image

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

JawaPos.com – Kepulangan jemaah haji Indonesia mulai berlangsung sejak Rabu (11/6). Namun di tengah proses pemulangan tersebut, evaluasi demi penyelenggaraan haji yang lebih baik di tahun-tahun mendatang terus bergulir.

Salah satu evaluasi penting datang dari anggota Amirul Hajj yang juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi yang ingin mewujudkan penyelenggaraan haji yang lebih ramah terhadap jemaah perempuan.

Dalam wawancara yang dilakukan di Jeddah pada Selasa (10/6), Arifah –sapaan akrabnya– menyoroti fakta bahwa mayoritas jemaah haji Indonesia tahun ini adalah perempuan, yakni sekitar 55 hingga 60 persen. Sayangnya, komposisi petugas haji perempuan belum mencerminkan proporsi tersebut.

“Kita ingin membangun haji yang ramah perempuan. Maka ini harus diimbangi jumlah petugas perempuan yang sebanding,” ujarnya.

Menurut Arifah, keberadaan pembimbing ibadah (bimbad) perempuan menjadi sangat penting, mengingat jemaah perempuan memiliki kebutuhan spiritual yang lebih nyaman jika dikonsultasikan dengan sesama jenis. Selama ini, jumlah bimbad perempuan masih sangat terbatas.

“Perempuan mempunyai kebutuhan bimbad yang berbeda dengan laki-laki. Ada hal-hal khusus yang hanya bisa dikonsultasikan dan nyaman untuk dikonsultasikan bila bimbad-nya perempuan,” tegas Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama itu.

Lebih lanjut, Arifah juga menyinggung persoalan fasilitas fisik bagi jemaah perempuan, seperti jumlah toilet yang masih kurang memadai. Ia menyarankan agar ke depan rasio toilet perempuan ditambah, mengingat durasi penggunaannya lebih lama dibanding laki-laki.

“Fasilitas toilet harusnya lebih banyak untuk perempuan daripada laki-laki. Mudah-mudahan tahun depan bisa dicarikan solusinya dengan koordinasi dengan pihak syarikah atau pemerintah Arab Saudi,” katanya.

Dia juga menilai perlu adanya sistem rekrutmen petugas haji yang mempertimbangkan aspek bahasa daerah dan latar belakang sosial budaya. Sebab, sebagian besar jemaah Indonesia adalah masyarakat akar rumput yang belum pernah bepergian jauh, apalagi ke luar negeri.

“Petugas yang satu daerah itu bisa memperkuat secara psikologis. Paham juga apa yang harus dilakukan. Pelatihan-pelatihan secara berkala perlu dilakukan agar petugas benar-benar siap di lapangan,” imbuhnya.

Mewujudkan haji ramah perempuan menurut Arifah bukan sekadar soal kuota atau fasilitas, tetapi juga mencakup pendekatan pelayanan yang sensitif terhadap kebutuhan spesifik jemaah perempuan. Ia berharap evaluasi ini bisa dibawa ke dalam forum lintas kementerian dan lembaga untuk perbaikan haji tahun depan.

“Saya apresiasi semangat luar biasa dari para petugas haji kita. Tapi saya juga ingin ke depan, layanan kepada jemaah perempuan mendapat perhatian lebih serius dan sistemik,” pungkasnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore