Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Juli 2025 | 22.12 WIB

BI Pangkas Suku Bunga Acuan 25 bps jadi 5,25 Persen

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) Juli 2025. (YouTube Bank Indonesia) - Image

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) Juli 2025. (YouTube Bank Indonesia)

JawaPos.com - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 15-16 Juli 2025 memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Begitu juga, suku bunga deposit facility sebanyak 25 bps menjadi 4,5 persen dan suku bunga lending facility turun 25 bps menjadi 6 persen. Penurunan ini sejalan dengan rendahnya inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat. Pasca pengumuman kenaikan tarif efektif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke beberapa negara maju dan berkembang. Kebijakan kenaikan tarif yang direncanakan berlaku mulai 1 Agustus 2025 akan memperlemah prospek pertumbuhan ekonomi dunia, khususnya di negara maju.

"Pertumbuhan ekonomi di AS, Eropa, dan Jepang dalam tren menurun di tengah ditempuhnya kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran kebijakan moneter di negara tersebut," ucapnya.

Begitu pula, kinerja ekonomi Tiongkok juga diprakirakan belum kuat. Mengingat, berbagai strategi diversifikasi ekspor maupun kebijakan fiskal dan moneter telah ditempuh otoritasnya. Sementara perekonomian India diprakirakan tetap baik didukung permintaan domestik.

"BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini masih belum kuat sekitar 3 persen dan dengan kecenderungan 2,9 persen," ungkap Perry.

Tekanan inflasi AS masih menurun. Sehingga mendorong tetap kuatnya ekspektasi arah penurunan Fed funds rate (FFR) kedepan. Pergeseran aliran modal keluar dari AS ke Eropa dan negara berkembang serta komunitas yang dianggap aman seperti emas terus berlanjut. Sejalan dengan meningkatnya risiko ekonomi AS termasuk risiko fiskal.

Perkembangan itu mendorong berlanjutnya pelemahan indeks mata uang dolar AS (USD) terhadap mata uang negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY). "Ke depan, kewaspadaan serta respons dan koordinasi kebijakan yang lebih kuat diperlukan guna memitigasi ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang masih tinggi. Serta menjaga ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri," jelas alumnus Iowa State University itu.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore