Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Juli 2026 | 15.08 WIB

Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Terancam Anjlok ke Rentang Rp 17.920–Rp 18.970

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (23/7), setelah sebelummya ditutup melemah melemah 65 poin menjadi Rp 17.920 per dollar AS pada perdagangan Rabu (22/7).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (23/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.920-Rp 18.970," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Kamis (23/7).

Ibrahim mengatakan dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.

Pelaku pasar mempertimbangkan meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran, dimana pasukan AS mengatakan mereka mulai menyerang target militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut pada hari Selasa, menargetkan lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando dan kendali, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur militer lainnya, seiring Washington mengintensifkan kampanyenya melawan Teheran.

Akibatnya, Teheran melanjutkan serangan balasan terhadap posisi militer AS di seluruh wilayah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

“Selain itu, investor juga memantau gerakan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran setelah mengancam blokade angkatan laut yang memengaruhi pengiriman yang terkait dengan Saudi di Laut Merah, yang mendorong beberapa kapal tanker minyak untuk mengubah rute dan menimbulkan kekhawatiran atas ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia,” ujarnya.

Di sisi lain, Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuannya minggu depan, sementara kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September berada di sekitar 68 persen.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore