
SIAP BERANGKAT: Dari kiri, Kepala SMAN 6 Surabaya Mamik Pujowati, Audre Rizki, Vania Winola Febriyanti, Raia Luthfia Herasmana, dan guru pendamping Dian Ariani pada Jumat (10/11) lalu.
Siswa SMA Negeri 6 Surabaya terpilih sebagai delegasi pada perhelatan Decarbonize. Tiga pelajar perempuan bakal mewakili Asia serta Indonesia pada acara yang digelar United Nation Climate Change (UNCC) itu.
RAMADHONI CAHYA C. Surabaya
PADA Desember mendatang, tiga murid SMA Negeri 6 Surabaya terbang ke Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka akan mengikuti acara Decarbonize yang digelar United Nation Climate Change (UNCC). Acara yang menyoroti perubahan lingkungan itu bakal berlangsung dua pekan sejak Jumat (1/12).
Tiga murid tersebut adalah Vania Winola Febriyanti, Raia Luthfia Herasmana, serta Audre Rizki. Mereka terpilih sebagai peserta diskusi panel (panelis) pada perhelatan itu. Vania menjadi perwakilan panelis dari lingkup Asia. Dua rekannya, yakni Raia dan Audre, menjadi panelis yang berfokus pada masalah lingkungan di Indonesia.
’’Decarbonize itu program berbasis sekolah multibahasa terbesar di dunia yang bertujuan untuk pendidikan, advokasi, seni, dan aksi perubahan iklim,” kata Vania Jumat (10/11) lalu.
Acara itu diikuti perwakilan dari 6 benua, 75 negara, dan 100-an sekolah. Mereka pun patut berbangga bisa menjadi perwakilan Asia asal Indonesia.
Decarbonize bertujuan menyatukan suara dan pengalaman anak-anak usia 5–18 tahun. Terutama terhadap perubahan iklim untuk meningkatkan empati, pengambilan perspektif dan rasa memiliki, serta tindakan nyata.
’’Memastikan keterlibatan dan pemberdayaan generasi muda di sektor lingkungan,” jelasnya.
Hasil konferensi itu bakal menelurkan manifesto global. Yakni, seruan atau ajakan bagi pemangku kepentingan akan perubahan iklim di seluruh negara.
Dengan begitu, dapat memberikan langkah maju yang nyata. Baik melalui tindakan maupun kebijakan baru di setiap negara. Tak terkecuali bagi Vania, Raia, dan Audre yang bakal berbicara isu lingkungan di Indonesia dan Asia.
’’Misal, di Indonesia itu polusi udara cukup tinggi. Yang ternyata penyebab utamanya bukan dari kendaraan, melainkan pabrik dan pembangkit listrik tenaga uap,” paparnya.
Riset kondisi lingkungan itu dilakukan melalui beragam sumber. Baik buku, jurnal terverifikasi, maupun pemberitaan media berbasis data. Riset tersebut tidak mudah dan berlangsung sejak awal September.
Raia mengatakan, awal mula mendaftar merupakan inisiasi pihaknya yang ternyata mendapat dukungan dari sekolah. ’’Dari 100-an orang yang mengikuti Zoom awal, hanya ada 40 orang yang tersisa,” terang dia.
Mereka pun optimistis mampu memaparkan dengan baik. Terlebih, mereka telah melakukan berbagai persiapan. Bahkan, tugas esai awal yang terbilang paling susah berhasil diatasi.
Yakni, mengenai 10 rancangan dan tantangan perubahan iklim di masa mendatang. Mulai pemanasan global, upaya penurunan suhu, hingga polusi udara. ’’Tidak tahu ada juara atau tidak, kami menargetkan kontribusi ini membawa dampak positif,” lanjut Audre.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
