Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2020 | 03.48 WIB

Tristan Kesyandria Ali, Belajar dari Rumah dengan Budi Daya Maggot

IDE PELAJAR: Tristan Kesyandria Ali Pasha menunjukkan maggot, pucagot, serta kasgot. (Lugas Wicaksono/Jawa Pos) - Image

IDE PELAJAR: Tristan Kesyandria Ali Pasha menunjukkan maggot, pucagot, serta kasgot. (Lugas Wicaksono/Jawa Pos)

Semula Tristan risi melihat sampah dibuang di pinggir jalan dekat rumahnya. Dia lalu memiliki ide budi daya maggot untuk mengurai sampah-sampah itu. Uang yang didapat dibelanjakan bingkisan untuk warga sekitar yang terdampak pandemi.

LUGAS WICAKSONO, Surabaya

Tristan Kesyandria Ali Pasha memasukkan sampah-sampah organik ke kandang maggot di belakang rumahnya, Jalan Pandegiling 97, Surabaya. Rutinitas tersebut dijalani pelajar kelas VIII SMPN 41 Surabaya itu setiap hari di sela aktivitasnya belajar dari rumah selama pandemi Covid-19.

Sampah-sampah organik tersebut diambil dari warung dan pujasera di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, dia mengambil sampah-sampah dari Pasar Keputran dan Pasar Pandegiling. Sampah yang sudah terkumpul dibawa pulang untuk dijadikan pakan maggot. ”Saya memilih memelihara maggot untuk mengurai sampah organik. Maggot pengurai sampah organik tercepat, tidak pernah berhenti makan,” ujar Tristan.

Ide itu didapat setelah dia kerap melihat sampah-sampah dibuang di pinggir pertigaan jalan dekat rumahnya

Tumpukan sampah itu menimbulkan bau busuk serta merusak pemandangan. Sebab, dikerumuni lalat. ”Saya bertekad memelihara maggot,” ucapnya.

Remaja itu lantas mulai mencari tahu cara budi daya maggot. Dia menelusurinya dari internet. Berbekal pengetahuan di sana, dia mulai mencoba memeliharanya. Tapi, tidak langsung berhasil. ”Sempat mati banyak karena medianya basah,” katanya.

Tristan tidak menyerah. Dia bersama orang tuanya, Rudi Arif Hermanto dan Ery Yuliana, mengunjungi sejumlah komunitas peternak maggot di Surabaya dan Sidoarjo.

Dari sana banyak ilmu yang didapat. Dia mulai memperaktikkannya. Keberhasilan pun mulai tampak. Maggot semakin bertambah dan kebutuhan terhadap sampah organik untuk pakannya meningkat.

Kini dia memiliki 60 kilogram maggot yang setiap hari membutuhkan rata-rata 50 kilogram sampah untuk pakannya. Demi mencukupi kebutuhan sampah, Tristan melibatkan warung adopsi dan mengambil sampah di pasar. ”Saya titip tong di warung-warung adopsi dan ambil di pasar,” katanya.

Namun, mengambil sampah di warung dan pujasera juga tidak mudah. Pemilik pujasera sempat menolak. Sebab, sebelumnya ada orang yang memiliki program serupa. Namun, sampah-sampah yang sudah terkumpul tidak diambil hingga membusuk. Mereka tidak ingin kejadian serupa terulang. ”Saya meyakinkan saja sampai mereka bersedia. Sekarang mereka antusias,” katanya.

Selain itu, warga sekitar bisa menjual sampahnya. Satu kilogram sampah organik dihargai Rp 2.000. Tristan juga didukung orang tuanya. Ayah Tristan, Rudi, mengatakan bahwa di rumahnya juga ada budi daya lele. Maggot yang sudah dipanen digunakan untuk pakan lele.

”Maggot ini digunakan sebagai pakan ternak karena proteinnya tinggi sampai 50 persen. Kalau di daerah lain, bahkan sudah ada yang buat rempeyek maggot,” ujar Rudi.

Tristan membuka diri bagi siapa saja yang ingin belajar budi daya maggot. Setelah pandemi berakhir, dia berencana membagikan pengalaman budi daya maggot kepada warga di sekitar tempat tinggalnya.

Selain itu, lele yang dibudidayakan di belakang rumahnya dari pakan maggot juga dibagi-bagikan kepada warga yang membutuhkan untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Lendir maggot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Mereka menamainya pucagot atau pupuk cair maggot. Bekas makanan maggot juga dijadikan pupuk yang dinamai kasgot atau bekas maggot.

Produk-produk dari budi daya maggot itu sudah dijual secara daring. Hasilnya dia kumpulkan untuk membeli parsel Lebaran yang dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. ”Alhamdulillah, bisa bantu 150 bingkisan dari hasil penjualan maggot sama uang saku sekolah yang tidak terpakai karena belajar dari rumah,” ujar Tristan.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=FOwU8-udFrQ

https://www.youtube.com/watch?v=xyV3_IG281A

https://www.youtube.com/watch?v=pzpzPzYoLGU

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore