
Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Haryanto Tiara Budiman (tengah) dalam media briefing BCA Wealth Summit 2025, Rabu (10/9). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI) dalam dua bulan terakhir membuka ruang bagi perbankan untuk menyesuaikan strategi likuiditas dan pembiayaan. Sejalan kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang cenderung menurun. Begitu pula, nilai tukar USD yang melemah.
Dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Juli dan Agustus 2025, suku bunga acuan diturunkan masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen. Penurunan ini menandai sinyal jelas bank sentral mulai mengambil sikap akomodatif setelah periode kebijakan ketat sebelumnya. Karena memang melihat data inflasi domestik yang juga terkendali.
"Pelonggaran ini juga melihat data inflasi domestik yang terkendali," kata Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Haryanto Tiara Budiman saat ditanyai Jawa Pos dalam media briefing BCA Wealth Summit 2025, Rabu (10/9).
Dari sisi eksternal, kondisi nilai tukar global juga memberikan ruang bagi BI untuk bertindak lebih fleksibel. Indeks mata uang dolar AS (USD) terhadap mata uang negara maju (DXY) arahnya menurun. Meski, pelemahan USD bisa dilihat dari dua sisi.
Yakni karena memang kondisi fiskal AS kurang bagus. Defisitnya makin melebar. "Atau menurut saya, memang ada sedikit kesengajaan USD dibuat melemah. Dalam rangka untuk mendorong ekspor. Sejalan dengan kebijakan tarif AS yang ingin membatasi impor barang yang masuk," jelas Haryanto.
Di sisi lain, AS ingin supaya tarif barang-barang ekspornya itu nol. Dengan melemahkan nilai tukar USD, artinya akan mendorong ekspor lebih baik lagi. "Nah dengan hal seperti itu, BI memiliki keleluasaan untuk mulai menurunkan suku bunga acuan," imbuhnya.
Dalam konteks perbankan domestik, Haryanto menerangkan, pelonggaran suku bunga acuan akan berdampak pada penyesuaian bunga jangka pendek. Termasuk imbal hasil surat utang jangka pendek yang cenderung mengikuti benchmark rate seperti BI rate. Namun, dia mengingatkan bahwa suku bunga jangka menengah dan panjang tidak serta-merta akan ikut turun.
Penurunan suku bunga acuan ini juga diharapkan mampu meredakan ketatnya persaingan antar bank dalam memperebutkan dana pihak ketiga (DPK). Mengingat, dalam beberapa waktu terakhir, perbankan bersaing agresif menawarkan suku bunga simpanan tinggi demi menarik likuiditas. Yang pada akhirnya meningkatkan biaya dana (cost of fund).
"Kami berharap agar persaingan antar bank untuk mendapatkan dana pihak ketiga tidak akan terlalu besar. Karena saat ini kita tahu banyak sekali persaingan ini di antara institusi perbankan," tandasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
