JawaPos.com - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) membukukan laba bersih perusahaan sebesar Rp 848,4 miliar dengan total pendapatan senilai Rp 3,2 triliun. Total pendapatan ini meningkat 30,3 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada semester I tahun 2023.
Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono, mengatakan pertumbuhan pendapatan ini dipengaruhi oleh peningkatan penyaluran pembiayaan dan sumber pendanaan yang lebih kompetitif. Selain itu, sejalan dengan kuatnya komitmen untuk menjadi mitra kerja yang menguntungkan dan tepercaya, perusahaan juga telah membagikan dividen dengan nilai total Rp 902 miliar, atau setara dengan Rp 60,00 per lembar saham dari laba bersih Perusahaan tahun 2022.
"Kami tetap optimistis mencapai pertumbuhan sesuai target hingga akhir tahun dengan tetap mengedepankan manajemen risiko yang baik dan prinsip kehati-hatian," kata Sudjono dalam keterangan resmi yang diterima JawaPos.com, Rabu (26/7).
Sudjono merinci, portofolio produk pembiayaan BFI Finance masih didominasi oleh refinancing atau pembiayaan dengan collateral (jaminan). Total piutang pembiayaan yang dikelola tercatat senilai Rp 22,4 triliun terdiri dari pembiayaan berjaminan kendaraan roda empat sebesar 56,5 persen, alat berat dan permesinan sebesar 13,5 persen.
Lalu, pembiayaan untuk pembelian unit kendaraan roda empat bekas dan baru masing-masing menempati porsi sebanyak 9,0 persen dan 2,9 persen, pembiayaan berjaminan kendaraan roda dua sebesar 10,9 persen, pembiayaan berjaminan sertifikat rumah/ruko sebesar 3,9 persen, ditutup dengan apik oleh pembiayaan berbasis syariah sebesar 3,3 persen.
Di sisi lain, sumber pendanaan BFI Finance paling besar berasal dari pinjaman bank mata uang rupiah serta surat utang (bonds). Selama semester I 2023, perusahaan telah menerbitkan tiga kali obligasi rupiah dengan total nilai emisi Rp 3,8 triliun.
Sudjono juga memaparkan kinerja positif juga terlihat dari total aset yang tercatat sebesar Rp 25,2 triliun atau tumbuh 38,8 persen (yoy) pada Semester I/2023. Pertumbuhan ini sejalan dengan naiknya piutang bersih atau net receivables sebesar 31,8 persen (yoy) dengan nilai Rp 21,0 triliun.
"Dapat dikatakan bahwa pertumbuhan aset, profitabilitas, dan rasio keuangan lainnya secara tahunan tetap terjaga baik. Hal ini menunjukkan bahwa BFI Finance mampu menjawab segala tantangan dan dinamika yang terjadi," jelas Sudjono.
"Sejak 2011 hingga saat ini, perusahaan telah tumbuh lebih dari lima kali lipat secara aset, revenue, dan ekuitas," sambungnya.
Sudjono menjelaskan, secara umum performa ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi domestik yang kondusif. Lalu, sektor multifinance yang makin meningkat di tengah permintaan masyarakat dalam mendapatkan kemudahan fasilitas pembiayaan.
Demikian pula kinerja perekonomian nasional, termasuk sektor riil, juga terpantau positif diiringi dengan meredanya tekanan inflasi dan kembali ke rentang target Bank Indonesia. Pada enam bulan pertama tahun ini, perusahaan mencatat nilai pembiayaan baru sebesar Rp 10,3 triliun, atau meningkat 20,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Dari nilai tersebut, sebanyak 61,0 persen digunakan untuk tujuan pembiayaan modal kerja, disusul dengan multiguna sebesar 22,6 persen, investasi 14,5 persen, dan syariah 1,9 persen," jelas Sudjono.
Seiring dengan pertumbuhannya, BFI Finance tetap konsisten menjaga risiko kredit yang relatif rendah. Tingkat pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) neto terjaga di 0,79 persen per Juni 2023 dan sementara NPF bruto di level 1,94 persen.
Rasio ini tercatat lebih baik dibandingkan NPF bruto rata-rata industri pembiayaan yang mencapai 2,63 persen per Mei 2023. NPF coverage (besaran tingkat cadangan piutang dibandingkan NPF) terhitung mencapai 2,3 kali.
"BFI Finance mencatat Return on Asset (RoA) dan Return on Equity (RoE) Perusahaan masing-masing di posisi 8,7 persen dan 18,6 persen yang juga masih lebih tinggi dari rata-rata industri dengan angka RoA yang dilaporkan sebesar 5,73 persen dan RoE sebesar 14,86 persen di akhir Mei 2023 (sumber: Statistik Lembaga Pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan/OJK)," tandasnya.