Ilustrasi seorang analis tengah mengamati pergerakan harga obligasi di sebuah kantor sekuritas. (Antara)
JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) resmi memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (21/5) kemarin.
Head of IPOT Fund & Bond, Dody Mardiansyah menilai pemangkasan ini menjadi angin segar untuk instrumen obligasi. Saat suku bunga mengalami penurunan, nilai obligasi yang telah diterbitkan dan diperdagangkan di pasar sekunder secara alami akan cenderung mengalami kenaikan harga.
Kenapa Obligasi jadi Menarik Saat Suku Bunga Turun?
Dody menjelaskan bahwa penurunan suku bunga menciptakan peluang menarik di pasar obligasi, khususnya bagi investor yang sebelumnya menempatkan dananya di deposito. Obligasi yang telah diterbitkan dan masih beredar di pasar sekunder umumnya menawarkan tingkat kupon tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi baru yang akan terbit di tengah tren suku bunga yang menurun.
"Ketika suku bunga turun, harga obligasi lama akan naik karena investor bersedia membayar lebih mahal untuk mendapatkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dari kupon tetap tersebut. Hal ini terjadi sebagai bentuk penyesuaian pasar agar yield obligasi lama selaras dengan suku bunga acuan yang baru," kata Dody dalam analisis yang diterima JawaPos.com, Kamis (22/5).
Lebih lanjut ia menambahkan bahwa kondisi ini menjadi momentum strategis bagi investor deposito untuk beralih ke obligasi. Utamanya dengan bunga deposito yang cenderung turun mengikuti BI Rate, banyak investor mulai melirik instrumen yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi seperti obligasi.
"Permintaan meningkat, harga obligasi naik, dan investor bisa menikmati capital gain selain kupon yang tetap," tambahnya.
Ia juga mencontohkan bahwa obligasi pemerintah FR0096 di IPOT Bond yang akan jatuh tempo pada 2033 dengan kupon 7 persen. Saat ini suku bunga berada di angka 5,75 persen, artinya mempunyai spread 1,25 persen atau 125 bps.
"Jika suku bunga diturunkan 25 bps atau 0,25 persen ke 5,5 persen maka spread akan melebar menjadi 150 bps, hal ini membuat FR0096 jauh lebih menarik, dan membuat demand naik yang akhirnya berimbas pada harga obligasinya yang akan naik juga," jelasnya.
Sementara itu, penurunan suku bunga ini adalah sinyal yang sangat positif bagi pasar keuangan. Penurunan ini mengindikasikan adanya ruang untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, dan obligasi, sebagai instrumen pendapatan tetap, akan memainkan peran krusial dalam portofolio investasi di kondisi ini.
"Saat suku bunga dipangkas merupakan waktu yang tepat bagi investor untuk lebih aktif dalam memanfaatkan potensi pasar obligasi dalam jangka menengah hingga panjang," tandas Dody.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
