Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 September 2025 | 00.54 WIB

BCA Duga Pelemahan Dolar AS Seperti Disengaja untuk Genjot Ekspor Amerika Serikat

Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Haryanto Tiara Budiman (tengah) dalam media briefing BCA Wealth Summit 2025, Rabu (10/9). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos) - Image

Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Haryanto Tiara Budiman (tengah) dalam media briefing BCA Wealth Summit 2025, Rabu (10/9). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI) dalam dua bulan terakhir membuka ruang bagi perbankan untuk menyesuaikan strategi likuiditas dan pembiayaan. Sejalan kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang cenderung menurun. Begitu pula, nilai tukar USD yang melemah.

Dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada Juli dan Agustus 2025, suku bunga acuan diturunkan masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen. Penurunan ini menandai sinyal jelas bank sentral mulai mengambil sikap akomodatif setelah periode kebijakan ketat sebelumnya. Karena memang melihat data inflasi domestik yang juga terkendali.

"Pelonggaran ini juga melihat data inflasi domestik yang terkendali," kata Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Haryanto Tiara Budiman saat ditanyai Jawa Pos dalam media briefing BCA Wealth Summit 2025, Rabu (10/9).

Dari sisi eksternal, kondisi nilai tukar global juga memberikan ruang bagi BI untuk bertindak lebih fleksibel. Indeks mata uang dolar AS (USD) terhadap mata uang negara maju (DXY) arahnya menurun. Meski, pelemahan USD bisa dilihat dari dua sisi.

Yakni karena memang kondisi fiskal AS kurang bagus. Defisitnya makin melebar. "Atau menurut saya, memang ada sedikit kesengajaan USD dibuat melemah. Dalam rangka untuk mendorong ekspor. Sejalan dengan kebijakan tarif AS yang ingin membatasi impor barang yang masuk," jelas Haryanto.

Di sisi lain, AS ingin supaya tarif barang-barang ekspornya itu nol. Dengan melemahkan nilai tukar USD, artinya akan mendorong ekspor lebih baik lagi. "Nah dengan hal seperti itu, BI memiliki keleluasaan untuk mulai menurunkan suku bunga acuan," imbuhnya.

Dalam konteks perbankan domestik, Haryanto menerangkan, pelonggaran suku bunga acuan akan berdampak pada penyesuaian bunga jangka pendek. Termasuk imbal hasil surat utang jangka pendek yang cenderung mengikuti benchmark rate seperti BI rate. Namun, dia mengingatkan bahwa suku bunga jangka menengah dan panjang tidak serta-merta akan ikut turun.

Penurunan suku bunga acuan ini juga diharapkan mampu meredakan ketatnya persaingan antar bank dalam memperebutkan dana pihak ketiga (DPK). Mengingat, dalam beberapa waktu terakhir, perbankan bersaing agresif menawarkan suku bunga simpanan tinggi demi menarik likuiditas. Yang pada akhirnya meningkatkan biaya dana (cost of fund).

"Kami berharap agar persaingan antar bank untuk mendapatkan dana pihak ketiga tidak akan terlalu besar. Karena saat ini kita tahu banyak sekali persaingan ini di antara institusi perbankan," tandasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore