
Ilustrasi Gedung Bank Indonesia (BI). Nurul Fitriana/JawaPos.com
JawaPos.com - Untuk memitigasi dampak rambatan gejolak global, Bank Indonesia (BI) akan terus mengoptimalkan tiga instrumen kebijakan moneter. Salah satunya, memperkuat kecukupan cadangan devisa. Sehingga dapat menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah.
Posisi cadangan devisa Indonesia kembali meningkat. Bank Indonesia mencatat, jumlahnya pada akhir Januari 2023 mencapai USD 139,4 miliar. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak dan jasa.
"Posisi cadangan devisa setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, kemarin (7/2).
Bank Indonesia menilai cadangan devisa saat ini mampu mendukung ketahanan sektor eksternal. Serta, menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai. Didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga. Seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan mendukung proses pemulihan ekonomi nasional.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyatakan, cadangan devisa kembali naik sebesar USD 2,2 miliar dari USD 137,2 miliar pada Desember 2022. Jumlah terbesar sejak Februari 2021 atau dalam 11 bulan terakhir. Sejalan dengan pemerintah yang berhasil memperoleh dana sebesar USD 3 miliar dari penerbitan obligasi global berdenominasi USD.
Ada tiga seri obligasi global yang diterbitkan pemerintah. Yakni RI0128A dengan tenor 5 tahun, RI0133 dengan tenor 10 tahun, dan RI0153 dengan tenor 30 tahun berformat SEC-Registered pada 5 Januari 2023.
Secara rinci, nominal yang diterbitkan RI0128A yang jatuh tempo 11 Januari 2028 senilai USD 1 miliar dengan tingkat kupon 4,55 persen. Untuk seri RI0133 dengan jatuh tempo 11 Januari 2033, nominalnya sebesar USD1,25 miliar dengan tingkat kupon 4,85 persen. Sedangkan, RI0153 dengan jatuh tempo 11 Januari 2053 bernilai USD 750 juta. Seri ini memiliki tingkat kupon 5,56 persen.
Faisal menilai, ketidakpastian global yang tinggi memberikan tantangan bagi sektor eksternal Indonesia di 2023. “Kami mengantisipasi bahwa neraca transaksi berjalan Indonesia akan berubah menjadi defisit yang dapat dikelola sekitar 1,10 persen dari PDB pada 2023 dari perkiraan surplus sebesar 1,05 persen dari PDB di tahun 2022,” ucapnya kepada Jawa Pos.
Menurut dia, pertumbuhan ekspor akan melambat lantaran penurunan harga komoditas. Akibat lesunya permintaan global di tengah inflasi yang tinggi dan normalisasi kebijakan moneter yang agresif. Meskipun diproyeksi menyusut, surplus perdagangan dapat bertahan lebih lama. Karena penurunan harga komoditas akan lebih bertahap.
“Berkat pembukaan kembali ekonomi Tiongkok dan kondisi kawasan Eropa yang lebih baik dari perkiraan,” jelas Faisal.
Pertumbuhan impor bisa lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor pada 2023. Sebab, permintaan domestik akan terus menguat. Menyusul pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dan keputusan untuk melanjutkan Proyek Strategis Nasional.
Namun, pertumbuhan impor tahun ini terlihat melemah ketimbang tahun lalu. Akibat harga minyak yang lebih rendah dan antisipasi penurunan ekspor. Sebab, bahan baku untuk memproduksi barang ekspor masih diperoleh dari luar negeri.
Pembukaan kembali ekonomi Tiongkok dapat menarik investor untuk mencari penyeimbangan portofolio di kawasan Asia. Meskipun sebagian besar bank sentral utama cenderung mempertahankan suku bunga kebijakan global lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Dengan tujuan untuk menjinakkan inflasi.
“Kami melihat kenaikan suku bunga akan mencapai puncaknya pada akhir semester I 2023. Ditambah dengan pengelolaan fiskal yang solid dimana defisit fiskal kembali ke bawah 3 persen PDB lebih cepat dari yang direncanakan. Kondisi tersebut dapat mengurangi risiko outflow dan memberikan potensi inflow di pasar obligasi,” terangnya.
Dengan demikian, investasi portofolio masih memiliki ruang untuk mencatat net inflow. Selain itu, agenda pemerintah untuk terus melakukan hilirisasi sumber daya alam dapat menarik lebih banyak aliran investasi langsung ke Indonesia. Upaya menahan Dana Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE), termasuk instrumen BI berupa term deposit valas dari DHE, juga dapat menghambat penempatan aset di luar negeri.
Secara keseluruhan, Faisal melihat cadangan devisa tetap memadai. Sekitar USD 135 miliar sampai 145 miliar di akhir 2023. Hal ini dapat mendukung nilai tukar rupiah terhadap USD selama periode ketidakpastian global yang tinggi.
“Oleh karena itu, kami memperkirakan Rupiah menjadi sekitar Rp 15.285 per USD pada akhir tahun ini dengan rata-rata sekitar Rp 15.220 per USD sepanjang 2023,” ungkapnya. (han)
//Grafis//
Cadangan Devisa Meningkat
-Desember 2022: USD 137,2 miliar
-Januari 2023: USD 139,4 miliar
Setara dengan pembiayaan:
6,1 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah
Peningkatan dipengaruhi
-penerbitan global bond pemerintah
-penerimaan pajak dan jasa
Sumber: Bank Indonesia

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
