alexametrics

Ketika Karang Taruna Punya Usaha Ikan Cupang sampai Bank Jelantah

28 November 2019, 18:53:59 WIB

Pemuda yang aktif di Karang Taruna Rejo Mulyo, Kelurahan Ngagel Rejo, Wonokromo, bisa membuktikan kontribusi mereka untuk masyarakat sekitar. Bukan hanya saat lomba Agustusan. Melainkan juga dalam pengembangan ekonomi kreatif.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Jawa Pos

SEKRETARIAT Karang Taruna Rejo Mulyo jadi satu kompleks dengan Kantor Kelurahan Ngagel Rejo, Wonokromo. Menyatu dengan perpustakaan. Di sebelah kiri pintu masuk kantor yang menghadap ke timur itu ada enam drum plastik besar biru. Isinya adalah minyak jelantah. Hampir semuanya penuh.

Ketua Karang Taruna Rejo Mulyo Roby Hidayat membuka penutup drum tersebut. Dia mencelupkan kayu kecil ke minyak jelantah yang baunya menyeruak begitu tutup drum itu dibuka. ”Ini salah satu unit usaha kami. Bank jelantah namanya. Memang masih dalam pengembangan,” ujar Roby kemarin (27/11).

Roby mengajak ke bagian belakang kantor tersebut. Ada bekas kolam ikan yang sudah tidak difungsikan. Di tempat itulah rencananya usaha limbah jelantah tersebut dikembangkan ”Nanti ada penyaringannya juga. Konsepnya sudah kami pikirkan masak-masak,” imbuh pria kelahiran Surabaya, 3 Maret 1978, itu.

Dari limbah jelantah itu, bisa dibuat aneka bahan kerajinan. Salah satunya bunga-bungaan yang dipajang di kantor sekretariat. Ada pula sabun batangan. Tapi, tentu saja banyak bahan campuran untuk pembuatan bahan kerajinan tersebut. ”Diolah sedemikian rupa hingga mudah dibentuk. Mirip malam atau clay,” tambah dia.

Lasmargo Nendra Wono, pengurus Karang Taruna Rejo Mulyo, menambahkan, dirinya sedang mengembangkan aplikasi khusus untuk bank jelantah tersebut. Salah satunya memastikan waktu pengambilan minyak jelantah. ”Salah satu kendalanya kadang tidak pas di rumah saat kami mau mengambil. Dengan aplikasi ini, nanti pengambilan bisa lebih mudah,” ujar mahasiswa Jurusan Sistem Informasi UPN tersebut. Pembuatan aplikasi itu juga menjadi bahan skripsinya.

Selain bank jelantah, karang taruna tersebut punya unit usaha lain. Yakni, CV Rejo Mulyo yang bergerak di bidang sablon, peternakan ikan cupang Panik Betta, bengkel sepeda motor Rejo Mulyo, dan kue kering Syafira. Karang taruna memberikan suntikan modal untuk unit usaha tersebut. Tiap bulan mereka diminta untuk menyetor sebagian keuntungan ke kas karang taruna. Besarannya bervariasi, mulai Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan.

Roby lantas mengajak ke peternakan ikan cupang Panik Betta yang dikelola salah seorang pengurus karang taruna. Logo karang taruna kelurahan tersebut terpampang jelas pada spanduk di depan tempat usaha itu.

”Ada pembeli ikan cupang ini dari Amerika sampai Eropa,” kata Roby. Dia menyebutkan, sebelumnya usaha ikan cupang itu hendak tutup. Namun, pada 2018 ada suntikan dana dari karang taruna. Hingga kini akhirnya berkembang cukup pesat. ”Bolak-balik menang di kontes ikan. Harganya bisa jutaan satu ekor kalau sudah menang,” tuturnya.

Karang taruna yang resmi didirikan pada 2017 dengan 28 pengurus itu mewakili Surabaya dan Jawa Timur untuk seleksi Pilar-Pilar Sosial Teladan Nasional 2019. Juri dari Kementerian Sosial datang untuk melihat secara langsung kondisi unit usaha mereka dua pekan lalu. Saat ini masuk babak 15 besar.

Lurah Ngagel Rejo Hairul Fatah yang menjadi pembina karang taruna tersebut merasa bangga dengan capaian itu. Dia menuturkan, sinergi yang bagus antara karang taruna dan unsur masyarakat lainnya menjadi salah satu kunci. Mereka bisa saling mendukung. ”Ke depan kami punya rencana untuk membuat Kartar Mart. Sudah dipersiapkan,” jelas Hairul.

Dengan berbagai program yang konkret tersebut, Roby berharap karang taruna tidak lagi dipandang sebelah mata. ”Karang taruna bukan hanya untuk Agustusan. Tapi, bisa berkontribusi lebih,” jelas dia.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c6/tia



Close Ads