Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis (13/3/2025). (Salman Toyibi/JawaPos)
JawaPos.com - Pengamat Ekonomi dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menilai Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terkesan menutupi fakta penting yang bisa berpengaruh terhadap kebijakan ekonomi, saat meminta awak media untuk tidak mendramatisir penurunan penerimaan pajak di awal tahun 2025.
Syafruddin menilai, Pemerintah seharusnya menyampaikan kondisi fiskal secara transparan dan real-time agar masyarakat dan pelaku ekonomi memahami realitas ekonomi yang terjadi.
"Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang meminta masyarakat tidak mendramatisir penurunan penerimaan pajak hingga Februari 2025 justru mengesankan adanya upaya menutupi fakta penting yang bisa berpengaruh terhadap kebijakan ekonomi," kata Syafruddin dalam keterangan tertulis, Jumat (14/3).
Lebih lanjut, dia juga membeberkan bahwa seharusnya Pemerintah mengakui tantangan yang dihadapi alih-alih menyepelekan dampaknya. Terlebih ketika penerimaan pajak turun drastis sebesar 30,1 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, Pemerintah beralasan bahwa penerimaan pajak cenderung lebih rendah pada awal tahun, tetapi penurunan yang terjadi kali ini jauh lebih dalam dari tren sebelumnya.
"Jika ini sekadar pola musiman, mengapa APBN sudah mengalami defisit sejak Februari, lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya?," beber Syafruddin.
Lebih lanjut, dia juga menilai dengan pemerintah hanya menyalahkan faktor teknis dan harga komoditas, itu adalah analisis yang terlalu dangkal. Menurutnya, penurunan penerimaan pajak ini menunjukkan masalah struktural dalam perekonomian.
"Seperti melemahnya konsumsi domestik, rendahnya profitabilitas perusahaan, dan gangguan dalam administrasi perpajakan akibat implementasi sistem Coretax yang belum matang," jelasnya.
Di sisi lain, Sri Mulyani menyebut defisit ini masih dalam batas aman dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, Syafruddi mengatakan bahwa pasar keuangan memiliki pandangan berbeda.
Goldman Sachs sendiri kata dia, telah menurunkan peringkat aset investasi Indonesia, memproyeksikan defisit APBN 2025 bisa melebar menjadi 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari target 2,53 persen.
"Jika pemerintah terus menutup-nutupi masalah fundamental ekonomi, Indonesia berisiko terjebak dalam siklus defisit yang makin lebar, utang yang membengkak, dan daya beli masyarakat yang semakin melemah. Jika ini bukan sinyal krisis, maka pemerintah harus menjelaskan rencana reformasi fiskal yang konkret untuk mengatasi tantangan ini," tutupnya.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
