alexametrics

Tabloid Berbahasa Jawa, Gratis pun Belum Tentu Dibaca

25 Oktober 2020, 13:27:40 WIB

MERAWAT bahasa daerah bukan tugas enteng. Apalagi di dunia tersebut tak banyak ”menghasilkan” secara finansial. Namun, tetap ada orang-orang yang berbesar hati melestarikan bahasa daerah. Lewat radio, media massa, hingga tabloid gratis.

Di Jogja, misalnya, ada tabloid Jawacana yang disebarkan secara gratis. Tabloid berbahasa Jawa ini bisa menjadi ajang belajar bahasa daerah bagi para pendatang dan pelajar yang menuntut ilmu.

Mereka memang mau tak mau harus belajar bahasa lokal. Bukan hanya untuk komunikasi, melainkan juga untuk pembauran dengan masyarakat setempat.

Meski penuturnya banyak, medium berbahasa Jawa justru makin sedikit. Penulis yang menggunakan bahasa Jawa dalam karyanya juga berkurang. ”Kuantitas menurun, kualitas redaksional juga menurun. Gejala zamannya memang seperti itu,” kata Paksi Raras Alit, pemimpin redaksi Jawacana.

Paksi pun merespons ”gejala” itu dengan menerbitkan Jawacana. Bahasa Jawa di Jawacana mengikuti zaman. Istilah gaul maupun serapan dipertahankan, tidak di-translate. Bahasa ngoko –alias tingkatan paling kasar dalam bahasa Jawa– juga masuk. Gaul, lugas, dan akrab. Paksi mengistilahkannya: ngoko gaul.

Agar lebih luwes, konten pun diracik redaksi Jawacana yang 60 persen merupakan anak-anak muda. Artikel Tik Tok bersanding dengan kisah pewayangan. ”Kalau lihat di Djaka Lodang, banyak kata yang tidak familier di anak muda. Native, yang asli Jogja pun kadang susah memahami,” ucapnya. Tabloid bahasa Jawa nan gaul itu lantas didistribusikan ke SMP-SMA. Gratis. ”Kalau nggak dibikin gratis, emang ada yang mau beli?” tambah Paksi.

Jawacana juga mendorong pembacanya ikut aktif menulis. Kiriman sajak maupun cerita pendek diterima. Baik dalam bahasa Jawa halus, arekan, hingga ngapak. ”Yang paling banyak sementara ini, geguritan. Karena aturannya lebih longgar dan tidak harus panjang seperti penulisan cerita,” papar pria yang merupakan direktur Festival Kebudayaan Jogjakarta itu.

Jawacana dibentuk murni sebagai upaya pelestarian dan edukasi bahasa Jawa. Paksi sadar betul, merilis media berbahasa daerah bukan ”lahan basah”. Beruntung, usahanya tersebut disokong pemerintah setempat. ”Kalau nggak, ya bangkrut,” tegasnya.

Di Malang, ada Radio Senaputra FM sebagai media lokal yang tetap gigih menyajikan bahasa yang lahir di masa perjuangan kemerdekaan itu. Radio tersebut dikenal dengan siaran sepak bolanya dan banyak menggunakan bahasa Malangan di segmen-segmen siarannya.

Image Radio Senaputra pun lekat dengan radio berbahasa Malangan. ”Sebenarnya, kami nggak memosisikan diri seperti itu. Siaran kami bilingual, ya bahasa Indonesia campur Malangan juga,” kata Yuniarso Widodo, salah seorang penyiar Senaputra FM.

Tewe, sapaan Yuniarso, menyatakan ingin ”mengembalikan” bahasa Malangan lewat siaran. ”Banyak yang mikir, boso Malangan ya diwalik. Padahal, nggak asal semua kata dibalik,” imbuhnya. Menurut pria yang siaran sejak era 2000-an itu, bahasa Malangan kaya akan istilah. ”Pokoknya, kalau sudah bilang kata itu, otomatis ’oh, arek Malang iki’,” paparnya.

