Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Desember 2018 | 20.05 WIB

Genggaman sang Istri Lepas saat Digulung Ombak 3 Menit

Widiono korban tsunami berada di sekitar jenazah korban tsunami di Pandeglang dikumpulkan di Puskesmas Carita, Minggu (23/12/2018). - Image

Widiono korban tsunami berada di sekitar jenazah korban tsunami di Pandeglang dikumpulkan di Puskesmas Carita, Minggu (23/12/2018).


Di Carita, Widiono bersama istri dan keempat anaknya digulung gelombang saat berusaha menjauh dari pantai. Di Cinangka, Ahmad dan kedua rekan diempas ombak bersama mobil yang mereka tumpangi. Sedangkan di Pulau Sangiang, Fahri selamat setelah berpegangan pada pohon kelapa.


JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Pandeglang


---


HAMPIR sekujur tubuh Widiono terluka seperti bekas sayatan. Wajahnya, dua tangannya, kakinya, juga perutnya.


Perban putih yang dibebatkan pada kepalanya pun dipenuhi bercak darah yang mulai mengering. Begitu pula kaki kirinya yang juga diperban.


Plastik kresek putih dibebatkan ke kaki itu agar tak terkena air.


"Mungkin patah kaki saya," ujar Widiono.


Widiono adalah salah seorang korban yang berhasil lolos dari maut akibat tsunami yang menerjang Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Sabtu malam (22/12). Tapi, tidak demikian sang istri, Ilham Suhartini.


Ilham menjadi salah seorang korban meninggal dunia bencana yang juga menghembalang Serang dan Lampung Selatan itu. Padahal, Widiono sudah berupaya menyelamatkan belahan jiwanya tersebut saat tiba-tiba datang ombak besar.


Itu ombak pertama sebelum ombak berikutnya yang menggulung Widiono, istri, dan empat anak mereka. Yakni Willy Erwan Mikrad, 19; Noni Ersa Mikrad, 18; Hawidya Nur Kholifah, 13; dan Jagad Setyo Abadi, 12.


Mereka berada di Carita untuk mengikuti family gathering bersama sejumlah kawan Widiono semasa SMP. Total ada sekitar 130 orang yang turut serta di acara tersebut. "Ma, ayuk (ayo) kabur yuk, Ma. Cabut," kata Widiono kepada istrinya setelah ombak tinggi pertama datang.


Mereka sempat menjauh dari pantai. Meninggalkan halaman penginapan tempat family gathering. "Tidak ada yang menyangka bakal ada tsunami. Semalam itu justru menurut saya cuacanya bagus. Bulan bagus, ndak ada angin, hujan pun tak ada," jelas Widiono.


Lalu datanglah ombak kedua yang lebih besar. Tingginya sekitar 2 meter. Ombak itulah yang menggulung Widiono bersama keluarga. Dia sudah tidak tahu apa yang terjadi dalam ombak yang hanya berlangsung tiga menit tersebut. Istrinya lepas dari genggamannya. "Saat itu saya hanya bisa berdoa. Ya Allah, berilah kami kekuatan. Itu posisi kaki kecepit kayu mungkin," ungkap dia.


Saat aliran ombak kembali ke laut, Widiono tahu empat anaknya selamat. Posisi mereka tak jauh dari tempatnya tergeletak. Yang tidak diketahui adalah nasib istrinya. "Saya bisa lolos, bisa naik ambil udara, bisa napas. Kalau telat lima menit mungkin ya sudah," katanya.


Di Pulau Sangiang, pulau kecil di Selat Sunda, Fahri, yang tengah berkemah bersama lima kawan, terbangun saat merasa ada yang mengganggu tidurnya. Dia tak tahu apa persisnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore