
Ketua AAUI Budi Herawan dan Wakil Ketua AAUI Bidang Teknik 3 Wayan Pariama dalam paparan kinerja kuartal I 2025. (Agas Putra Hartanto/Jawapos)
JawaPos.com - Industri asuransi umum masih mencatatkan kinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi dan pelemahan daya beli. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat pendapatan premi tumbuh tipis 0,3 persen year-on-year (YoY) senilai Rp 30,5 triliun. Asuransi properti menjadi penyumbang terbesar.
"Daya beli masyarakat yang menurun juga menjadi salah satu faktor yang tentunya mempengaruhi penurunan ekonomi Indonesia yang terpapar dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 Mei 2025 lalu," ucap Wakil Ketua AAUI untuk Bidang Statistik dan Riset AAUI Trinita Situmeang, akhir pekan lalu.
Asuransi properti masih menduduki posisi pertama di perolehan premi terbesar. Dengan kontribusi sebesar 25,55 persen dari total premi Rp 30,52 triliun. Tercatat, perolehan total premi mencapai Rp 7,8 triliun.
"Meski perolehan ini terkontraksi 14,1 persen dibandingkan dengan kuartal I 2024 lalu," ungkapnya.
Lini usaha asuransi kendaraan bermotor menjadi kontributor kedua pendapatan premi. Yakni memperoleh sebesar Rp 5,24 triliun. Secara tahunan, juga menurun sebanyak 5,3 persen.
Sementara asuransi kesehatan mencatatkan pertumbuhan premi 9,8 persen YoY. Meningkat menjadi Rp 3,77 triliun dari Rp 3,43 triliun pada kuartal I tahun lalu. Dengan adanya, skema co-payment produk asuransi kesehatan tambahan yang diatur dalam Surat Edaran OJK Nomor 7/SEOJK.05/2025 banyak yang berharap premi asuransi bisa lebih murah.
Wakil Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Bidang Teknik 3 Wayan Pariama menilai, hal tersebut belum tentu demikian. Skema co-payment, artinya nasabah harus menanggung sebagian biaya perawatan. Meski sudah memiliki asuransi tambahan.
Memang terlihat meringankan beban perusahaan asuransi. Namun dampaknya terhadap premi masih harus dihitung secara aktuaria. "Kami memperkirakan mungkin bisa jadi 3 sampai 5 persen (selisihnya). Tapi kalau harus menyebut angka, kami juga nggak berani bilang bahwa ini cukup agresif," jelasnya.
Perbedaan harga premi sejalan dengan skema co-payment justru bergantung terhadap perilaku nasabah. Jika tidak ada perubahan dalam pola pemanfaatan layanan kesehatan, maka potensi penghematan juga minim. Selain itu, premi tidak otomatis turun karena penentuan harga tetap mengacu pada pengalaman klaim sebelumnya.
"Apakah preminya akan turun dari yang sekarang? Belum tentu juga. Karena premi sekarang ini kan tergantung dari profil yang sebelum-sebelumnya. Jadi kalau claim ratio sekarang juga udah tinggi, ya udah pasti naik," tandasnya.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