Selain itu, ada situs Malang Voice yang konsisten menggunakan bahasa Malangan. Selalu ada istilah Malang banget yang disisipkan di judul, badan berita, hingga penamaan rubrik. Mereka juga punya rubrik Paitun Gundul. Paitun adalah legenda di Malang pada era 1980-an. Dia adalah seorang dengan gangguan jiwa yang sering berkeliling ke kampung-kampung. Kepalanya botak.

Sosok itu jadi pusat cerita. Paitun Gundul menyajikan tulisan ringan yang isinya berupa satire dan kritik pada kebijakan pemerintah. Kemasannya, bahasa percakapan Malangan dengan celetukan kocak. Pemimpin Redaksi Malang Voice Deny Rahmawan menjelaskan, konten tersebut ditulis hanya oleh satu orang. Yakni, seniman Rudy Satrio Lelono, yang akrab dipanggil Sam Idur.

”Sejak awal, memang beliau yang mengusulkan dan menulis Paitun Gundul. Tidak ada yang menggantikan karena Paitun sudah khasnya Sam Idur,” lanjut Deny. Sayang, Sam Idur berpulang tahun lalu. Yang diunggah di web saat ini adalah stok tulisan yang belum pernah diunggah. Meski demikian, Deny menegaskan, rubrik berbahasa Malangan akan tetap dipertahankan.

Sementara itu, ex officio Dewan Kesenian Blambangan, Banyuwangi, dan GM Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi mengakui, posisi bahasa Osing nyaris sama dengan bahasa daerah lainnya. Kalah saing dengan bahasa yang lebih besar. Belum lagi, banyak penutur asli yang sudah berpulang.

KERJA KERAS: Ex. Officio Dewan Keseninan Blambangan Samsudin Adlawi mencermati bahasa Osing. (RAMADA KUSUMA/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)

”Tapi, kami masih bangga. Soalnya, sebagian besar masyarakat masih berkomunikasi dengan bahasa Osing. Anak mudanya juga nggak kaku pakai bahasa Osing,” kata Udi, sapaan akrab Samsudin Adlawi. Dari 25 kecamatan di Banyuwangi, sebanyak 15 di antaranya masih setia menggunakan bahasa Osing dalam percakapan sehari-hari. ”Dan ada satu desa, Desa Grajakan, yang seluruh penduduknya masih pakai bahasa Osing,” lanjutnya.

Sepintas, bahasa tersebut seakan mustahil punah. Banyak lagu Banyuwangian, yang populer hingga seantero negeri. Bahasa Osing juga menjadi muatan lokal di pelajar tingkat SD–SMA. TV dan radio lokal mendedikasikan segmen dengan bahasa lokal itu. Tiap tahun, pemerintah rajin menggelar kompetisi cipta lagu hingga storytelling dalam bahasa Osing. Yang jadi masalah, tak banyak materi tertulis dalam bahasa Osing.

Berkurangnya penutur bahasa daerah ikut dirasakan Jaya Baya, majalah mingguan berbahasa Jawa. Pembacanya didominasi kalangan berusia 60 tahun ke atas. ”Anak muda atau milenial jarang sekali minat membaca bahasa Jawa. Mereka beralasan tidak mengerti,” kata General Manager Jaya Baya K. Sudirman. Padahal, di sekolah, masih ada pelajaran bahasa daerah.

Kondisi itu membuat Jaya Baya merombak konten. Tujuannya, pembaca usia sekolah mau belajar memahami bahasa Jawa. Misalnya, lewat cerita romansa untuk remaja. Mereka juga didorong untuk mau menulis dalam bahasa Jawa lewat cerkak atau cerita cekak (cerita pendek). ”Ini rubriknya calon pengarang. Anak-anak boleh menulis apa adanya,” ucap penulis yang baru saja meluncurkan buku berjudul Memetri Budaya Jawa itu.

Dirman, sapaan K. Sudirman, pun menyambut baik melejitnya bahasa Jawa selama setahun terakhir lewat karya almarhum Didi Kempot. Antusiasme itu mencerminkan, anak muda masih tertarik dengan bahasa daerah. ”Kami sangat senang. Tinggal bagaimana menjaring mereka agar mau menggunakan, membaca, dan menulis dalam bahasa Jawa,” imbuhnya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fam/c13/dra

Alur Cerita Berita


Close Ads