Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Maret 2025 | 19.26 WIB

Turis dari Brunei-Malaysia Anggap Museum Khazanah Melayu di Sambas Pelengkap Puzzle Sejarah Asia Tenggara

Museum Khazanah Melayu di Kompleks Rumah tokoh Melayu Sambas. (DENNY HAMDANI/PONTIANAK POST) - Image

Museum Khazanah Melayu di Kompleks Rumah tokoh Melayu Sambas. (DENNY HAMDANI/PONTIANAK POST)

Di Museum Khazanah Melayu, ada Alquran tulisan tangan karya ulama dari Ketapang dan Madura, mushaf bertinta emas cetakan dari Madinah, serta keris berukir ayat suci. Terbuka untuk umum dan gratis, hanya perlu mengabari sang pemilik rumah sebelum berkunjung.

DENNY HAMDANI, Sambas

---

DENGAN sabar, Haji Subhan Nur menjelaskan asal-usul setiap koleksi kepada para tamu yang diundangnya buka bersama. Mulai Alquran, keris, sampai tombak.

Ada para legislator Komisi II DPRD Kalimantan Barat (Kalbar), para staf sekretariat, dan sejumlah jurnalis yang hadir sore itu. ”Ini adalah cara kami merawat warisan sambil merajut silaturahmi,” ucap ketua Majelis Adat Budaya Melayu Sambas, Kalbar, itu pada Kamis (13/3) pekan lalu.

Mengutip Pontianak Post, Museum Khazanah Melayu terletak di kompleks rumah Haji Subhan di Sambas, sekitar 230 km jauhnya dari Pontianak, ibu kota Kalbar. Koleksi museum tersebut mencerminkan napak tilas peradaban Melayu-Islam di Nusantara.

Di antaranya ada Alquran tulisan tangan karya ulama dari Ketapang, Kalbar, dan Madura, Jawa Timur. Juga, mushaf bertinta emas cetakan Madinah, Arab Saudi.

”Alquran ini bukan hanya bacaan, tapi saksi perjuangan para ulama menyebarkan ilmu,” ujarnya sambil menunjukkan halaman-halaman yang masih terjaga dengan baik.

Akar Sejarah

Kabupaten Sambas terletak di pantai barat paling utara Kalbar. Wilayahnya yang sekarang masih terkait dengan Kerajaan Sambas yang sudah ada sejak abad ke-13.

Tapi, awalnya belum bercorak Islam. Pada masa pra-Islam inilah Sambas disebut sejumlah sumber referensi pernah menjadi bagian dari Majapahit di masa kepemimpinan Hayam Wuruk.

Dalam karyanya, Kitab Negarakertagama, Mpu Prapanca menulis raja Sambas bergelar ”Nek”. Salah satunya bernama Nek Riuh. Adapun Kesultanan Sambas berdiri pada 1671.

Kesultanan Sambas juga terkait erat dengan Kesultanan Banjar dan Kesultanan Brunei Darussalam. Pengaruh Islam kesultanan Sambas itu bertahan sampai sekarang. Yang di antaranya bisa disimak napak tilasnya di Museum Khazanah Melayu di kediaman Haji Subhan.

Melayu etnis mayoritas di Sambas. Warga Melayu telah ratusan tahun menghuni wilayah pesisir dan tengah Sungai Sambas. Mereka juga telah mengalami asimilasi budaya dengan orang-orang Dayak pesisir.

Koleksi Senjata

Koleksi museum yang tak kalah memikat adalah senjata dari berbagai era. Ada pedang Inggris peninggalan masa kolonial, keris Bugis berukir ayat suci, hingga mandau Suku Dayak yang masih tajam.

”Senjata-senjata ini pernah menjadi alat perjuangan yang kini ’beristirahat’ sebagai pengingat akan keberanian leluhur,” papar Subhan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore