
Ilustrasi Bank Indonesia
JawaPos.com - Independensi Bank Indonesia dinilai menjadi lapisan perlindungan penting bagi perekonomian ketika pengelolaan fiskal menghadapi masalah. Tanpa independensi, Bank Indonesia dikhawatirkan kehilangan ruang untuk menjalankan kebijakan moneter secara mandiri, terutama ketika tekanan terhadap nilai tukar dan stabilitas ekonomi meningkat.
Hal tersebut disampaikan Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), dalam diskusi Economic Frontline bertajuk Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi: Menakar Tren Managed Interdependence Global dan Implikasinya terhadap Bank Indonesia di Javarock Kemang, Kamis (20/8).
Nailul menilai posisi Bank Indonesia saat ini tidak lagi sepenuhnya independen. Ia menggunakan istilah shadow independence untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Saat krisis 1998, rupiah mengalami pelemahan tajam terhadap dolar AS, dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp16.000. Menurut Nailul, salah satu pelajaran penting dari periode tersebut adalah perlunya independensi bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Yang saya khawatirkan bahwa ketika ini sudah tidak independen, siapa lagi yang bisa menjaga ketika nilai tukar Rupiah kita ketika terjun bebas,” kata Nailul.
Ia menilai Bank Indonesia memiliki posisi penting ketika tekanan terhadap rupiah meningkat. Dalam kondisi tersebut, otoritas moneter memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan perekonomian.
“Karena saat Rupiah terpuruk, tugas Bank Indonesia menyeimbangkan. Saya boleh katakan bahwa independensi Bank Indonesia sebagai gerbang terakhir bagi perekonomian kita ketika fiskal kita ini buruk dalam pengelolaannya,” terangnya.
Nailul juga mengingatkan agar independensi Bank Indonesia tidak kembali dihapus sehingga bank sentral berada langsung di bawah pemerintah atau Kementerian Keuangan.
“Kita tidak berharap nanti misalkan independensi dihilangkan, dibawah pemerintah lagi ataupun di bawah kementerian keuangan, karena itu justru akan memundurkan lagi ekonomi kita menjadi ekonomi masa purba. Kita sudah modern, sudah free-floating, sudah arus bebas dan sebagainya. Kita tidak boleh lagi kembali lagi ke zaman Orde Lama yang mana Bank Sentral disetir 100 persen oleh pemerintah,” ucapnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Pemerintah Bakal Menata Guru, PGRI Sebut Ada Harapan Baru bagi Pendidikan Indonesia
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Ipswich vs Sunderland: The Black Cats Berpeluang Curi Poin di Portman Road
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Ribuan Ojol Hadiri Kopdar Kebangsaan Jaga Jakarta, Ada Perpanjangan SIM Gratis
