Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Januari 2019 | 20.33 WIB

Dipicu Imbal Hasil Obligasi Amerika, Tren Dolar AS Menuju Rp 13 Ribu

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah hingga akhir perdagangan kemarin (7/1) mempertahankan penguatan atas dolar AS. Berdasar data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 187 poin atau 1,31 persen ke posisi 14.082 per dolar. Pergerakan harian rupiah tercatat 14.021-14.184 per dolar AS dengan pembukaan di level 14.177 per dolar AS.


Ekonom Maybank Myrdal Gunarto mengatakan, tren penguatan terus berlanjut. Rupiah bisa menguat ke range level 13.700-14.000 per USD. Rupiah diperkirakan melanjutkan tren penguatan dengan didorong arus masuk uang asing seiring aksi investor global kembali masuk ke pasar keuangan negara berkembang. "Yang memiliki imbal hasil menarik dan valuasi bagus dengan latar belakang ekonomi yang cukup stabil dan solid," paparnya.


Beberapa hari terakhir rilis data ekonomi global mengecewakan dan imbal hasil obligasi AS semakin turun karena ekspektasi kenaikan bunga The Fed yang lebih longgar. "Foreign inflow dari hasil lelang surat utang negara (SUN) pemerintah juga berdampak positif pada penguatan rupiah nanti," imbuhnya.


Indeks harga saham gabungan (IHSG) akan menguat mengikuti tren tersebut. Ada beberapa sektor yang perlu diperhatikan. Yakni, sektor keuangan, infrastruktur, dan consumer goods.


Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan, keperkasaan rupiah bisa dilacak dari pelemahan ekonomi global di AS dan Tiongkok yang membuat investor memindahkan dana ke negara berkembang.


Indikatornya, dolar AS melemah terhadap hampir seluruh mata uang dominan lain. Dollar index menurun 1,25 persen dalam sebulan terakhir sehingga berada di level 96. Kondisi itu mirip dengan pascakrisis global 2008. "Di mana resesi AS menjadi berkah bagi negara berkembang karena masuknya capital inflow yang cukup deras," jelasnya.


Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan, penguatan rupiah diwarnai optimisme atas prospek hasil negosiasi untuk mengakhiri sengketa dagang AS dan Tiongkok. Juga, perubahan sikap chairman FOMC The Fed atas lintasan suku bunga AS ke depan.


Tidak seperti sebelumnya yang tegas akan menaikkan suku bunga dua kali pada 2019, pasca jatuhnya harga saham di AS, The Fed menyiratkan akan lebih fleksibel. Sejak Desember 2017, The Fed melepaskan kembali surat-surat berharga yang diterbitkan swasta. Awalnya, semua dibeli The Fed untuk mengatasi krisis keuangan 2008. Saat itu terjadi penarikan likuiditas dari sistem keuangan. Surat berharga milik swasta yang ada pada neraca The Fed sampai saat ini baru turun ke USD 3,86 triliun per Januari 2018 dari USD 4,2 triliun yang bertahan sejak Januari 2014.


Berbagai indikator manufaktur di Eropa dan Tiongkok semakin menunjukkan kemerosotan, mengindikasikan bahwa perang dagang menimbulkan efek negatif. Kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang, perubahan kebijakan The Fed, dan berbagai perkembangan data ekonomi tersebut mendorong pelemahan nilai tukar dolar AS secara broad-based. "Menjadi sentimen positif," ungkapnya.


Meski rupiah saat ini menguat, pengusaha tetap waspada terhadap volatilitasnya. Sebab, ketidakpastian masih bisa terjadi. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, sikap Presiden AS Donald Trump masih akan memengaruhi aliran dana yang pada akhirnya menjadi penentu pergerakan nilai tukar.


Faktor perang dagang adalah sentimen utama yang dapat keluar dari mulut Trump. Di samping itu, meski tekanan dari The Fed sedikit mereda, kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan masih ada. Karena itu, Shinta menyarankan pengusaha untuk tak hanya bergantung pada mata uang dolar AS.


Mata uang lain yang bisa menjadi pilihan, misalnya, yuan Tiongkok. Mata uang tersebut sudah semakin banyak diperdagangkan sebagai upaya diversifikasi. Likuiditasnya di pasar juga semakin meningkat. Karena itu, mendapatkan mata uang itu tak begitu sulit. "Menurut saya, daripada kita hanya bertapak dengan apa yang akan terjadi, kita punya solusi-solusi penggunaan mata uang asing lainnya dalam bertransaksi secara bilateral," ucapnya.


Pengusaha juga didorong untuk menggunakan mata uang lainnya seperti ringgit Malaysia dan baht Thailand. Sebab, BI juga telah bekerja sama dengan bank-bank sentral Malaysia dan Thailand dalam bilateral swap tersebut. Dengan semakin banyaknya mata uang selain USD di pasar, kurs rupiah terhadap USD akan lebih stabil. Shinta berharap rupiah terus menguat dan stabil di level Rp 13 ribu per USD.


BI dan pemerintah telah menyepakati kerja sama pemanfaatan informasi devisa terkait dengan kegiatan ekspor dan impor melalui Sistem Informasi Monitoring Devisa Terintegrasi Seketika (Simodis). Simodis akan mengintegrasikan aliran dokumen, barang, dan uang melalui dokumen ekspor dan impor. Tujuannya, meningkatkan kualitas informasi dan perolehan devisa hasil ekspor (DHE) serta mengoptimalkan penerimaan negara di bidang kepabeanan dan perpajakan. "Tentu bagi perusahaan-perusahaan yang comply, akan diberikan insentif pajak," ujar Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore