
Widiono korban tsunami berada di sekitar jenazah korban tsunami di Pandeglang dikumpulkan di Puskesmas Carita, Minggu (23/12/2018).
Di Carita, Widiono bersama istri dan keempat anaknya digulung gelombang saat berusaha menjauh dari pantai. Di Cinangka, Ahmad dan kedua rekan diempas ombak bersama mobil yang mereka tumpangi. Sedangkan di Pulau Sangiang, Fahri selamat setelah berpegangan pada pohon kelapa.
JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Pandeglang
---
HAMPIR sekujur tubuh Widiono terluka seperti bekas sayatan. Wajahnya, dua tangannya, kakinya, juga perutnya.
Perban putih yang dibebatkan pada kepalanya pun dipenuhi bercak darah yang mulai mengering. Begitu pula kaki kirinya yang juga diperban.
Plastik kresek putih dibebatkan ke kaki itu agar tak terkena air.
"Mungkin patah kaki saya," ujar Widiono.
Widiono adalah salah seorang korban yang berhasil lolos dari maut akibat tsunami yang menerjang Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Sabtu malam (22/12). Tapi, tidak demikian sang istri, Ilham Suhartini.
Ilham menjadi salah seorang korban meninggal dunia bencana yang juga menghembalang Serang dan Lampung Selatan itu. Padahal, Widiono sudah berupaya menyelamatkan belahan jiwanya tersebut saat tiba-tiba datang ombak besar.
Itu ombak pertama sebelum ombak berikutnya yang menggulung Widiono, istri, dan empat anak mereka. Yakni Willy Erwan Mikrad, 19; Noni Ersa Mikrad, 18; Hawidya Nur Kholifah, 13; dan Jagad Setyo Abadi, 12.
Mereka berada di Carita untuk mengikuti family gathering bersama sejumlah kawan Widiono semasa SMP. Total ada sekitar 130 orang yang turut serta di acara tersebut. "Ma, ayuk (ayo) kabur yuk, Ma. Cabut," kata Widiono kepada istrinya setelah ombak tinggi pertama datang.
Mereka sempat menjauh dari pantai. Meninggalkan halaman penginapan tempat family gathering. "Tidak ada yang menyangka bakal ada tsunami. Semalam itu justru menurut saya cuacanya bagus. Bulan bagus, ndak ada angin, hujan pun tak ada," jelas Widiono.
Lalu datanglah ombak kedua yang lebih besar. Tingginya sekitar 2 meter. Ombak itulah yang menggulung Widiono bersama keluarga. Dia sudah tidak tahu apa yang terjadi dalam ombak yang hanya berlangsung tiga menit tersebut. Istrinya lepas dari genggamannya. "Saat itu saya hanya bisa berdoa. Ya Allah, berilah kami kekuatan. Itu posisi kaki kecepit kayu mungkin," ungkap dia.
Saat aliran ombak kembali ke laut, Widiono tahu empat anaknya selamat. Posisi mereka tak jauh dari tempatnya tergeletak. Yang tidak diketahui adalah nasib istrinya. "Saya bisa lolos, bisa naik ambil udara, bisa napas. Kalau telat lima menit mungkin ya sudah," katanya.
Di Pulau Sangiang, pulau kecil di Selat Sunda, Fahri, yang tengah berkemah bersama lima kawan, terbangun saat merasa ada yang mengganggu tidurnya. Dia tak tahu apa persisnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Prediksi Skor Vietnam vs Malaysia Leg 2 Semifinal AFF 2026: The Golden Star Warriors Menuju Final!
Profil Putri Juficha, Miss Earth Indonesia 2025 yang Meninggal di Usia Muda
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Ada Andik Vermansah Hingga Leo Lelis, 6 Mantan Pemain Persebaya Memperkuat Tim Promosi
Prediksi Skor Thailand vs Singapura: Gajah Perang Selangkah Lagi ke Final Piala AFF 2026!
Prediksi Skor Slovan Bratislava vs Celje di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
