Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 Desember 2019 | 04.05 WIB

Tensi Ketidakpastian Global Mereda, BI Tahan Suku Bunga Acuan

Ilustrasi Gedung Bank Indonesia - Image

Ilustrasi Gedung Bank Indonesia

JawaPos.com – Menjelang tutup tahun, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di posisi 5 persen. Perkembangan positif dari perundingan perang dagang antara AS dan Tiongkok membawa angin segar bagi ekonomi global. Meski perundingan tersebut masih melalui proses panjang, hal itu setidaknya mampu menurunkan tensi ketidakpastian global. Dari dalam negeri, ekonomi domestik pada kuartal IV diperkirakan tumbuh lebih tinggi daripada kuartal sebelumnya.

Hal-hal tersebut mendasari otoritas moneter untuk menahan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR). ”Rapat dewan gubernur (RDG) pada 18–19 Desember 2019 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga,” papar Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (19/12).

Dari sisi global, lanjut dia, kemajuan dalam perundingan perdagangan antara AS-Tiongkok berdampak pada menurunnya risiko di pasar keuangan global. Hal itu mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi relatif terjaga dengan ditopang konsumsi rumah tangga, ekspansi fiskal, dan perbaikan ekspor. Perkembangan terkini menunjukkan keyakinan konsumen yang meningkat bersamaan dengan pola musiman menjelang akhir tahun.

”Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi triwulan IV diperkirakan membaik sehingga secara keseluruhan 2019, dapat mencapai 5,1 persen dan meningkat dalam kisaran 5,1–5,5 persen pada 2020,” jelasnya.

Meski suku bunga ditahan, pihaknya memastikan bahwa kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali. Selain itu, strategi operasi moneter terus ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas, khususnya pada pergantian tahun, dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.

Ke depan, BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal. Selain itu, BI akan tetap mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

”Koordinasi BI dengan pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat guna mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk penanaman modal asing (PMA),” ungkapnya.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menuturkan, keputusan BI tersebut sesuai dengan prediksi. Namun, dari sisi transmisi, suku bunga perbankan masih belum optimal. BI mengakui masih ada fungsi intermediasi bank yang harus dicermati karena rendahnya demand kredit korporasi. Tahun depan, BI diprediksi kembali memangkas suku bunga acuannya.
”Ke depan, BI akan melihat ekonomi global dan domestik untuk memanfaatkan ruang lebih lanjut dari kebijakan akomodatifnya. Pandangan kami, bank sentral memiliki ruang untuk pemotongan 1 kali 25 bps pada 2020,” tuturnya kemarin.

Pergerakan BI Rate 2019
Bulan | Rate (%)
Januari | 6
Februari | 6
Maret | 6
April | 6
Mei | 6
Juni | 6
Juli | 5,75
Agustus | 5,50
September | 5,25
Oktober | 5,00
November | 5,00
Desember | 5,00

Sumber: BI, 2019

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore