Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Mei 2025 | 21.47 WIB

BI Pangkas Suku Bunga jadi 5,5 Persen, Angin Segar untuk Pasar Obligasi

Ilustrasi seorang analis tengah mengamati pergerakan harga obligasi di sebuah kantor sekuritas. (Antara)

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) resmi memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (21/5) kemarin. 

Head of IPOT Fund & Bond, Dody Mardiansyah menilai pemangkasan ini menjadi angin segar untuk instrumen obligasi. Saat suku bunga mengalami penurunan, nilai obligasi yang telah diterbitkan dan diperdagangkan di pasar sekunder secara alami akan cenderung mengalami kenaikan harga.  

Kenapa Obligasi jadi Menarik Saat Suku Bunga Turun? 

Dody menjelaskan bahwa penurunan suku bunga menciptakan peluang menarik di pasar obligasi, khususnya bagi investor yang sebelumnya menempatkan dananya di deposito. Obligasi yang telah diterbitkan dan masih beredar di pasar sekunder umumnya menawarkan tingkat kupon tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi baru yang akan terbit di tengah tren suku bunga yang menurun. 

"Ketika suku bunga turun, harga obligasi lama akan naik karena investor bersedia membayar lebih mahal untuk mendapatkan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi dari kupon tetap tersebut. Hal ini terjadi sebagai bentuk penyesuaian pasar agar yield obligasi lama selaras dengan suku bunga acuan yang baru," kata Dody dalam analisis yang diterima JawaPos.com, Kamis (22/5). 

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa kondisi ini menjadi momentum strategis bagi investor deposito untuk beralih ke obligasi. Utamanya dengan bunga deposito yang cenderung turun mengikuti BI Rate, banyak investor mulai melirik instrumen yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi seperti obligasi. 

"Permintaan meningkat, harga obligasi naik, dan investor bisa menikmati capital gain selain kupon yang tetap," tambahnya. 

Ia juga mencontohkan bahwa obligasi pemerintah FR0096 di IPOT Bond yang akan jatuh tempo pada 2033 dengan kupon 7 persen. Saat ini suku bunga berada di angka 5,75 persen, artinya mempunyai spread 1,25 persen atau 125 bps. 

"Jika suku bunga diturunkan 25 bps atau 0,25 persen ke 5,5 persen maka spread akan melebar menjadi 150 bps, hal ini membuat FR0096 jauh lebih menarik, dan membuat demand naik yang akhirnya berimbas pada harga obligasinya yang akan naik juga," jelasnya. 

Sementara itu, penurunan suku bunga ini adalah sinyal yang sangat positif bagi pasar keuangan. Penurunan ini mengindikasikan adanya ruang untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, dan obligasi, sebagai instrumen pendapatan tetap, akan memainkan peran krusial dalam portofolio investasi di kondisi ini.  

"Saat suku bunga dipangkas merupakan waktu yang tepat bagi investor untuk lebih aktif dalam memanfaatkan potensi pasar obligasi dalam jangka menengah hingga panjang," tandas Dody.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore