Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Februari 2025 | 20.45 WIB

Sompo Insurance Bidik Sektor Kesehatan dan Perlindungan Tambahan

Presiden Direktur Sompo Insurance Eric Nemitz (kanan) menyampaikan kinerja, proyeksi, dan tantangan asuransi saat ini di bilangan Sudirman, kemarin (26/2). (Agas Putra Hartanto/JawaPos.com) - Image

Presiden Direktur Sompo Insurance Eric Nemitz (kanan) menyampaikan kinerja, proyeksi, dan tantangan asuransi saat ini di bilangan Sudirman, kemarin (26/2). (Agas Putra Hartanto/JawaPos.com)

JawaPos.com - Perusahaan asuransi menyadari dampak penurunan daya beli masyarakat. Pasar asuransi motor dan kendaraan diperkirakan tidak akan tumbuh pesat. Berharap permintaan lebih tinggi pada asuransi kesehatan.

Presiden Direktur Sompo Insurance Eric Nemitz menyadari adanya tantangan pada awal tahun lalu. Meski demikian, perusahaan asuransi asal Jepang tersebut berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 98,26 miliar sepanjang 2024. Didukung pendapatan premi bruto senilai Rp 2,51 triliun, naik 10,57 persen year-on-year (YoY).

Berdasarkan laporan keuangan Januari 2025, Sompo Insurance sudah mengantongi pendapatan Rp 339,247 miliar. Meningkat 63,4 persen dibandingkan Januari tahun lalu senilai Rp 207,56 miliar. Laba bersih komprehensif yang dihimpun sebesar Rp 25,05 miliar.

Eric menjelaskan, portofolio Sompo Insurance terdiri dari asuransi kendaraan bermotor, properti dan kebakaran, kesehatan, serta marine. Kendaraan bermotor merupakan lini bisnis terbesar berdasarkan premi tertulis bruto. Kemudian diikuti dengan asuransi properti dan kebakaran, dan kesehatan.

"Tiga lini bisnis terbesar Sompo, kendaraan (auto) lebih dari 37 persen, properti lebih dari 33 persen, dan health lebih dari 16 persen, serta diikuti dengan kontribusi dari lini bisnis lainnya," ucap Eric saat ditemui di bilangan Sudirman, Rabu (26/2).

Jika melihat retensi risiko yang tertanggung oleh perusahaan, lanjut dia, urutannya sedikit berbeda. Asuransi motor dan kesehatan menduduki posisi teratas. Sejalan dengan jumlah klien yang sangat besar dan risiko yang ditanggung relatif kecil.

Untuk asuransi properti kebakaran serta marine lebih bergantung pada reasuransi lantaran potensi kerugian yang sangat besar. Terkait proyeksi pasar asuransi pada 2025, Eric mengungkapkan, pasar asuransi motor diperkirakan masih akan tumbuh, meski relatif terbatas, seiring dengan daya beli masyarakat yang tertekan.

Sehingga mengurangi minat untuk membeli kendaraan bermotor. Dia mengharapkan permintaan yang lebih tinggi pada asuransi kesehatan.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi kesehatan. Meskipun BPJS Kesehatan memberikan perlindungan dasar, ada kebutuhan akan perlindungan tambahan yang lebih komprehensif.

"Dengan berkembangnya kelas menengah di Indonesia, permintaan untuk perlindungan tambahan di luar BPJS semakin tinggi. Inflasi medis yang terus meningkat, dengan prediksi mencapai 16 hingga 19 persen pada tahun ini, mendorong permintaan akan asuransi kesehatan dan asuransi grup yang ditawarkan oleh perusahaan," bebernya.

Eric melihat bahwa biaya kesehatan yang terus meningkat dapat menjadi beban bagi perusahaan. Jika biaya kesehatan terus meningkat dua kali lipat dari produktivitas, maka anggaran perusahaan untuk asuransi kesehatan akan semakin besar. Yang pada gilirannya bisa membatasi ruang bagi pengeluaran lainnya, seperti gaji dan bonus karyawan.

"Oleh karena itu, kami melihat adanya potensi besar di sektor asuransi tambahan atau top-up. Baik untuk individu maupun perusahaan. Segmen ini kami perkirakan akan terus berkembang dalam jangka panjang," katanya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore