
METODE BELAJAR VISUAL: Dokter Muhammad Kamil tidak hanya mengerjakan ilustrasi terkait bedah saraf, tetapi juga di luar bidang itu. (Dokumentasi Dokter Muhammad Kamil)
DALAM dunia medis, komunikasi visual memegang peran penting. Ilustrasi yang akurat dan informatif menjadi jembatan antara tenaga kesehatan dan pasien awam.
Hampir senada dengan dr Uti, ketertarikan pada seni visual membawa dr Muhammad Kamil menjadi satu dari sedikitnya ilustrator medis di Indonesia. ”Dari kecil suka anime dan menggambar, setelah masuk kedokteran saya menekuni ilustrasi secara otodidak,” cerita dr Muhammad Kamil PhD SpBS kepada Jawa Pos pada Kamis (26/12).
Semasa menjadi asisten dosen di Universitas Diponegoro Semarang, dr Kamil pun sering menyampaikan materi lewat ilustrasi dan skema. ”Sebab, menurut saya lebih mudah dipahami. Kebetulan metode belajar saya itu visual,” ungkapnya.
Bakatnya itu menyebar di kalangan kolega. Permintaan untuk membuat ilustrasi medis pun berdatangan. Baik untuk presentasi, buku, disertasi, maupun publikasi jurnal yang membutuhkan ilustrasi medis. ”Seringnya bikin ilustrasi di bidang saya, bedah saraf, mulai anatomi bedah sampai tindakan medis. Tapi, saya tidak menutup diri di luar bidang. Pernah bikin untuk pengobatan stem cell dan anatomi ginjal,” ujarnya.
Proses pembuatan ilustrasi medis dimulai dari riset dan pencarian referensi gambar. Basic dr Kamil menggambar sketsa. Dia membuat gambar raw-nya terlebih dahulu secara manual. Apabila tidak ada revisi dari klien, gambar diperbagus untuk kemudian didigitalisasi. ”Dari kertas, lalu di-scan. Baru nanti mewarnai dan editing-nya pakai digital,” sambung dokter bedah saraf di RS SMC Telogorejo Semarang itu.
Satu ilustrasi dihargai Rp 1–2 juta, bergantung kompleksitas gambar dan lama pengerjaan. Profesional medical illustrator yang sudah certified bisa lebih dari itu. Lantas, bagaimana jika ingin menjadi ilustrator medis? Di Indonesia belum ada pendidikan khusus untuk menjadi medical illustrator sebagaimana di luar negeri.
Mahasiswa kedokteran yang punya bakat dan minat menggambar bisa terus mengasah kemampuannya dan mulai menjalin networking. ”Kalau background-nya seni, saya rasa bisa saja, tapi perlu belajar lagi terkait medis. Saya berharap ke depan ada pengembangan sub-sub dari sekolah-sekolah medis yang bisa menghasilkan ilustrator medis profesional,” ungkap semiprofesional medical illustrator itu. (lai/c6/nor)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
