Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Juli 2025 | 19.22 WIB

Pembiayaan Korporasi BMS Tumbuh Double Digit, Fokus Sektor Rendah Risiko

Layanan transaksi di Bank Mega Syariah untuk kebutuhan haji. (Bank Mega Syariah untuk Jawa Pos) - Image

Layanan transaksi di Bank Mega Syariah untuk kebutuhan haji. (Bank Mega Syariah untuk Jawa Pos)

JawaPos.com - Penyaluran pembiayaan Bank Mega Syariah (BMS) tumbuh solid. Sejalan dengan perluasan segmen business-to-business-to-consumer (B2B2C) yang diterapkan perusahaan. Fokus pada sektor-sektor dan nasabah yang memiliki risiko rendah, namun berpotensi memberikan margin yang optimal.

Hingga Juni 2025, BMS mampu meningkatkan portofolio penyaluran pembiayaan korporasi lebih dari Rp 4,4 triliun. Tumbuh lebih dari 30,24 persen secara tahunan. Jumlah tersebut mencapai lebih dari 46,29 persen dari total pembiayaan sebesar Rp 9,5 triliun.

Corporate and Business Banking Division Head Bank Mega Syariah Guritno menjelaskan, penyaluran pembiayaan pada segmen korporasi memberikan kontribusi maksimal terhadap bisnis bank. Dia melihat peluang besar pada pembiayaan sektor industri infrastruktur, pembangkit listrik, agribisnis, mineral, energi, dan hilirisasi industri. Melalui structured finance atas kebutuhan investasi dan modal kerja bagi konglomerasi besar dan institusi yang kredibel, meliputi BUMN maupun swasta.

"Selain itu, dengan adanya syndication desk di Bank Mega Syariah, akan memperkuat pertumbuhan portofolio pembiayaan melalui pembiayaan sindikasi untuk bersinergi dengan bank dan institusi keuangan lain," kata Guritno, Minggu (13/7).

Untuk menjaga kualitas pembiayaan, lanjut dia, BMS menerapkan prinsip kehati-hatian dengan strategi penerapan manajemen risiko yang selektif dan prudent. Fokus pada perusahaan yang mempunyai profil risiko rendah. Namun mempunyai kapasitas keuangan dan daya tahan yang kuat. Khususnya, di kondisi perekonomian yang penuh tantangan seperti saat ini.

"Kami fokus pada sektor-sektor dan nasabah yang memiliki risiko rendah namun berpotensi memberikan margin yang optimal, sehingga pertumbuhan bisnis tetap selaras dengan prinsip kehati-hatian," terangnya.

Selain itu, pengembangan portofolio nasabah eksisting yang berkinerja baik juga terus dilakukan. Serta memonitoring kualitas pembiayaan untuk menjaga kualitas portofolio secara berkelanjutan.

BMS melihat prospek penyaluran pembiayaan untuk segmen korporasi masih akan menjadi primadona tahun ini. Terutama pembiayaan untuk proyek-proyek infrastruktur dan hilirisasi. Yang mana menjadi pendorong pertumbuhan portofolio pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2025, kredit korporasi secara nasional tumbuh 11,92 persen year-on-year (YoY). Berdasarkan jenis penggunaan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menjelaskan, kredit Investasi tumbuh tertinggi sebesar 13,74 persen YoY. Diikuti oleh kredit konsumsi 8,82 persen dan kredit modal kerja tumbuh 4,94 persen YoY. 

"Ditinjau dari kepemilikan, bank KCBLN (kantor cabang bank luar negeri) tumbuh paling tinggi yaitu 11,61 persen YoY," ungkapnya. 

Dian memastikan kinerja intermediasi perbankan stabil dengan profil risiko yang terjaga. Kredit tumbuh 8,43 persen YoY di Mei 2025 menjadi Rp 7.997,63 triliun. Meski, pertumbuhan tersebut lebih rendah dibanding April 2025 yang mencapai 8,88 persen YoY. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore