
Nanang Purwono memilih jalan sunyi dengan menghidupkan kembali aksara jawa. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)
JawaPos.com — Aroma kopi mengambang dari kedai kecil di sudut lobi hotel Marriott, Surabaya Kamis (6/11/2025). Sore itu, derap lalu-lalang tamu dan suara koper beroda terdengar bergesekan dengan lantai marmer mengkilap. Di tengah keramaian yang biasa itu, seorang pria sederhana duduk tenang di sofa dekat jendela besar.
Ia mengenakan batik cokelat, celana hitam, dan sandal gunung yang terlihat sudah mengaspal ratusan kilometer. Tak ketinggalan, tas selempang tua dan ponsel yang tergantung di leher dengan tali kecil.
Tidak ada aura yang dibuat-buat. Tidak ada gaya intelektual yang dipertunjukkan.
Namun dari sorot matanya, terlihat seseorang yang membawa sesuatu yang berat, sesuatu yang tidak dijelaskan dengan volume suara, tetapi dengan ketenangan.
Dalam kesederhanaan itulah, Nanang Purwono (58) menjalankan sebuah perjuangan yang jarang terdengar, jarang disorot, dan jarang dipahami: menghidupkan kembali aksara Jawa sebagai bagian yang hidup dalam masyarakat Indonesia hari ini.
Bukan sebagai ornamen, bukan sebagai dekorasi, bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai bagian dari identitas, cara berpikir, dan tanda keberadaan bangsa ini dalam sejarah dunia.
Ketika banyak orang memperingati Hari Pahlawan dengan upacara, tabur bunga, atau pidato yang menggaungkan heroisme di masa lalu, Nanang memilih memperingatinya dengan cara yang jauh lebih pelan.
Ia menyebutnya jalan sunyi. Jalan perjuangan yang tidak ramai dan tidak bermusik, namun membutuhkan lebih banyak kesabaran dan ketangguhan batin.
“Perjuangan itu tidak harus gaduh,” katanya perlahan kepada wartawan JawaPos.com, Kamis (6/11/2025).
Bagi Nanang, perjuangan bukan hanya soal mengangkat senjata dan melawan penjajah.
Perjuangan di masa sekarang, menurutnya, adalah mempertahankan identitas di tengah dunia yang bergerak cepat dan tidak selalu memberi ruang untuk mengingat.
Ia percaya bahwa bangsa dapat runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kehilangan dirinya sendiri.
Implementasi Kongres Aksara Jawa I yang diinisasi oleh Nanang Purwono, Desember 2023. (Dok. Rajapatni.com)
Aksara Jawa, yang pernah menjadi bahasa visual kehidupan sosial dan intelektual orang Jawa selama ratusan tahun, kini perlahan menjauh dari keseharian.
Di sekolah, ia diajarkan sekadarnya. Di ruang publik, ia hampir tidak tampak. Masyarakat mengenalnya sebagai sesuatu yang tua, rumit, kuno, dan tidak relevan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022